Angkot sepi
-(Rabu, 22 Juli 2026)-
Hari itu saya naik angkot. Ini salah satu kebiasaan yang sesekali saya lakukan pada akhir pekan ketika hendak menuju sebuah mal. Biasanya, jika ada film yang menarik di bioskop, saya memilih datang ke sana. Ketika tulisan ini terbit, mungkin Anda sudah bisa menebak film apa yang saya tonton.
Namun tulisan ini bukan tentang film itu. Justru perjalanan menuju bioskop itulah yang terasa lebih membekas, terutama percakapan singkat di dalam angkot.
Saya berdiri di tepi jalan sebelum masuk waktu Zuhur. Rencananya saya akan salat di musala mal. Tak lama kemudian sebuah angkot berhenti di depan saya. Di tengah menjamurnya transportasi online, angkot di kota ini rupanya masih bertahan. Bagi sebagian orang, ia tetap menjadi pilihan karena ongkosnya murah, tentu selama tujuan kita berada di jalurnya. Menariknya, sopir angkot di kota ini kadang bersedia mengantar penumpang hingga ke lokasi tujuan selama tidak terlalu jauh dari rute. Dalam hal tertentu, angkot terasa memiliki fleksibilitas seperti taksi.
Saya memilih duduk di kursi depan. Penumpang di belakang hanya satu atau dua orang. Sopir beberapa kali melongok ke jalan, berharap ada orang yang melambaikan tangan untuk menumpang. Namun hingga tiba di pasar sentral dan sempat berhenti beberapa saat, hanya satu penumpang tambahan yang naik.
Sebelum sampai di pasar, saya sudah mendengar ia menggerutu pelan, "Mana ini orang-orang?" Keluhan itu terdengar bukan sebagai kemarahan, melainkan kegelisahan seseorang yang menggantungkan penghasilan dari setiap penumpang yang naik.
Perjalanan berlanjut. Saya sempat terkejut ketika angkot berbelok ke jalan yang tidak biasa dilaluinya. Baru kemudian saya teringat bahwa sopir angkot di kota ini memang kerap mengantar penumpang sedikit keluar jalur jika lokasinya masih berdekatan. Untuk memastikan, saya bertanya apakah angkot ini tetap melewati mal tujuan saya. Ia hanya mengangguk. Saya pun kembali tenang.
Setelah mengantar seorang penumpang ke tempat tujuannya, sopir itu mulai bercerita. Dari kampus menuju kota lama, katanya, ia hanya membawa tiga penumpang. Dalam perjalanan pulang pun jumlahnya sama. "Sejak ada transportasi online, penumpang makin sepi," ujarnya.
Sebenarnya, bahkan sebelum ia mengatakannya, saya sudah lebih dulu merasakan hal itu. Sejak angkot berhenti cukup lama di pasar tanpa banyak penumpang yang naik, saya diam-diam ikut berharap semoga ada orang yang menumpang. Bukan karena saya terburu-buru ingin perjalanan segera berlanjut, tetapi karena saya membayangkan bagaimana rasanya bekerja seharian dengan pemasukan yang bergantung pada kursi-kursi yang terisi.
Harapan itu terkabul ketika angkot berhenti lagi di depan kawasan tugu religi. Seorang penumpang naik. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya satu penumpang. Bagi sopir angkot, bisa jadi itu berarti tambahan rezeki hari itu.
Suasana di dalam angkot kemudian berubah lebih cair. Sopir mulai bercerita tentang rombongan yang baru saja ia antar dari sebuah acara kerukunan daerah. Ia bertanya mengapa mereka pulang lebih cepat. Menurut cerita yang ia dengar, acara hanya diisi sambutan demi sambutan, sementara konsumsi yang ditunggu-tunggu belum juga dibagikan.
Ketika penumpang yang baru naik ternyata juga berasal dari acara yang sama, sopir kembali bertanya, "Sudah makan?" Orang itu tersenyum tipis lalu menjawab, "Yang makan cuma yang bawa makanan. Kami yang lain belum."
Saya tentu tidak tahu bagaimana kenyataan yang sebenarnya. Mungkin memang belum waktunya konsumsi dibagikan. Mungkin pula panitia memiliki pertimbangannya sendiri. Saya hanya mendengar percakapan itu sebagaimana adanya. Namun percakapan sederhana tersebut menunjukkan satu hal: bagi sebagian orang, hal-hal yang tampak sepele sering kali menjadi sesuatu yang benar-benar dinanti.
Sopir itu beberapa kali mengulang cerita yang sama. Saya tidak tahu apakah ia sedang berkelakar, menyindir, atau sekadar mencari teman berbincang agar perjalanan terasa lebih ringan. Tetapi saya menangkap sesuatu yang lain. Di balik candanya, ada kelelahan yang berusaha disembunyikan. Ada kegelisahan tentang penghasilan yang tak lagi seramai dulu.
Akhirnya saya tiba di mal tujuan. Waktu tempuh hari itu memang lebih lama dari biasanya. Namun saya merasa mendapatkan sesuatu yang tidak saya peroleh dari film mana pun: sepotong pelajaran tentang kehidupan.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk melihat perubahan dari sisi kemudahan sebagai pengguna. Transportasi online memang membuat perjalanan menjadi lebih praktis. Namun di sisi lain, ada orang-orang yang harus berjuang lebih keras karena perubahan itu. Setiap kemajuan hampir selalu membawa konsekuensi bagi mereka yang hidupnya bergantung pada cara lama.
Mungkin karena itulah sesekali kita perlu naik angkot, duduk diam, lalu mendengarkan cerita orang-orang yang mengemudikannya. Dari percakapan yang sederhana, kita bisa melihat wajah kehidupan yang sesungguhnya—kehidupan yang sering luput dari laporan resmi, statistik, atau pidato-pidato. Di sanalah denyut keseharian rakyat terasa paling nyata.
Dan barangkali, siapa pun yang kelak menjadi pemimpin, sesekali perlu melakukan perjalanan semacam ini. Sebab kebutuhan rakyat tidak selalu terdengar dari ruang rapat. Sering kali ia justru terdengar dari kursi depan sebuah angkot yang melaju perlahan di jalanan kota.