Mutasi (lagi)??

 -(Kamis, 10 September 2026)-

Setiap kali ada kabar tentang mutasi, saya kadang lebih banyak terdiam. Saya menatap WAG, menunggu potongan-potongan foto berisi daftar nama pejabat yang dilantik dan tempat tugas barunya. Nama-nama itu muncul satu demi satu, lalu disusul ucapan selamat dari orang-orang di dalam grup.

Pada titik itu, tanpa sadar kita mulai membayangkan mereka. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan tempat tugas yang selama ini menjadi bagian dari keseharian, lalu menuju tempat yang baru untuk kembali mengabdi. Ada meja kerja yang akan ditinggalkan, ruangan yang tak lagi ditempati, jalan yang tak lagi dilewati setiap pagi, juga orang-orang yang perlahan akan berubah dari rekan kerja menjadi bagian dari kenangan.

Mungkin sebagian orang sudah belasan kali mengalami mutasi. Ada yang 13 kali, 12 kali, 10 kali, atau mungkin baru 5 kali. Tetapi sesungguhnya bukan angka-angka itu yang menarik untuk dihitung. Yang lebih menarik adalah bagaimana perasaan manusia naik dan turun setiap kali mutasi datang.

Ada kegembiraan ketika mutasi berarti promosi. Ada kelegaan ketika akhirnya bisa pulang kampung setelah bertahun-tahun berada jauh dari keluarga. Ada pula rasa penasaran ketika harus memasuki lingkungan baru. Tetapi ada juga kegundahan ketika tempat yang dituju ternyata tidak seperti yang setiap hari muncul dalam doa.

Karena mutasi tidak pernah sekadar memindahkan nama dari satu kolom ke kolom yang lain. Ia memindahkan kehidupan.

Di balik satu nama dalam daftar mutasi, ada keluarga yang mungkin harus kembali mengemas barang, menyiapkan koper. Ada keluarga yang ditinggalkan. Ada anak yang harus beradaptasi dengan sekolah baru. Ada pasangan yang mungkin harus menyesuaikan pekerjaan. Ada rumah yang ditinggalkan. Ada pertemanan yang harus diberi jarak. Bahkan ada rutinitas kecil yang selama bertahun-tahun terasa biasa, tetapi baru terasa berharga setelah harus ditinggalkan.

Lalu bayangan kita biasanya akan sampai pada satu momen: perpisahan.

Ketika mutasi sudah menjadi bagian dari tradisi dalam dunia kerja, acara perpisahan pun seolah menjadi agenda rutin. Tidak perlu menunggu setahun sekali. Bisa jadi setiap semester ada orang yang berpamitan. Bahkan mungkin lebih cepat dari itu.

Hari ini seseorang berdiri di depan ruangan untuk menerima ucapan selamat dan salam perpisahan. Beberapa waktu kemudian, orang lain berdiri di tempat yang sama. Yang datang menggantikan akan bekerja, beradaptasi, membangun relasi, meninggalkan jejak, lalu pada waktunya kembali pergi.

Begitu seterusnya.

Kantor pada akhirnya seperti sebuah persinggahan. Orang-orang datang bukan untuk selamanya, melainkan untuk menjalani satu bagian dari perjalanan. Ada yang tinggal sebentar, ada yang lebih lama. Tetapi hampir semuanya pada akhirnya akan meninggalkan ruangan yang pernah mereka sebut sebagai tempat kerja.

Mungkin karena itulah mutasi tidak hanya menyentuh mereka yang namanya tercantum dalam daftar. Perasaan campur aduk juga bisa muncul di hati orang-orang yang belum terkena mutasi.

Terutama bagi mereka yang mulai menghitung-hitung masa keberadaannya.

Sudah dua tahun. Sudah tiga tahun. Bahkan mungkin lebih.

Kemudian muncul daftar mutasi. Seseorang yang masa kerjanya di kantor itu belum genap tiga tahun ternyata lebih dahulu berangkat. Sementara yang merasa sudah lebih lama menunggu masih tetap berada di tempat yang sama.

Di situlah barangkali mulai muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak puas. Kecewa. Kesal. Mungkin juga marah. Atau sekadar sedih karena merasa, “Mengapa saya masih di sini?”

Manusia memang pandai mencari penjelasan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Penjelasan itu kadang bukan untuk menjawab keadaan, melainkan untuk membuat hati kembali nyaman.

“Ya, tidak apa-apa. Daripada dimutasi jauh, lebih baik tetap di sini.”

Kalimat seperti itu mungkin muncul ketika melihat orang lain mendapat tempat tugas yang jauh. Kita mengatakannya seolah-olah benar-benar tidak menginginkan apa yang baru saja didapatkan orang lain.

Padahal mungkin yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang berusaha berdamai dengan sesuatu yang belum kita mengerti.

