Kambing perantau

-(Minggu, 2 Agustus 2026)-

Siang tadi saya makan nasi kebuli dengan lauk kambing. Sebelum makanan itu datang, saya membayangkan potongan daging kambing yang melimpah. Ternyata yang tersaji hanya beberapa potong kecil. Mungkin memang harga daging kambing di daerah ini relatif mahal sehingga porsinya dibuat lebih hemat.

Pengalaman sederhana itu membuat saya mulai memperhatikan pola kuliner di sekitar. Dari berbagai rumah makan dan warung yang saya temui, menu berbahan daging ayam, sapi, dan ikan jauh lebih mudah ditemukan. Sebaliknya, masakan berbahan daging kambing terasa seperti barang langka. Bahkan untuk sekadar mencari sate kambing pun tidak semudah yang saya bayangkan.

Sejauh ini saya baru menemukan warung sate Madura yang menjual sate ayam dan, sepertinya, sate sapi. Saya memang belum sempat mencobanya. Dari percakapan yang sempat saya dengar di sana, daging yang digunakan tampaknya memang daging sapi, bukan kambing. Tentu saya masih harus memastikan sendiri. Namun kesan pertama yang saya tangkap cukup jelas: kambing bukanlah bahan baku yang lazim hadir dalam lanskap kuliner di sini.

Pengalaman itu membuat saya teringat pada Solo. Di sana, daging kambing seolah memiliki tempat istimewa dalam kehidupan sehari-hari. Pilihan warung sate begitu banyak. Belum lagi tongseng, tengkleng, gulai, hingga aneka olahan kambing lainnya yang mudah dijumpai. Bagi masyarakat setempat, menu-menu itu bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Lalu saya bertanya-tanya, mengapa saya belum menemukan warung sate Solo atau sate Tegal di daerah ini? Bisa jadi karena belum ada perantau dari Solo atau Tegal yang membuka usaha kuliner di sini. Jika memang demikian, mungkin ada peluang bisnis yang belum tergarap. Barangkali konsumennya tidak akan sebanyak warung ayam atau ikan, tetapi para perantau tentu sesekali ingin mengobati rindu lewat seporsi sate kambing, tengkleng, atau tongseng. Tidak semua kerinduan harus dipenuhi dengan pulang kampung; kadang ia cukup ditebus dengan aroma bumbu yang akrab di hidung.

Namun, tentu ada kemungkinan lain. Bisa saja warung seperti itu pernah ada, tetapi tidak bertahan karena kurang diminati. Selera masyarakat setempat mungkin memang lebih dekat dengan sapi atau ikan daripada kambing yang memiliki aroma dan cita rasa khas. Selera makan, bagaimanapun, bukan sesuatu yang lahir dalam semalam. Ia dibentuk oleh lingkungan, ketersediaan bahan pangan, kebiasaan keluarga, hingga tradisi yang berlangsung selama puluhan, bahkan ratusan tahun.

Dari situ saya menyadari bahwa makanan sebenarnya lebih dari sekadar urusan mengenyangkan perut. Ia adalah jejak sejarah yang hidup di atas meja makan. Apa yang dianggap biasa di satu daerah bisa menjadi sesuatu yang asing di daerah lain. Lidah manusia, seperti halnya budaya, memiliki ingatan yang panjang. Ia cenderung mencari rasa-rasa yang telah lama dikenalnya.

Karena itu, memperkenalkan menu baru kepada suatu masyarakat bukan hanya soal menghadirkan resep yang enak. Yang diuji bukan sekadar rasa, melainkan kebiasaan. Dan kebiasaan tidak mudah berubah. Ia memerlukan waktu, perjumpaan yang berulang, dan kesediaan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

Mungkin itulah sebabnya saya belum menemukan sate kambing seperti yang begitu akrab di Solo. Bukan berarti masyarakat di sini tidak menyukainya, melainkan karena setiap daerah memiliki cerita kulinernya sendiri. Saya hanya sedang menjadi seorang perantau yang, tanpa sengaja, belajar bahwa kerinduan terhadap kampung halaman kadang muncul dari hal yang paling sederhana: sepotong daging kambing yang sulit ditemukan.

Populer

Kontes administrasi

Tiga mazhab & Berebut Roti

Membaca pikiran

Kesenangan musiman

Terjemahan Al-Qur'an

Salah paham

Pesisir Vs Pedalaman

Berani berubah

Eksperimen ketakutan

Perbendaharaan Go Green