Jangkar jiwa
-(Senin, 17 Agustus 2026)-
Barangkali memang tidak ada kebahagiaan yang benar-benar sempurna dalam hidup manusia. Ketika melihat seseorang yang tampak hidup berkecukupan, memiliki keluarga yang harmonis, dan menjalani hari-harinya dengan senyum yang seolah tak pernah pudar, kita mudah beranggapan bahwa hidupnya baik-baik saja. Padahal, bisa jadi di balik wajah yang tenang itu tersimpan pergulatan yang tidak pernah kita ketahui. Setiap orang memikul beban yang berbeda. Sebagian memilih menyimpannya rapat-rapat, hingga dunia baru menyadarinya ketika masalah itu telah menjelma menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disembunyikan.
Mungkin karena itulah hidup sering diibaratkan seperti roda yang terus berputar. Ada masa ketika semuanya terasa lapang. Hari-hari berjalan ringan, pekerjaan selesai dengan baik, keluarga sehat, dan hati dipenuhi rasa syukur. Pada saat-saat seperti itu, kita merasa hidup sedang berpihak kepada kita.
Namun hidup tidak pernah benar-benar diam. Tanpa banyak aba-aba, satu persoalan bisa datang dan mengubah suasana batin. Bukan selalu persoalan yang lahir dari kesalahan atau pilihan kita sendiri. Kadang justru masalah itu datang melalui orang-orang yang kita cintai.
Begitulah kehidupan. Menjadi manusia berarti tidak hanya menjalani hidup sebagai individu, tetapi juga sebagai anak, orang tua, pasangan, saudara, atau sahabat. Pada setiap peran itu melekat tanggung jawab, baik yang lahir dari kasih sayang maupun dari nilai-nilai yang diwariskan keluarga, budaya, dan agama. Karena itu, ketika seseorang yang dekat dengan kita tertimpa musibah, sesungguhnya sebagian dari beban itu ikut berpindah ke pundak kita.
Misalnya ketika ada anggota keluarga yang jatuh sakit. Mungkin tubuh yang lemah adalah tubuhnya, tetapi kegelisahan sering kali menjadi milik bersama. Kita ikut memikirkan biaya pengobatan, mendampingi proses penyembuhan, menguatkan semangatnya, bahkan diam-diam memikul kecemasan yang tidak pernah kita ucapkan. Sulit rasanya bersikap seolah semua baik-baik saja, sebab ikatan kekeluargaan memang membuat penderitaan seseorang menjalar menjadi kegelisahan banyak orang.
Di titik itulah kita menyadari bahwa kebahagiaan ternyata bukan sesuatu yang statis. Ia bergerak mengikuti dinamika kehidupan. Ketenangan yang kemarin terasa begitu utuh, hari ini mungkin mulai terusik oleh kecemasan. Seakan-akan roda kehidupan yang semula berada di atas perlahan berputar ke samping, bahkan turun ke bawah. Bukan karena hidup sedang menghukum kita, melainkan karena memang begitulah hakikat perjalanan manusia.
Yang lebih sulit lagi, tidak semua persoalan menyediakan jalan keluar yang bisa segera kita lihat. Ada masalah yang dapat diselesaikan dengan uang, tenaga, atau kecerdasan. Namun ada pula yang membuat kita hanya mampu menemani, menunggu, dan berharap. Kita sudah melakukan apa yang bisa dilakukan, tetapi hasil akhirnya tetap berada di luar kuasa kita.
Pada titik seperti itulah manusia membutuhkan sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar optimisme. Ikhtiar tetap harus dijalankan sepenuh hati, tetapi jiwa juga memerlukan tempat untuk bersandar ketika tenaga dan kemampuan telah mencapai batasnya.
Saya membayangkan hidup seperti sebuah kapal yang berlayar di tengah lautan. Ombak akan selalu datang. Kadang kecil, kadang begitu besar hingga membuat kapal terombang-ambing. Kita tentu tidak bisa memerintahkan ombak agar berhenti, tetapi kita bisa memiliki jangkar yang membuat kapal tidak hanyut tanpa arah.
Barangkali, bagi seorang beriman, jangkar itu adalah Tuhan.
Di sanalah konsep tawakal menemukan maknanya. Tawakal bukanlah berhenti berusaha atau menyerahkan segalanya sejak awal. Tawakal adalah ketenangan yang lahir setelah ikhtiar telah dilakukan sebaik mungkin, lalu hati menerima bahwa tidak semua hasil berada dalam genggaman manusia. Kita tetap bekerja, tetap berjuang, tetap menemani orang-orang yang kita cintai, tetapi pada saat yang sama kita percaya bahwa ada kehendak yang lebih besar daripada kehendak kita sendiri.
Mungkin masalah tidak serta-merta selesai. Kesedihan pun tidak selalu langsung hilang. Namun setidaknya hati tidak lagi hanyut bersama setiap gelombang. Sebab ia telah menemukan jangkar yang membuatnya tetap teguh, meski kehidupan terus berputar dan ombak datang silih berganti.