Jagung ketan
-(Minggu, 16 Agustus 2026)-
Ada satu hal kecil yang belakangan ini sering mengusik pikiran saya: jagung pulut, atau yang juga dikenal sebagai jagung ketan. Saya tidak tahu mengapa jagung itu seolah menghilang dari kampung halaman saya. Bahkan, semakin saya mencoba mengingat, semakin saya ragu apakah dulu jagung itu memang pernah tumbuh di sana atau hanya tersimpan sebagai fragmen kenangan masa kecil yang samar. Saya merasa pernah memakannya ketika kecil, tetapi waktu telah membuat ingatan itu menjadi kabur.
Yang pasti, saya kembali bertemu dengan jagung pulut di sini. Pertemuan itu terasa seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah akrab, meski sulit dijelaskan kapan terakhir kali saya mengenalnya. Teksturnya memang berbeda dari jagung yang biasa saya makan. Butir-butirnya terasa lengket ketika dikunyah, persis seperti ketan yang menjadi asal namanya. Sensasi itu semakin membekas ketika suatu hari saya berkunjung ke Buton. Seusai menikmati pantai, tuan rumah menyuguhkan jagung pulut rebus. Sederhana, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Saya menikmatinya dengan rasa yang sulit dilupakan.
Sejak saat itu muncul keinginan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup serius bagi saya: membudidayakan jagung pulut di kampung halaman. Saya mulai mencari toko pertanian untuk membeli benihnya. Jika berhasil mendapatkannya, saya ingin membawanya pulang dan mencoba menanamnya sendiri. Barangkali jagung itu bisa tumbuh baik di tanah tempat saya dibesarkan.
Yang membuat saya semakin tertarik bukan hanya rasanya. Saya juga menemukan jagung pulut dengan penampilan yang sangat unik. Sebagian tongkolnya berwarna putih, sementara beberapa bijinya berwarna ungu, sehingga dalam satu tongkol tampak perpaduan dua warna yang kontras. Pemandangan sederhana itu justru terasa memikat. Saya membayangkan, alam ternyata memiliki cara sendiri untuk menghadirkan keindahan, bahkan pada sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.
Sudah lama saya terbiasa melihat jagung berwarna kuning memenuhi pasar. Jagung manis itulah yang paling mudah ditemukan. Saya juga masih ingat ketika orang tua saya menanam jagung kuning untuk pakan ternak. Karena terbiasa melihat jenis yang sama, tanpa sadar saya menganggap itulah wajah jagung yang sesungguhnya.
Padahal, kenyataannya jauh lebih beragam. Dari situlah pikiran saya mulai berkelana. Jika ada jagung putih, ungu, atau kombinasi keduanya, mungkinkah di tempat lain ada jagung merah, biru, atau warna-warna lain yang belum pernah saya lihat? Rasa ingin tahu itu semakin besar ketika suatu ketika saya melihat papaya dengan kulit berwarna merah. Bagi sebagian orang mungkin itu hal biasa, tetapi bagi saya, pemandangan itu benar-benar membuka cara pandang baru. Ternyata dunia pertanian menyimpan jauh lebih banyak kejutan daripada yang saya bayangkan.
Saya membayangkan, semua itu lahir dari perjalanan panjang ilmu pengetahuan. Melalui pemuliaan tanaman, persilangan varietas, atau berbagai teknologi pertanian modern, para peneliti berhasil menghadirkan tanaman dengan sifat-sifat baru yang lebih unggul, lebih adaptif, atau bahkan lebih menarik secara visual. Sebagai orang awam, saya mungkin tidak memahami seluruh proses ilmiahnya. Namun sebagai penikmat hasilnya, saya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum terhadap kerja panjang para ilmuwan pertanian yang memungkinkan kita menikmati keberagaman tersebut.
Barangkali rasa kagum itulah yang perlahan berubah menjadi harapan. Semakin sering saya melihat berbagai varietas tanaman yang unik, semakin besar pula keinginan saya untuk suatu hari kembali menjadi petani. Bukan petani dalam pengertian romantis yang sekadar mengolah tanah, melainkan seseorang yang terus belajar, mencoba hal-hal baru, dan menikmati proses menumbuhkan kehidupan.
Mungkin itulah yang ingin saya lakukan ketika memasuki masa pensiun nanti. Saya ingin tetap menulis, tetap berpetualang, tetapi juga kembali akrab dengan tanah. Menanam jagung pulut hanyalah salah satu mimpi kecil di antara banyak kemungkinan yang masih ingin saya jelajahi. Sebab saya percaya, selalu ada kebahagiaan yang lahir dari menanam sesuatu, lalu menyaksikannya tumbuh perlahan. Sama seperti gagasan-gagasan dalam hidup, ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan rasa ingin tahu yang tidak pernah selesai.