Kambing perantau
-(Minggu, 2 Agustus 2026)- Siang tadi saya makan nasi kebuli dengan lauk kambing. Sebelum makanan itu datang, saya membayangkan potongan daging kambing yang melimpah. Ternyata yang tersaji hanya beberapa potong kecil. Mungkin memang harga daging kambing di daerah ini relatif mahal sehingga porsinya dibuat lebih hemat. Pengalaman sederhana itu membuat saya mulai memperhatikan pola kuliner di sekitar. Dari berbagai rumah makan dan warung yang saya temui, menu berbahan daging ayam, sapi, dan ikan jauh lebih mudah ditemukan. Sebaliknya, masakan berbahan daging kambing terasa seperti barang langka. Bahkan untuk sekadar mencari sate kambing pun tidak semudah yang saya bayangkan. Sejauh ini saya baru menemukan warung sate Madura yang menjual sate ayam dan, sepertinya, sate sapi. Saya memang belum sempat mencobanya. Dari percakapan yang sempat saya dengar di sana, daging yang digunakan tampaknya memang daging sapi, bukan kambing. Tentu saya masih harus memastikan sendiri. Namun kesan pertama y...