Kabut asap

-(Kamis, 27 Agustus 2026)-

Sebagai orang yang pernah menetap beberapa tahun di pedalaman Kalimantan Selatan, saya ikut prihatin setiap kali mendengar kabar tentang kebakaran lahan dan kabut asap di Banua. Ada perasaan yang sulit saya jelaskan ketika membayangkan masyarakat yang pernah saya kenal harus kembali berhadapan dengan udara yang tidak lagi sepenuhnya menjadi milik mereka sendiri.

Saya tahu sedikit banyak seperti apa wajah lahan gambut setelah terbakar. Saya pernah melewati jalan yang membelah kawasan dengan bekas-bekas kebakaran. Tanah dan pepohonan menghitam, menyisakan pemandangan seperti sesuatu yang baru saja kehilangan kehidupan. Yang lebih mengerikan, api di lahan gambut tidak selalu benar-benar mati ketika nyala di permukaan sudah padam. Ia bisa bersembunyi di bawah tanah, membara perlahan, lalu kembali mengeluarkan asap.

Karena itu, kabut asap bagi saya bukan sekadar berita yang muncul di layar televisi atau media sosial. Saya bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di tengah udara yang berbau asap, bagaimana jarak pandang menjadi pendek, bagaimana aktivitas terganggu, dan bagaimana orang tua mulai khawatir membawa anak-anak keluar rumah. Sekolah, pekerjaan, perjalanan, bahkan sekadar membuka jendela rumah pun bisa menjadi sesuatu yang harus dipikirkan ulang.

Pagi itu, seorang teman yang tinggal di Banjarbaru saya hubungi. Ia mengabarkan bahwa sekitar pukul delapan pagi, kabut terlihat. Entah seberapa tebal dan apa persis penyebabnya, tetapi kabar sederhana itu cukup membuat saya kembali teringat pada pengalaman bertahun-tahun lalu.

Lalu pertanyaan yang selalu muncul adalah: siapa yang harus disalahkan?

Jawabannya tentu tidak sederhana.

Kebakaran lahan bisa terjadi karena pembukaan lahan dengan cara membakar. Itu bukan sesuatu yang baru. Tetapi ada pula kemungkinan lain: kondisi cuaca yang sangat panas dan kering, api yang tidak sengaja menjalar, puntung rokok yang dibuang sembarangan, atau kelalaian manusia dalam berbagai bentuknya. Dalam situasi tertentu, satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi bencana besar ketika berhadapan dengan lahan yang mudah terbakar.

Karena itu, saya kira kita perlu berhati-hati untuk tidak buru-buru menunjuk satu penyebab sebelum fakta diketahui. Apalagi fenomena iklim seperti El Nino dapat meningkatkan suhu dan memperpanjang kondisi kering sehingga risiko kebakaran menjadi lebih besar. Tetapi kondisi alam tidak semestinya menjadi alasan untuk menghapus tanggung jawab manusia. Cuaca boleh memperbesar api, tetapi kelalaian manusia sering kali menjadi pintu masuknya.

Di sinilah pemerintah seharusnya hadir.

Bukan hanya ketika asap sudah memenuhi udara dan masyarakat mulai mengeluh sesak, tetapi jauh sebelumnya. Pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, pengelolaan lahan gambut, hingga kesiapsiagaan menghadapi musim kering mestinya menjadi pekerjaan yang dilakukan sebelum kebakaran terjadi. Pemerintah tidak boleh sekadar menjadi pemadam ketika api sudah membesar. Negara seharusnya hadir sebagai penjaga agar api tidak memiliki kesempatan untuk menjadi bencana.

Namun, saya juga sering bertanya-tanya tentang masyarakat Banua sendiri.

Masyarakat Kalimantan Selatan yang saya kenal adalah masyarakat yang religius, akrab dengan tradisi keagamaan, dan dalam banyak hal memiliki sikap hidup yang sangat menerima. Ada semacam budaya untuk bersabar, mengalah, dan menerima keadaan. Saya menghormati sikap itu. Tetapi dalam menghadapi persoalan lingkungan, kesabaran tidak boleh berubah menjadi kepasrahan.

Sebab ada perbedaan antara menerima takdir dan menerima ketidakadilan.

Kalau hujan turun, kita menerimanya sebagai bagian dari alam. Kalau musim kemarau datang, kita menyesuaikan diri. Tetapi jika udara menjadi kotor karena ada manusia yang sengaja membakar lahan, atau karena ada kelalaian yang sebenarnya dapat dicegah, apakah masyarakat juga harus menerimanya sebagai nasib?

Saya rasa tidak.

Yang membuat saya semakin sulit memahami keadaan ini adalah paradoks yang terasa begitu kuat. Banua dikenal sebagai tanah yang religius. Tradisi keagamaan hidup dengan sangat kuat. Ada haul Guru Sekumpul yang setiap penyelenggaraannya mampu memperlihatkan betapa dalamnya kecintaan dan penghormatan masyarakat kepada ulama. Jutaan orang datang, berkumpul, berdoa, dan menunjukkan bahwa agama bukan sekadar identitas, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Tetapi pada saat yang sama, alam tempat mereka hidup terus menghadapi tekanan.

Di titik ini saya kehabisan kata-kata.

Saya tentu tidak sedang menyalahkan masyarakat Banua. Justru saya merasa kasihan kepada mereka.

Mereka adalah orang-orang yang mungkin tidak pernah menyalakan api, tetapi harus menghirup asapnya. Mereka yang tidak ikut menebang hutan, tetapi kehilangan udara bersih. Mereka yang tidak menikmati keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam, tetapi harus menanggung sebagian dampaknya. Dan mungkin, seperti kita semua, mereka hanya ingin menjalani kehidupan dengan tenang.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat barangkali bukan sekadar, "Siapa yang salah?"

Pertanyaannya adalah: siapa yang bertanggung jawab?

Sebab kabut asap tidak mengenal batas kepemilikan lahan, jabatan, kekayaan, ataupun kesalehan. Asap bergerak ke mana angin membawanya. Ia masuk ke rumah orang kaya maupun miskin, ke sekolah, kantor, pasar, dan tempat ibadah. Dalam asap, semua orang akhirnya menjadi sama-sama korban.

Dan mungkin di situlah alam sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana kepada kita: ketika satu bagian dari kehidupan dirusak, akibatnya tidak pernah berhenti pada orang yang merusaknya.

Saya hanya berharap Banua tidak lagi harus menjalani musim demi musim dengan cerita yang sama. Jangan sampai masyarakat yang begitu religius, begitu sabar, dan begitu terbiasa menerima keadaan, justru terus dipaksa menerima sesuatu yang sebenarnya tidak perlu mereka terima.

Kabut boleh datang sebagai gejala alam. Tetapi jangan biarkan ia menjadi akibat dari kelalaian manusia yang terus kita anggap sebagai takdir.

Populer

Sarangan - Cemoro Sewu - Tawangmangu

Tasyakuran haji

Jejak program

Panggilan darurat

Kebiasaan malam

Konflik supremasi

Cap futur

Mencintai hidup

Pembiayaan SBSN Pada Proyek Infrastruktur

Belajar ikhlas