Kursi maskapai
-(Jumat, 28 Agustus 2026)-
Ada yang terasa aneh dengan beberapa maskapai penerbangan belakangan ini: kursi di dalam pesawat ternyata tidak lagi sekadar bagian dari tiket. Ada kursi yang gratis, tetapi ada pula kursi yang harus dibayar jika penumpang menginginkannya.
Dan tentu saja kita bisa menebak kursi mana yang masuk kategori berbayar. Biasanya kursi-kursi yang dianggap lebih strategis, lebih nyaman, atau memiliki kelebihan tertentu akan dikenai biaya tambahan.
Dulu, memilih kursi pesawat terasa seperti bagian sederhana dari perjalanan. Siapa cepat, dia dapat. Kalau kita ingin duduk dekat jendela, di bagian depan, atau berdampingan dengan keluarga, cukup memilih ketika melakukan check-in atau pemesanan, sepanjang kursi tersebut masih tersedia. Tidak ada perasaan bahwa kita sedang membeli kembali sesuatu yang sebenarnya sudah kita bayar melalui tiket.
Sekarang situasinya berubah. Kita membeli tiket untuk terbang dari satu kota ke kota lain, tetapi untuk memilih tempat duduk tertentu masih harus mengeluarkan uang tambahan.
Saya sendiri memilih tidak membayar kursi. Bukan karena tidak ingin duduk di tempat yang saya sukai, tetapi karena ada semacam prinsip sederhana: saya sudah membeli tiket, maka untuk urusan kursi saya serahkan saja kepada sistem maskapai. Kalau akhirnya mendapat kursi yang saya inginkan, anggap saja sedang beruntung. Kalau tidak, ya sudah.
Toh, pesawat tetap akan membawa saya ke tujuan.
Namun, semakin sering melihat praktik semacam ini, saya mulai bertanya-tanya: sampai di mana batas kewajaran maskapai dalam menjadikan setiap bagian dari layanan sebagai sumber pendapatan tambahan?
Kita tentu memahami bahwa maskapai adalah perusahaan. Mereka harus mencari keuntungan. Harga tiket juga tidak hanya membayar bahan bakar dan biaya menerbangkan pesawat. Ada biaya perawatan, kru, bandara, sistem, pajak, dan berbagai komponen lainnya. Menjual makanan di dalam pesawat atau menawarkan layanan tambahan mungkin merupakan bagian dari strategi bisnis yang wajar.
Tetapi ketika kursi pun dipisahkan menjadi dua kategori—yang gratis dan yang berbayar—muncul pertanyaan lain: apakah kita sedang melihat perubahan kecil dalam layanan penerbangan atau justru perubahan cara pandang terhadap konsumen?
Sebab pada akhirnya, penumpang membeli tiket bukan hanya untuk mendapatkan kesempatan berada di dalam pesawat. Ia membeli sebuah layanan perjalanan dari titik keberangkatan menuju tujuan tertentu. Di dalam layanan itu tentu ada tempat untuk duduk.
Memang, maskapai bisa berargumen bahwa penumpang tetap mendapatkan kursi. Kursi gratis tetap tersedia. Yang berbayar hanyalah pilihan terhadap lokasi atau fasilitas tertentu. Secara bisnis, argumen tersebut mungkin masuk akal.
Namun, dari sudut pandang konsumen, persoalannya menjadi sedikit berbeda.
Ada perbedaan antara membayar untuk layanan tambahan yang benar-benar tambahan dan membayar untuk mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sebagai bagian normal dari layanan dasar.
Di sinilah saya kira regulator perlu melihat persoalan ini dengan lebih jernih. Bukan untuk melarang maskapai berinovasi dalam mencari pendapatan, tetapi untuk memastikan bahwa inovasi bisnis tidak perlahan-lahan menggerus hak dan kenyamanan konsumen.
Saya membayangkan jika pola seperti ini terus berkembang, bukan tidak mungkin suatu hari nanti model yang sama diterapkan di berbagai moda transportasi lain.
Bayangkan kita membeli tiket bus untuk perjalanan antarkota. Tiket itu sudah menjamin kita sampai ke tujuan. Tetapi kemudian muncul pilihan: kursi biasa gratis, kursi dekat jendela bayar, kursi bagian depan bayar lebih mahal, kursi yang tidak terlalu berguncang bayar lebih mahal lagi.
Mungkin terdengar berlebihan. Tetapi bukankah banyak hal yang sekarang dianggap biasa pada awalnya juga pernah terdengar aneh?
Dalam dunia bisnis, ketika sebuah model terbukti menghasilkan tambahan pendapatan, biasanya akan muncul pertanyaan sederhana: mengapa tidak dikembangkan lebih jauh?
