Mental miskin
-(Kamis, 1 Oktober 2026)- Saya sering mendengar orang mengatakan, “Dia itu bermental miskin.” Setiap kali mendengarnya, saya justru penasaran: sebenarnya apa yang dimaksud dengan mental miskin? Apa cirinya? Siapa yang menetapkan ciri-ciri itu? Dan, yang paling mendasar, apa dasar pengetahuan yang membuat seseorang berhak menyebut orang lain bermental miskin? Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa istilah itu problematis. Tidak ada ukuran yang benar-benar jelas. Tidak ada standar yang disepakati. Tidak ada instrumen yang bisa digunakan untuk mengukur kadar “mental miskin” seseorang. Pada akhirnya, istilah itu lebih sering menjadi penilaian subjektif yang disampaikan seolah-olah merupakan sebuah fakta. Yang menarik, label tersebut kerap muncul justru ketika seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya sangat rasional secara ekonomi. Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, misalnya, istilah in this economy semakin sering digunakan untuk menggambarkan perlunya berhati-hati membe...