Sisa MBG

-(Senin, 7 September 2026)-

Ada satu keresahan yang terus mengganjal pikiran saya ketika melihat persoalan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketika banyak makanan MBG tersisa dan berakhir di tempat sampah, sebagian orang langsung menjadikannya alasan untuk mengkritik program tersebut. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan cara pandang itu. Sisa makanan memang persoalan yang perlu diperhatikan karena di dalamnya ada makanan, anggaran, tenaga, dan kerja banyak orang yang akhirnya terbuang sia-sia.

Tetapi saya justru memiliki pertanyaan yang sedikit berbeda: jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata pada MBG. Jangan-jangan ada sesuatu yang lebih mendasar pada kebiasaan makan masyarakat kita, terutama anak-anak.

Saya teringat pengalaman ketika pada 2025 saya menunaikan ibadah haji. Para jamaah mendapatkan jatah makanan yang menurut saya cukup istimewa. Ada nasi, lauk, sayuran, dan sumber protein yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan jamaah setelah menjalani rangkaian ibadah yang cukup menguras tenaga. Secara kualitas, makanan itu sebenarnya sangat layak. Bahkan bisa dikatakan lebih baik daripada sekadar mengandalkan makanan instan.

Namun, kenyataannya tidak semua jamaah menyukainya.

Hari demi hari berlalu. Makanan terus datang dengan menu yang sebenarnya cukup bervariasi. Tetapi setelah beberapa waktu, sebagian jamaah mulai merasa bosan. Ada yang tidak menyentuh makanannya, ada yang hanya mengambil bagian tertentu, dan ada pula yang memilih mencari makanan lain. Salah satu pilihan yang menurut saya cukup menggelitik adalah mie instan.

Di satu sisi tersedia makanan lengkap dengan lauk, sayuran, dan protein. Di sisi lain, seseorang justru memilih semangkuk mie instan. Bukan karena makanan yang tersedia tidak layak, melainkan karena lidah mungkin sudah lebih akrab dengan rasa yang berbeda.

Akhirnya, tidak sedikit makanan yang sebenarnya masih layak makan berakhir di tempat sampah.

Pengalaman itu membuat saya berpikir bahwa persoalan makanan ternyata tidak selalu sesederhana soal enak atau tidak enak. Ada persoalan kebiasaan di belakangnya. Ada soal bagaimana lidah dibentuk sejak kecil. Ada soal bagaimana keluarga mengenalkan makanan kepada anak-anaknya. Dan ada soal bagaimana kita mendefinisikan makanan yang kita sukai.

Barangkali persoalan serupa juga terjadi dalam program MBG.

Ketika sebagian anak tidak menghabiskan makanan MBG karena merasa tidak enak, tidak cocok, atau bosan dengan menu yang diberikan, kita memang perlu mengevaluasi kualitas makanan, variasi menu, cara penyajian, hingga kecukupan gizinya. Kritik semacam itu penting. Program sebesar MBG tentu tidak boleh kebal terhadap evaluasi.

Tetapi saya kira kita juga perlu berani melihat persoalan dari sisi lain.

Bisa jadi sebagian anak memang tidak terbiasa dengan makanan yang disajikan.

Anak yang sejak kecil lebih akrab dengan makanan berbahan tepung, makanan tinggi gula, makanan ringan dengan rasa gurih yang kuat, atau makanan yang menggunakan bumbu secara berlebihan tentu membutuhkan waktu untuk beradaptasi ketika tiba-tiba disuguhi nasi, lauk, sayuran, dan makanan dengan rasa yang lebih sederhana.

Lidah, seperti halnya kebiasaan lain, juga membutuhkan latihan.

Kita sering mengatakan bahwa anak-anak tidak suka sayuran. Tetapi pertanyaannya: apakah sejak kecil mereka memang dibiasakan makan sayuran?

Kita mengatakan anak tidak suka ikan. Tetapi apakah ikan pernah menjadi bagian dari menu keluarga secara rutin?

Kita mengatakan anak memilih makanan yang tidak sehat. Tetapi siapa yang pertama kali memperkenalkan makanan tersebut kepada mereka?

Di sinilah saya merasa pembicaraan tentang sisa makanan MBG perlu diperluas. Jangan sampai setiap makanan yang tersisa langsung dianggap sebagai bukti bahwa programnya gagal atau makanannya tidak enak. Sebab ada kemungkinan persoalannya jauh lebih panjang daripada sekadar soal rasa.

Kita perlu melihat rumah sebagai ruang pendidikan pertama bagi selera makan anak.