Di sinilah konsumen membutuhkan perlindungan. Sebab posisi penumpang tidak selalu seimbang dengan posisi maskapai.
Penumpang memang bisa memilih maskapai lain. Tetapi apakah pilihan itu selalu mudah? Tidak juga. Jadwal penerbangan, rute, harga, ketersediaan tiket, hingga kebutuhan pekerjaan atau keluarga membuat pilihan konsumen sering kali sangat terbatas.
Dalam kondisi seperti itu, kalimat "kalau tidak suka, pilih maskapai lain" sebenarnya bukan jawaban yang sepenuhnya adil.
Apalagi persoalan konsumen dalam penerbangan bukan hanya soal kursi.
Kita sudah sering berhadapan dengan penerbangan yang terlambat, perubahan jadwal, pembatalan, atau berbagai ketidaknyamanan lainnya. Secara aturan memang ada hak penumpang dan kompensasi yang seharusnya diberikan. Tetapi dalam praktiknya, kompensasi tidak selalu berarti penumpang memperoleh kembali waktu, rencana, dan kenyamanan yang telah hilang.
Waktu yang terbuang tidak bisa dikembalikan hanya dengan uang. Janji yang batal karena penerbangan terlambat tidak otomatis pulih karena adanya kompensasi. Begitu pula tenaga dan emosi yang terkuras ketika harus menunggu berjam-jam di bandara.
Karena itu, ketika kemudian muncul biaya tambahan untuk memilih kursi, saya melihatnya bukan sebagai persoalan kecil tentang "mau duduk di mana".
Ini tentang kecenderungan yang lebih luas: semakin banyak bagian dari pengalaman konsumen yang dipilah menjadi layanan dasar dan layanan tambahan. Sedikit demi sedikit, konsumen bisa merasa bahwa harga yang tertera pada tiket bukan lagi harga sebenarnya dari pengalaman perjalanan.
Harga tiket adalah harga untuk masuk ke dalam sistem. Setelah itu, ada banyak pintu kecil yang masing-masing meminta pembayaran.
Mau memilih kursi? Bayar.
Mau mendapatkan fasilitas tertentu? Bayar.
Mau kenyamanan lebih? Bayar.
Saya tidak mengatakan semua biaya tambahan tersebut salah. Dalam batas tertentu, diferensiasi layanan merupakan hal yang lumrah dalam bisnis. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai konsumen merasa sedang dipaksa membeli sesuatu yang sebenarnya merupakan bagian wajar dari layanan yang telah dibayarnya.
Saya juga tidak tahu apakah persoalan kursi berbayar ini sudah menjadi perhatian serius regulator penerbangan maupun lembaga perlindungan konsumen. Jika memang sudah diketahui, barangkali sudah saatnya praktik semacam ini ditinjau kembali dari perspektif kepentingan penumpang.
Bukan berarti kursi berbayar harus serta-merta dilarang. Tetapi setidaknya harus ada kejelasan: apa yang sebenarnya menjadi hak dasar penumpang, apa yang memang merupakan layanan tambahan, dan sejauh mana maskapai boleh mengenakan biaya tambahan tanpa membuat konsumen merasa dirugikan.
Sebab konsumen sering kali berada dalam posisi yang unik. Mereka membayar terlebih dahulu, sementara kualitas pengalaman baru diketahui kemudian.
Mereka tidak bisa mengembalikan waktu ketika pesawat terlambat. Tidak bisa mengulang jadwal yang sudah berantakan. Tidak selalu bisa memilih maskapai lain. Dan kini, untuk memilih tempat duduk yang mereka inginkan, mereka diminta membayar lagi.
Mungkin bagi sebagian orang, biaya memilih kursi bukan persoalan besar. Tetapi persoalannya bukan semata-mata tentang nominal. Yang lebih penting adalah arah perubahan itu sendiri.
Jangan sampai perjalanan udara perlahan berubah menjadi pengalaman yang setiap kenyamanannya memiliki tarif tersendiri.
Sebab pada akhirnya, penumpang bukan sekadar angka dalam sistem reservasi. Mereka adalah konsumen yang telah membayar dan semestinya tetap memiliki posisi yang layak dalam menentukan bagaimana mereka dilayani.
Saya tetap akan memilih kursi gratis. Saya biarkan sistem yang menentukan di mana saya duduk.
Tetapi saya berharap, jangan sampai suatu hari nanti kita terbiasa dengan keadaan ketika untuk mendapatkan kenyamanan yang paling dasar pun, kita harus terus merogoh kocek.
Kalau itu terjadi, mungkin bukan hanya kursi yang sedang berbayar. Jangan-jangan, perlahan-lahan, rasa adil dalam pelayanan kepada konsumen juga ikut diberi tarif.