Gowes nambo
-(Senin, 20 Juli 2026)-
Hari libur selalu menjadi waktu yang paling saya tunggu. Pada hari seperti itulah saya bisa bersepeda tanpa dibatasi jam kerja. Karena itu, saya sudah merencanakan satu tujuan yang sejak beberapa waktu lalu belum sempat kami datangi: Pantai Nambo.
Meski berangkat dengan tujuan yang jelas, saya tidak pernah terlalu kaku pada rencana. Pengalaman mengajarkan bahwa perjalanan sering kali menjadi lebih menarik justru ketika memberi ruang bagi kemungkinan-kemungkinan yang tidak direncanakan.
Saya sudah memiliki gambaran letak Pantai Nambo. Saya pernah melihatnya di Google Maps dan mendapat petunjuk kasar mengenai arahnya. Namun, saya belum benar-benar mengenal detail jalurnya. Pagi itu saya memutuskan berangkat hanya dengan bekal pengetahuan yang samar itu.
Selepas melewati Jembatan Teluk, saya terus mengayuh hingga tiba di sebuah jembatan yang dihiasi tulisan besar nama kota. Saya berhenti sejenak untuk beristirahat. Dari sana, teluk terbentang tenang. Air laut memantulkan cahaya pagi, sementara beberapa perahu nelayan tampak diam seolah masih menikmati sisa waktu sebelum kembali melaut. Dari titik itu pula Jembatan Teluk terlihat utuh, menghubungkan dua daratan yang mengapit teluk.
Di dekat tempat saya berhenti, saya menemukan sebuah rambu penunjuk arah. Salah satu panah mengarah ke Pantai Nambo. Rasanya cukup melegakan karena saya tidak perlu lagi menebak-nebak arah, setidaknya untuk beberapa kilometer berikutnya.
Saya kembali mengayuh sepeda lipat kecil saya. Lajunya tentu tidak bisa secepat road bike, tetapi justru di situlah kenikmatannya. Kayuhan yang pelan membuat saya lebih leluasa menikmati jalan, memperhatikan perubahan pemandangan, sekaligus menerima kenyataan bahwa kaki yang semakin menua memang tak lagi mengejar kecepatan, melainkan pengalaman.
Sesampainya di sebuah persimpangan, saya kembali berhenti. Kali ini tidak ada lagi penunjuk arah menuju pantai.
Sebenarnya saya bisa saja membuka Google Maps. Namun, entah mengapa saya memilih tidak melakukannya. Mungkin saya sedang ingin menguji insting sendiri. Saya mencoba berpikir sederhana: pantai selalu berada di tepi laut. Maka, jalan yang semakin masuk ke pedalaman rasanya kecil kemungkinan mengarah ke sana. Dengan logika itu, saya memilih jalur yang menurut perkiraan tetap mengikuti garis pantai.
Saya kembali mengayuh. Beberapa tanjakan harus saya lalui, termasuk tanjakan di Jembatan Teluk yang sebelumnya sudah menguras tenaga. Di sanalah saya benar-benar merasakan arti memilih gigi yang tepat. Saya menurunkan gear belakang ke posisi paling ringan agar kayuhan tetap bisa berputar. Saat itulah saya teringat pada para pesepeda yang pernah saya jumpai ketika menuruni Tawangmangu. Dari arah berlawanan mereka mendaki dengan wajah tegang dan napas berat. Dulu saya hanya melihat perjuangan mereka dari kejauhan. Kini saya merasakan sendiri bahwa setiap tanjakan memang menuntut kerendahan hati. Kekuatan saja tidak cukup; kita juga harus tahu kapan mengurangi beban agar tetap bisa bergerak maju.
Pilihan saya ternyata tidak keliru. Tak lama kemudian, Pantai Nambo benar-benar muncul di hadapan saya.
Hari masih pagi. Petugas loket sudah berjaga, tetapi saya tidak diminta berhenti untuk membeli tiket. Mungkin karena saya hanya datang dengan sepeda. Saya pun terus mengayuh hingga sedekat mungkin ke garis pantai.
Akhirnya saya duduk di sebuah gazebo, membiarkan tubuh beristirahat setelah perjalanan yang tidak tergesa-gesa. Ombak datang dan pergi tanpa terburu-buru, seolah mengingatkan bahwa tidak semua tujuan harus dicapai dengan jalan yang paling pasti. Kadang-kadang, sedikit keberanian untuk mempercayai insting justru membuat perjalanan terasa lebih utuh daripada sekadar mengikuti petunjuk di layar.