Tidur retak
-(Minggu, 19 Juli 2026)-
Jangan-jangan, selama ini ada satu hal sederhana yang ikut membuat banyak lelaki dewasa tidak benar-benar sehat: tidur.
Sekilas terdengar sepele. Namun bayangkan situasi yang mungkin pernah dialami banyak orang. Tengah malam terbangun, lalu mata tak juga bisa terpejam kembali. Tubuh masih berada di atas kasur, tetapi pikiran sudah berjalan ke mana-mana.
Di situlah sebenarnya masalah dimulai. Bukan semata karena durasi tidur menjadi berkurang, melainkan karena kualitas istirahat ikut retak. Padahal, pagi harinya tubuh tetap dituntut bekerja, berpikir, menyelesaikan tanggung jawab, dan mengeluarkan energi seperti biasa. Lambat laun, pola seperti ini tentu akan memengaruhi kondisi fisik maupun kesehatan secara keseluruhan.
Lalu mengapa setelah terbangun di tengah malam kita justru sulit tidur lagi? Mungkin jawabannya berbeda pada setiap orang. Ada yang langsung meraih ponsel lalu tenggelam dalam media sosial. Ada yang tiba-tiba teringat pekerjaan yang belum selesai. Ada yang memikirkan masalah hidup, mengingat percakapan tertentu, atau bahkan masih dibayangi mimpi buruk yang baru saja dialami.
Apa pun pemicunya, akar persoalannya sering kali sama: pikiran yang mendadak menjadi terlalu aktif.
Pikiran itu seperti mesin yang mendadak hidup ketika seharusnya beristirahat. Satu pikiran memancing pikiran lain, lalu bercabang ke mana-mana tanpa arah. Semakin berusaha menghentikannya, justru semakin banyak hal yang muncul. Akibatnya, tubuh lelah tetapi kepala tetap terjaga.
Celakanya, banyak orang kemudian memilih jalan yang tampak mudah: mengambil ponsel. Awalnya hanya ingin melihat jam atau membuka satu video. Namun tanpa terasa, beberapa menit berubah menjadi satu jam. Media sosial, YouTube, atau berbagai notifikasi membuat otak semakin aktif. Tahu-tahu azan Subuh hampir berkumandang, sementara tidur belum juga datang. Keesokan harinya, tubuh harus membayar utang istirahat itu.
Mungkin karena itulah, kebiasaan pertama yang perlu dijaga justru sangat sederhana: jangan beri jeda bagi tangan untuk mencari gadget ketika terbangun. Beri kesempatan tubuh melanjutkan pekerjaannya, yaitu beristirahat.
Kalaupun pikiran mulai bergerak liar, saya mencoba mengembalikannya pada sesuatu yang paling dekat, yaitu napas. Menarik napas perlahan, mengembuskannya pelan-pelan, lalu membiarkan perhatian mengikuti ritmenya. Memang tidak selalu berhasil. Sering kali, ketika kita berusaha fokus, pikiran lain tetap datang. Namun setidaknya napas memberi jangkar agar pikiran tidak terus hanyut.
Ada cara lain yang mungkin lebih cocok bagi sebagian orang, misalnya bangun sejenak untuk sholat malam atau berdoa. Bukan semata-mata agar rasa kantuk datang kembali, melainkan agar hati lebih tenang. Sebab sering kali yang membuat kita tetap terjaga bukanlah mata yang enggan terpejam, melainkan pikiran yang belum selesai berdamai dengan dirinya sendiri.
Barangkali tidur memang bukan sekadar urusan memejamkan mata. Tidur adalah kemampuan untuk melepaskan beban, walau hanya beberapa jam. Dan mungkin, kesehatan seorang lelaki tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras ia bekerja pada siang hari, tetapi juga oleh seberapa damai pikirannya ketika malam tiba.