Sebab mutasi memang punya satu persoalan yang tidak pernah selesai: kita diminta menjalani keputusan hari ini, sementara maknanya baru mungkin kita pahami jauh setelahnya.

Ada ungkapan yang sering kita dengar: hari ini lebih baik daripada kemarin adalah keberuntungan; hari ini sama dengan kemarin adalah kerugian; dan hari ini lebih buruk daripada kemarin adalah kecelakaan.

Ungkapan itu terdengar seperti rumus yang sederhana. Seolah-olah kita bisa segera menentukan apakah sebuah peristiwa membawa keberuntungan atau kesialan hanya dengan membandingkan keadaan sebelum dan sesudahnya.

Tetapi kehidupan tidak sesederhana itu.

Kita sering keliru menilai sebuah perpindahan karena terlalu cepat memberikan kesimpulan.

Seseorang yang hari ini pulang kampung mungkin merasa dirinya paling beruntung. Tetapi beberapa tahun kemudian, bisa saja ia menyadari bahwa tempat itu justru menghadirkan persoalan yang tidak pernah ia bayangkan.

Sebaliknya, seseorang yang hari ini merasa mendapat tempat yang jauh, yang bahkan mungkin dianggap sebagai kesialan, bisa saja suatu hari justru mengenang mutasi itu sebagai salah satu keputusan terbaik dalam hidupnya.

Sebab kita hanya melihat pintu yang sedang terbuka. Kita tidak pernah benar-benar tahu ruangan apa yang ada di baliknya.

Mungkin itu sebabnya mutasi mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar soal perpindahan tempat tugas. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya memiliki kendali atas perjalanan hidupnya.

Kita boleh berharap. Kita boleh berdoa. Kita boleh menyusun pilihan. Kita bahkan boleh merasa kecewa ketika kenyataan tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Tetapi setelah sebuah keputusan datang, pada akhirnya kita tetap harus menjalaninya.

Dan mungkin di situlah letak kedewasaan: bukan selalu menerima keadaan dengan perasaan senang, melainkan belajar menjalani sesuatu yang belum kita sukai tanpa kehilangan keyakinan bahwa kehidupan masih menyimpan kemungkinan baik.

Barangkali tempat yang sekarang kita inginkan mati-matian bukanlah tempat terbaik bagi kita. Dan tempat yang hari ini kita hindari justru bisa menjadi tempat di mana kita menemukan sesuatu yang selama ini kita cari.

Kita sering mengira mutasi adalah tentang ke mana kita pergi.

Padahal bisa jadi, mutasi lebih banyak berbicara tentang siapa diri kita setelah sampai di sana.

Karena pada akhirnya, bukan selalu tempat yang menentukan bagaimana perjalanan kita berlangsung. Orang-orang yang kita temui, pengalaman yang kita jalani, persoalan yang kita hadapi, dan cara kita menyikapinya ikut membentuk arti sebuah tempat.

Maka setiap kali melihat daftar mutasi muncul di WAG, mungkin saya tidak lagi hanya melihat nama-nama yang berpindah dari satu kantor ke kantor lain.

Saya melihat orang-orang yang sedang memasuki babak baru dalam hidupnya.

Ada yang mungkin pergi dengan hati penuh syukur. Ada yang berangkat dengan membawa kecewa. Ada yang diam-diam berharap keadaan akan menjadi lebih baik. Ada pula yang mungkin belum tahu harus merasa senang atau sedih.

Tetapi semuanya tetap berangkat.

Meninggalkan sesuatu yang sudah dikenal menuju sesuatu yang belum diketahui.

Dan bukankah hampir seluruh kehidupan memang seperti itu?

Kita melangkah tanpa pernah benar-benar tahu apa yang menunggu beberapa meter di depan.

Mungkin karena itu, setiap perpisahan sejatinya bukan hanya tentang kehilangan. Ia juga tentang kemungkinan. Dan setiap kedatangan bukan hanya tentang memulai sesuatu yang baru, tetapi juga tentang menerima misteri yang belum selesai dituliskan.

Barangkali kehidupan memang sengaja menyisakan misteri itu, agar kita tidak terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai keberuntungan atau kesialan.

Sebab yang hari ini kita tangisi, belum tentu menjadi sesuatu yang buruk.

Dan yang hari ini kita rayakan, belum tentu menjadi sesuatu yang baik.

Kita baru tahu setelah menjalaninya.

Mutasi, pada akhirnya, hanyalah salah satu cara kehidupan mengingatkan kita: tidak semua yang pergi adalah kehilangan, dan tidak semua yang datang adalah keberuntungan.

Populer

Sungai coklat

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Mutasi pulang?

Prompt Writer

Belum berhasil

2020 MDPL

Perbendaharaan Go Green

Berburu Sunrise

Pantun integritas