Iri hati

-(Minggu, 30 Agustus 2026)- 

Ada satu kalimat dalam Mahabharata yang terasa sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin dalam: “Kebaikan hati orang yang sukses, tidak akan menghentikan iri hati orang lain.” Kalimat yang dikaitkan dengan Guru Drona itu seperti mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering sulit diterima: tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan tidak semua keberhasilan akan disambut dengan kegembiraan oleh orang lain.

Saya kira, ini salah satu bagian paling melelahkan dari perjalanan hidup.

Ketika seseorang mulai berhasil, kita sering mengira lingkungan di sekitarnya akan ikut bahagia. Bukankah keberhasilan itu seharusnya menjadi kabar baik? Bukankah ketika seorang teman mendapatkan jabatan, rezeki, penghargaan, atau kesempatan yang lebih baik, kita semestinya ikut bangga?

Ternyata tidak selalu.

Ada orang yang mampu tersenyum ketika melihat keberhasilan orang lain. Ada pula yang tersenyum, tetapi diam-diam merasa terusik. Perbedaannya sering kali tidak terlihat dari wajah. Yang satu benar-benar bahagia, yang lain mungkin sedang menghitung: mengapa dia, bukan saya?

Di situlah iri hati bekerja. Ia tidak selalu datang dalam bentuk kebencian yang terang-terangan. Kadang ia bersembunyi di balik candaan, komentar sinis, keraguan, atau kalimat yang terdengar seperti nasihat. “Ah, dia beruntung saja.” “Kalau saya punya kesempatan yang sama, saya juga bisa.” “Sebenarnya tidak sehebat itu.”

Iri hati sering kali tidak menyerang keberhasilan seseorang secara langsung. Ia berusaha mengecilkan makna keberhasilan itu.

Menariknya, kebaikan hati pun belum tentu menjadi penawarnya.

Kita mungkin sudah berusaha bersikap baik. Tidak menyombongkan pencapaian. Tidak merendahkan orang lain. Bahkan ketika sudah berada pada posisi yang lebih tinggi, kita masih berusaha merangkul mereka yang dulu berjalan bersama kita. Kita membantu ketika mampu, berbagi kesempatan, memberikan ruang, dan sebisa mungkin tidak membuat orang lain merasa tertinggal.

Namun tetap saja, mungkin ada yang iri.

Pada titik tertentu kita perlu memahami bahwa kebaikan bukanlah alat untuk mengendalikan perasaan orang lain. Kita bisa mengatur sikap kita, tetapi tidak bisa mengatur bagaimana orang lain menafsirkan keberhasilan kita.

Ini pelajaran yang penting.

Sebab kadang-kadang kita terlalu sibuk mencari kesalahan dalam diri sendiri hanya karena ada orang yang tidak menyukai keberhasilan kita. Kita mulai bertanya: Apakah saya terlalu menonjol? Apakah saya terlalu banyak bercerita? Apakah saya membuat orang lain merasa rendah? Apakah seharusnya saya menyembunyikan pencapaian agar tidak menimbulkan kecemburuan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa berguna jika memang membuat kita lebih rendah hati. Tetapi jangan sampai membuat kita merasa bersalah hanya karena hidup kita berjalan baik.

Ada perbedaan antara rendah hati dan mengecilkan diri.

Rendah hati berarti menyadari bahwa keberhasilan kita bukan semata-mata hasil kemampuan sendiri. Ada kerja keras, tetapi ada juga kesempatan, dukungan orang lain, keadaan yang mendukung, bahkan keberuntungan yang tidak selalu bisa kita kendalikan. Kesadaran semacam itu membuat seseorang tidak mudah memandang rendah orang lain.

Sementara mengecilkan diri adalah ketika kita merasa harus menyembunyikan cahaya hanya agar orang lain tidak silau.

Padahal, hidup bukan perlombaan untuk membuat semua orang nyaman dengan keberhasilan kita.

Saya teringat pada perjalanan seseorang yang perlahan naik dalam kehidupan. Ketika masih berada di bawah, ia mudah mendapatkan simpati. Orang-orang senang melihatnya berjuang. Ketika mulai berhasil, pujian berdatangan. Tetapi ketika keberhasilannya semakin terlihat, sebagian pujian perlahan berubah menjadi perbandingan.

Dulu ia dianggap inspiratif. Sekarang ia dianggap beruntung.

Dulu keberhasilannya menjadi kebanggaan bersama. Sekarang keberhasilannya menjadi ukuran bagi kegagalan orang lain.

Di sinilah kita melihat bahwa persoalannya sering bukan pada orang yang berhasil, melainkan pada cara seseorang memandang keberhasilan orang lain.