Sekolah memang memiliki peran penting dalam memberikan makanan bergizi. Tetapi sekolah tidak mungkin bekerja sendirian. Anak hanya makan sekali di sekolah, sementara sebagian besar waktu makan mereka berlangsung di rumah. Kalau di sekolah anak diperkenalkan dengan sayuran, protein, buah, dan makanan dengan komposisi gizi yang lebih seimbang, tetapi di rumah setiap hari mereka justru mendapatkan makanan yang didominasi tepung, gula, atau makanan ultra-proses, tentu akan terjadi semacam benturan kebiasaan.

Ibaratnya, sekolah sedang mencoba mengubah arah perahu, sementara rumah terus mendayung ke arah sebaliknya.

Karena itu, menurut saya, persoalan sisa makanan MBG seharusnya tidak hanya menjadi urusan dapur penyedia makanan atau pihak sekolah. Ini juga seharusnya menjadi momentum untuk berbicara dengan para orang tua.

Orang tua perlu diberi pemahaman bahwa membiasakan anak makan bergizi bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam sehari. Anak mungkin menolak sayur hari ini. Bisa jadi ia menolak lagi besok. Tetapi bukan berarti sayuran kemudian dihapus dari meja makan selamanya.

Anak perlu dikenalkan berulang-ulang.

Ia perlu melihat orang tuanya makan sayuran. Ia perlu melihat bahwa ikan, telur, buah, kacang-kacangan, dan berbagai sumber protein adalah bagian normal dari makanan sehari-hari. Dengan begitu, makanan bergizi tidak terasa seperti sesuatu yang asing ketika kemudian diberikan di sekolah.

Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa semua sisa makanan MBG disebabkan oleh kebiasaan makan anak di rumah. Itu akan menjadi kesimpulan yang terlalu sederhana. Ada banyak faktor yang perlu diperiksa: kualitas masakan, variasi menu, tekstur makanan, waktu distribusi, suhu makanan ketika diterima, ukuran porsi, hingga selera anak yang memang berbeda-beda.

Namun, saya kira faktor kebiasaan tidak boleh diabaikan.

Sebab ada perbedaan antara anak yang menolak makanan karena makanan itu memang buruk dengan anak yang menolak makanan karena sejak kecil tidak terbiasa dengan makanan tersebut. Dua persoalan ini membutuhkan jawaban yang berbeda.

Jika makanan memang tidak memenuhi standar, tentu harus diperbaiki. Tetapi jika masalahnya adalah anak tidak terbiasa makan sayuran, jawabannya bukan menghilangkan sayuran dari menu. Justru kebiasaan itulah yang perlu dibangun secara perlahan.

Di titik ini saya melihat MBG sebenarnya memiliki peluang yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan makanan gratis bagi anak-anak. Program ini bisa menjadi pintu masuk untuk memperbaiki budaya makan keluarga Indonesia.

Makanan bukan hanya perkara mengisi perut. Makanan juga membentuk kebiasaan, selera, kesehatan, bahkan cara kita memandang tubuh dan kehidupan.

Karena itu, ketika kita melihat nasi tersisa, sayuran tidak disentuh, atau lauk dibuang, mungkin kita tidak perlu buru-buru menunjuk siapa yang salah. Kita bisa berhenti sejenak dan bertanya: kebiasaan seperti apa yang selama ini kita tanamkan kepada anak-anak?

Bisa jadi persoalan MBG bukan hanya bagaimana menyediakan makanan bergizi, tetapi juga bagaimana membuat makanan bergizi itu menjadi sesuatu yang akrab bagi anak.

Sebab makanan yang sehat tidak akan banyak berarti jika terus dianggap sebagai makanan yang asing.

Dan mungkin, pekerjaan besar kita bukan sekadar membuat anak mendapatkan makanan bergizi secara gratis. Pekerjaan yang jauh lebih penting adalah membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang terbiasa memilih makanan bergizi, menikmatinya, dan memahami mengapa tubuh mereka membutuhkannya.

Pada akhirnya, sisa makanan MBG seharusnya tidak hanya menjadi angka yang menghiasi laporan atau bahan untuk menyalahkan sebuah program. Ia semestinya menjadi cermin.

Cermin bagi sekolah. Cermin bagi pemerintah. Tetapi juga cermin bagi kita para orang tua.

Sebab sebelum bertanya mengapa anak tidak mau makan sayuran, mungkin ada pertanyaan yang lebih jujur untuk kita ajukan kepada diri sendiri: sudahkah kita membiasakan mereka makan sayuran?

Jangan-jangan selama ini bukan hanya makanan yang perlu diperbaiki. Jangan-jangan kebiasaan kitalah yang perlu dimulai dari meja makan di rumah.

Populer

Sungai coklat

Berburu Sunrise

KUR malam minggu

Mutasi pulang?

Jejak program

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Defisit Kalori

Belum berhasil

Rebahaner

Motivator backoffice