Em-be-ge
-(Jumat, 7 Agustus 2026)-
Terlepas dari pro dan kontra yang terus mengiringinya, kenyataannya Program MBG juga menghadirkan rasa syukur bagi sebagian masyarakat. Salah satu potret yang menarik perhatian datang dari sebuah pemberitaan tentang seorang bayi yang diberi nama MBG oleh orang tuanya. Meski kemudian pencatatan administrasi kependudukan tidak memungkinkan singkatan tersebut digunakan secara langsung sehingga harus diubah menjadi kepanjangan dari MBG, orang tuanya tetap bisa memanggil sang anak dengan nama itu.
Dalam pemberitaan tersebut dijelaskan bahwa sang ibu memberi nama Muhammad MBG ..... sebagai ungkapan syukur karena Program Makan Bergizi Gratis telah membawanya memperoleh pekerjaan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Terlepas dari bagaimana publik menafsirkan kisah itu, peristiwa tersebut menyampaikan satu hal sederhana: ada warga yang benar-benar merasakan manfaat program ini dalam kehidupannya.
Kisah itu mengingatkan bahwa realitas sosial tidak pernah tunggal. Di satu sisi, ada masyarakat yang mengkritik, mempertanyakan efektivitas, bahkan menolak program tersebut. Namun di sisi lain, ada pula mereka yang menyambutnya dengan antusias karena merasakan dampak yang nyata. Dua kenyataan itu hadir secara bersamaan dan sama-sama layak diakui. Karena itulah, tidak tepat jika satu kelompok merasa mewakili keseluruhan suara masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, jalan tengah yang lebih bijaksana bukanlah memperpanjang pertentangan, melainkan memastikan program dijalankan dengan tata kelola yang baik. Sebab, sebesar apa pun sebuah program, manfaatnya hanya akan terasa apabila dikelola secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. Fokus seharusnya bergeser dari sekadar memperdebatkan keberadaannya menuju mengawal pelaksanaannya agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Apalagi, program pemberian makan bergizi bukanlah gagasan yang sepenuhnya baru. Sejumlah negara telah menerapkan kebijakan serupa dan menunjukkan hasil positif terhadap peningkatan kualitas kesehatan, gizi, serta pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang. Tentu setiap negara memiliki tantangan dan konteks yang berbeda, tetapi pengalaman tersebut setidaknya menunjukkan bahwa program seperti ini memiliki peluang untuk berhasil apabila dijalankan dengan perencanaan dan pengawasan yang memadai.
Karena itu, menilai program hanya dari riuhnya opini di media sosial terasa kurang adil. Media sosial memang penting sebagai ruang menyampaikan aspirasi, tetapi ia juga bekerja melalui algoritma yang sering kali memperbesar suara-suara tertentu sehingga tampak seolah mewakili keseluruhan kenyataan. Padahal, kehidupan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang muncul di linimasa. Ada pengalaman, harapan, dan kebutuhan yang tidak selalu memperoleh ruang yang sama di jagat digital.
Boleh jadi, pemerintah tetap melanjutkan program ini karena melihat kenyataan yang lebih utuh di lapangan, yakni bahwa masih banyak masyarakat yang menyambutnya dengan harapan. Jika demikian, maka perbedaan pandangan seharusnya tidak lagi menjadi alasan untuk saling menegasikan. Mereka yang mendukung perlu terus mengawal agar program tetap berada di jalur yang benar, sementara mereka yang mengkritik dapat menjadi pengingat agar pelaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kebijakan tidak ditentukan oleh seberapa keras ia diperdebatkan, melainkan oleh seberapa besar manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.