Cap futur

-(Jumat, 21 Agustus 2026)-

Saya pernah mendengar judul sebuah buku: Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah. Seingat saya, buku itu bercerita tentang orang-orang yang dianggap mulai meninggalkan jalan dakwah, kehilangan semangat, atau dalam istilah yang kerap digunakan, mengalami futur.

Istilah itu terdengar sederhana. Seolah-olah ada orang yang sedang berjalan bersama dalam satu barisan, lalu karena satu dan lain hal berhenti, menyimpang, atau bahkan meninggalkan jalan yang sebelumnya ditempuh bersama.

Tetapi belakangan saya berpikir, jangan-jangan persoalannya tidak sesederhana itu.

Sebab, siapa sebenarnya yang berhak menentukan seseorang telah berguguran?

Pertanyaan itu penting, karena bisa jadi istilah futur tidak selalu lahir dari penilaian yang objektif terhadap perubahan iman, akhlak, atau amal seseorang. Bisa jadi, tanpa kita sadari, ada ukuran lain yang diam-diam digunakan: apakah seseorang masih berada di dalam kelompok kita atau sudah berada di luar kelompok kita.

Jika masih bersama, ia dianggap istiqamah.

Jika mulai berbeda, ia dianggap menyimpang.

Jika akhirnya memilih keluar, ia disebut futur.

Di titik inilah saya merasa perlu berhati-hati.

Sebab, seseorang bisa saja meninggalkan sebuah kelompok tanpa meninggalkan jalan kebaikan. Ia bisa keluar dari sebuah jamaah tanpa keluar dari jalan dakwah. Ia bahkan bisa mengambil jarak dari sebuah lingkungan tanpa sedikit pun kehilangan keinginannya untuk terus mengajak manusia kepada kebaikan.

Yang berubah mungkin bukan arah hidupnya, melainkan cara ia memandang jalan yang sedang ditempuh.

Saya membayangkan seseorang yang bertahun-tahun berada dalam satu kelompok. Ia belajar bersama, berjuang bersama, membangun sesuatu bersama, bahkan mungkin mengalami berbagai kesulitan bersama. Sampai pada suatu ketika ia menemukan sejumlah hal yang menurut pikirannya perlu diperbaiki.

Bukan karena ia tiba-tiba membenci kelompok itu.

Bukan pula karena ia ingin meninggalkan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan.

Justru karena ia masih peduli, ia mulai bertanya.

Apakah cara yang selama ini kita lakukan sudah yang paling baik?

Apakah semua yang telah menjadi kebiasaan harus terus dipertahankan hanya karena sudah lama dilakukan?

Apakah perbedaan pendapat selalu berarti perbedaan dalam kebaikan?

Dan yang paling mendasar: apakah kelompok kita adalah satu-satunya cara untuk menjalankan dakwah?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kadang tidak mudah diterima. Terutama oleh kelompok yang sudah lama merasa nyaman dengan cara berpikirnya sendiri.

Sebab kelompok, sebagaimana manusia, bisa memiliki ingatan yang panjang tetapi juga bisa memiliki ego yang panjang. Apa yang dahulu merupakan hasil ijtihad dan pemikiran, perlahan dapat berubah menjadi semacam identitas yang dianggap tidak boleh disentuh. Kritik terhadap gagasan akhirnya terasa seperti kritik terhadap kelompok. Perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai pembangkangan.

Di situlah persoalan mulai menjadi rumit.

Orang yang berbeda tidak lagi dipandang sebagai orang yang sedang mencari jalan terbaik, tetapi sebagai orang yang telah keluar dari jalan yang benar.

Dan ketika akhirnya ia memilih untuk menarik diri dan mendirikan kelompok sendiri, label itu menjadi semakin mudah diberikan: futur.

Padahal, apakah kita pernah benar-benar memeriksa kehidupannya setelah ia keluar?

Apakah ia menjadi lebih buruk?

Apakah ibadahnya berhenti?

Apakah akhlaknya berubah?

Apakah ia berhenti mengajak kepada kebaikan?

Apakah prinsip-prinsip yang dahulu ia perjuangkan tiba-tiba hilang?

Atau justru ia masih melakukan semua itu, hanya saja dengan cara pandang dan manhaj yang berbeda?

Bisa jadi ia masih membaca Al-Qur'an, masih beribadah, masih mengingatkan orang lain tentang kebaikan, masih mengurus umat, masih memikirkan kemaslahatan masyarakat, bahkan masih memperjuangkan nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan bersama. Hanya saja, ia tidak lagi berada dalam barisan yang sama.

Jika demikian, apakah benar ia telah berguguran?

Atau jangan-jangan yang berguguran sebenarnya hanyalah kesamaan kelompok?

Ini bukan berarti setiap orang yang meninggalkan sebuah kelompok pasti benar. Sama sekali bukan. Orang yang keluar bisa saja keliru. Orang yang bertahan juga bisa saja benar. Sebaliknya, orang yang bertahan pun bisa keliru, sementara orang yang keluar mungkin menemukan sesuatu yang lebih baik.

Karena itu, posisi di dalam atau di luar sebuah kelompok tidak cukup untuk menjadi ukuran kebenaran.

Kita sering terlalu mudah mengubah perbedaan organisasi menjadi perbedaan iman. Kita mencampuradukkan loyalitas kepada kelompok dengan loyalitas kepada nilai. Padahal keduanya tidak selalu sama.