Keberhasilan orang lain seharusnya tidak otomatis menjadi ancaman terhadap harga diri kita.

Tetapi kenyataannya, manusia sering mengukur dirinya melalui orang lain. Kita melihat teman membeli rumah, lalu merasa hidup kita tertinggal. Melihat rekan mendapatkan jabatan, kita merasa karier kita mandek. Melihat seseorang mendapatkan penghargaan, kita mulai mempertanyakan mengapa nama kita tidak disebut.

Padahal setiap orang mempunyai garis waktu yang berbeda.

Ada yang berlari lebih cepat. Ada yang berjalan pelan. Ada yang harus berhenti cukup lama untuk mengumpulkan tenaga. Ada pula yang jalannya berliku karena sejak awal memang membawa beban yang berbeda.

Membandingkan perjalanan hidup dengan perjalanan orang lain adalah salah satu cara paling mudah untuk kehilangan rasa syukur.

Namun, memahami iri hati bukan berarti kita boleh bersikap masa bodoh terhadap orang lain. Ada tanggung jawab moral dalam keberhasilan. Semakin tinggi seseorang berada, semakin penting baginya menjaga cara bersikap.

Jangan menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk merendahkan.

Jangan menggunakan jabatan untuk menunjukkan bahwa kita lebih penting.

Jangan memamerkan apa yang sebenarnya tidak perlu dipamerkan.

Sebab meskipun iri hati orang lain bukan sepenuhnya tanggung jawab kita, kesombongan kita tetap merupakan tanggung jawab kita sendiri.

Karena itu, barangkali sikap terbaik bukan berusaha menghilangkan iri hati orang lain, melainkan memastikan bahwa kita tidak memberi alasan yang tidak perlu bagi kesombongan kita sendiri.

Tetap bekerja dengan baik. Tetap berbuat baik. Tetap berbagi ketika mampu. Tetap menghargai orang-orang yang pernah berjalan bersama kita. Tetapi jangan menggantungkan ketenangan hidup pada penerimaan semua orang.

Sebab bahkan ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tetap akan ada orang yang tidak senang melihat kita berhasil.

Dan itu tidak selalu berarti kita melakukan sesuatu yang salah.

Ada kalanya seseorang tidak nyaman bukan karena kita menyakitinya, melainkan karena keberhasilan kita tanpa sengaja menjadi cermin yang memperlihatkan apa yang belum ia capai dalam hidupnya.

Cermin memang tidak pernah salah hanya karena orang yang bercermin tidak menyukai bayangannya.

Maka, ketika suatu hari keberhasilan datang, mungkin yang perlu kita lakukan bukan sibuk menghitung siapa yang iri. Kita juga tidak perlu membalas sindiran dengan sindiran, atau menjelaskan pencapaian kepada mereka yang memang tidak ingin memahami.

Cukup jaga hati.

Sebab keberhasilan yang paling berharga bukan hanya ketika kita mampu mencapai sesuatu, melainkan ketika pencapaian itu tidak membuat kita kehilangan diri sendiri.

Pada akhirnya, kita tidak bisa memaksa semua orang ikut bahagia atas kebahagiaan kita. Kita juga tidak bisa membuat semua orang bangga atas keberhasilan kita. Bahkan kebaikan hati pun memiliki batas: ia dapat menjadi alasan bagi kita untuk tetap menjadi manusia yang baik, tetapi tidak selalu mampu mengubah hati orang lain.

Mungkin itulah pesan paling sederhana dari kalimat Guru Drona tersebut.

Kita tidak bertanggung jawab atas iri hati orang lain. Kita bertanggung jawab atas bagaimana kita bersikap ketika berhasil.

Jika suatu hari kita berada di tempat yang lebih tinggi, jangan lupa melihat ke bawah bukan untuk merasa lebih tinggi, melainkan untuk mengingat dari mana kita berasal.

Sebab yang membuat seseorang benar-benar besar bukanlah seberapa tinggi ia berdiri, tetapi seberapa kecil egonya ketika berada di sana.

Dan jika masih ada yang iri, biarkan saja.

Tidak semua iri hati harus dijawab. Sebagian cukup dilalui dengan tetap bekerja, tetap rendah hati, dan tetap menjadi baik.

Karena pada akhirnya, hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan berusaha meyakinkan semua orang agar menyukai kita.

Populer

Mutasi pulang?

Lelaki Harimau

Jejak program

Tasyakuran haji

Sarangan - Cemoro Sewu - Tawangmangu

Gerimis pergi

Konflik supremasi

ASN AI

Sangu halal bihalal

Kesadaran