Saya kira di sinilah kita perlu membedakan antara futur dan perbedaan pilihan.

Futur lebih dekat pada keadaan ketika seseorang mengalami kelemahan semangat dalam menjalankan kebaikan. Ada kemunduran dalam amal, ada kelelahan dalam perjuangan, atau ada jarak yang semakin jauh dari nilai-nilai yang sebelumnya diyakini.

Sementara seseorang yang keluar dari kelompok karena perbedaan pemikiran belum tentu mengalami keadaan seperti itu.

Ia mungkin justru sedang tumbuh.

Ia mungkin sedang membaca ulang pengalaman masa lalunya. Ia mungkin sedang menguji kembali sejumlah gagasan yang selama ini diterima begitu saja. Ia mungkin sedang mencari bentuk perjuangan yang menurut keyakinannya lebih sesuai dengan keadaan.

Bukankah manusia memang diberi akal untuk berpikir?

Bahkan dalam memahami ayat dan dalil pun manusia tidak selalu sampai pada kesimpulan yang sama. Sejarah umat Islam sendiri memperlihatkan betapa luasnya ruang perbedaan dalam memahami persoalan-persoalan keagamaan. Perbedaan tidak selalu menjadi tanda kerusakan. Dalam batas tertentu, perbedaan justru menunjukkan bahwa manusia sedang menggunakan akalnya untuk memahami sesuatu yang diyakininya benar.

Tentu saja, perbedaan juga bisa melahirkan kesalahan. Tidak semua gagasan baru otomatis lebih baik. Tidak semua kelompok baru lebih benar daripada kelompok lama. Dan tidak semua kritik terhadap kelompok lama harus diterima.

Tetapi setidaknya kita perlu menyediakan ruang bagi kemungkinan bahwa orang yang berbeda dari kita tidak selalu lebih buruk daripada kita.

Ini yang sering hilang dalam kehidupan berkelompok.

Kita begitu mudah menjadikan kelompok sebagai cermin kebenaran. Akhirnya, apa yang benar adalah apa yang kita yakini bersama, sedangkan apa yang berbeda dianggap sebagai penyimpangan. Kita lupa bahwa kelompok hanyalah wadah. Ia bukan kebenaran itu sendiri.

Wadah bisa berubah. Struktur bisa diperbaiki. Metode bisa dievaluasi. Bahkan sebuah cara perjuangan yang dahulu dianggap paling tepat bisa saja perlu disesuaikan ketika zaman berubah dan persoalan umat berkembang.

Dakwah seharusnya tidak menjadi rumah yang pintunya hanya boleh digunakan untuk masuk, tetapi tidak boleh digunakan untuk keluar.

Sebab manusia bukan benda mati yang sekali ditempatkan akan selamanya berada di tempat yang sama. Ia berpikir, mengalami, belajar, kecewa, menemukan sesuatu, lalu mungkin mengambil keputusan baru.

Ada kalanya seseorang keluar bukan karena kehilangan idealisme, tetapi karena idealismenya justru membuat ia tidak sanggup lagi menerima sesuatu yang menurutnya perlu diperbaiki.

Ada kalanya seseorang meninggalkan barisan bukan karena ingin berhenti berjalan, tetapi karena ia merasa jalan yang ditempuh bersama perlu dicari kembali arahnya.

Dan mungkin, yang paling perlu kita waspadai adalah ketika kita merasa memiliki hak untuk menentukan siapa yang masih berada di jalan dakwah dan siapa yang sudah berguguran.

Sebab jalan dakwah bukan milik kelompok tertentu.

Kebaikan bukan merek dagang organisasi tertentu.

Kebenaran juga tidak otomatis menjadi milik mereka yang paling lama berdiri dalam sebuah barisan.

Pada akhirnya, kita semua hanyalah orang-orang yang sedang berjalan. Ada yang memilih jalan yang sama dengan kita, ada yang berbelok, ada yang membuat jalan baru, dan ada pula yang suatu hari kembali bertemu di tempat yang tidak pernah kita sangka.

Mungkin karena itu kita perlu lebih berhati-hati dalam memberi cap kepada orang lain.

Jangan-jangan seseorang yang kita sebut futur sebenarnya sedang melakukan perjalanan dengan cara yang berbeda.

Jangan-jangan ia tidak meninggalkan dakwah, melainkan meninggalkan cara berdakwah yang menurutnya sudah tidak lagi memadai.

Jangan-jangan ia tidak meninggalkan kebaikan, melainkan sedang berusaha menemukan bentuk kebaikan yang lebih sesuai dengan keyakinannya.

Dan yang paling menggelisahkan: jangan-jangan ketika kita sibuk menghitung siapa saja yang berguguran dari barisan kita, kita justru lupa bertanya kepada diri sendiri—apakah kita masih berjalan menuju kebaikan, atau hanya sedang berjalan dalam lingkaran yang sama karena terlalu nyaman untuk beranjak?

Barangkali, sebelum menyebut orang lain berguguran, kita perlu memastikan terlebih dahulu bahwa kita sendiri masih benar-benar berjalan.

Populer

Penggunaan Dana Desa untuk Pencegahan Stunting di Masa Pandemi

Belajar ikhlas

Bubur siring

Tembok besar

Sarangan - Cemoro Sewu - Tawangmangu

Eksperimen ketakutan

Nostalgia Singa

Sepi ing pamrih

Destinasi wisata

Kue pocong