Barisan sakit hati

-(Rabu, 5 Agustus 2026)-

Saya sering mengamati satu pola yang berulang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia politik. Ada orang-orang yang dulunya berdiri paling dekat dengan seseorang atau sebuah kelompok, tetapi kemudian berubah menjadi lawan yang paling keras. Perubahan itu mengingatkan saya pada kisah dua orang yang pernah sangat dekat, mungkin pernah saling mencintai, lalu berpisah. Anehnya, setelah perpisahan, salah satunya tampak menyimpan begitu banyak kemarahan, sementara pihak yang lain mungkin sudah melanjutkan hidup tanpa lagi memelihara rasa benci.

Barangkali begitulah politik bekerja. Kedekatan tidak selalu berakhir dengan kesetiaan. Kadang justru kedekatanlah yang melahirkan kekecewaan paling dalam ketika harapan tidak terpenuhi.

Kita sering menyaksikan orang-orang yang dahulu berada dalam satu barisan, ikut merancang strategi, memperjuangkan kemenangan, bahkan menjadi wajah yang paling lantang membela seorang tokoh. Namun, beberapa waktu kemudian mereka berdiri di seberang. Yang dahulu dipuji, kini dikritik. Yang dulu dibela, kini dibongkar keburukannya. Seolah-olah semua cerita yang selama ini disimpan akhirnya menemukan panggungnya.

Saya tidak tahu istilah yang paling tepat untuk menggambarkan fenomena semacam ini. Di media sosial sering muncul istilah barisan sakit hati. Mungkin ada benarnya, mungkin juga terlalu menyederhanakan persoalan. Sebab manusia tidak pernah sesederhana label yang diberikan kepadanya.

Saya justru membayangkan bahwa prosesnya mungkin jauh lebih manusiawi daripada yang terlihat. Bisa jadi dahulu orang itu benar-benar memberikan tenaga, waktu, bahkan gagasan terbaiknya. Ia merasa ikut membangun sesuatu dari awal. Ketika berbagai ide disampaikan, ia berharap ide-ide itu diterima dan dijalankan.

Namun, kehidupan tidak pernah berhenti pada satu lingkaran. Orang-orang baru datang dengan perspektif yang berbeda, gagasan yang mungkin lebih segar, atau kemampuan membangun dukungan yang lebih luas. Seorang pemimpin tentu akan mempertimbangkan banyak pilihan sebelum mengambil keputusan. Tidak semua usulan dapat diterima, bukan selalu karena buruk, tetapi karena ada alternatif yang dianggap lebih sesuai dengan keadaan saat itu.

Di titik inilah perasaan sering kali mengambil alih logika. Orang yang dulu merasa dekat mulai merasa tidak lagi didengar. Ia melihat orang-orang baru memperoleh ruang yang lebih besar. Perlahan muncul kesan bahwa dirinya tidak lagi dibutuhkan. Rasa kecewa berubah menjadi rasa tersisih, lalu berkembang menjadi keyakinan bahwa semua jasa dan pengorbanannya telah dilupakan.

Barangkali yang terluka bukan hanya kepentingannya, melainkan juga harga dirinya.

Ketika seseorang sudah merasa tersisih, jarak emosional perlahan berubah menjadi jarak politik. Ia memilih keluar dari lingkaran lama, lalu menemukan tempat baru yang justru berseberangan. Di sana ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa. Masing-masing membawa cerita, kekecewaan, dan versinya sendiri tentang masa lalu. Cerita-cerita itu kemudian saling menguatkan, membentuk narasi yang semakin lama semakin terasa sebagai satu-satunya kebenaran.

Di sinilah saya merasa perlu berhati-hati.

Sebab setiap kisah selalu memiliki konteks. Sebuah keputusan yang hari ini tampak keliru mungkin diambil dalam situasi yang saat itu tidak kita pahami. Sebuah ucapan yang kini terdengar buruk bisa jadi lahir dari keadaan yang sama sekali berbeda. Namun ketika sebuah cerita dipindahkan ke ruang publik tanpa konteksnya, ia mudah berubah menjadi stigma. Potongan-potongan pengalaman disusun ulang menjadi kesimpulan besar, lalu beredar luas melalui podcast, media sosial, dan berbagai kanal digital.

Algoritma kemudian melakukan pekerjaannya. Ia tidak bertugas mencari kebenaran, melainkan mempertahankan perhatian kita. Karena itu, kita terus disuguhi informasi yang sejalan dengan keyakinan yang sudah kita miliki. Kita mendengar cerita yang ingin kita dengar, membaca pendapat yang menguatkan posisi kita, dan semakin jarang bertemu dengan sudut pandang yang berbeda.

Lama-kelamaan, ruang publik berubah seperti lorong-lorong yang terpisah. Masing-masing kelompok merasa memiliki fakta yang paling sahih, sementara kelompok lain dianggap sedang hidup dalam kebohongan. Padahal, bisa jadi semua hanya sedang melihat satu peristiwa dari jendela yang berbeda.

Entahlah, mana yang sepenuhnya benar dan mana yang sepenuhnya salah. Saya semakin merasa bahwa kebenaran di ruang digital sering kali tidak hadir sebagai gambaran utuh, melainkan sebagai serpihan-serpihan yang dipilih sesuai kebutuhan masing-masing. Kita tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga memilih informasi yang membuat kita merasa benar.

Yang paling saya khawatirkan justru bukan pertarungan para elite politik itu sendiri. Politik memang selalu mengenal pergeseran loyalitas, perbedaan kepentingan, dan perubahan posisi. Yang mengusik pikiran saya adalah masyarakat yang setiap hari menjadi penonton dari pertarungan narasi tersebut, terutama generasi muda yang tumbuh di tengah banjir informasi yang sulit dibedakan antara kesaksian, opini, dan propaganda.

Mereka mungkin tidak lagi kesulitan mencari informasi. Justru tantangan terbesarnya adalah menemukan kebijaksanaan untuk memilahnya.

Mungkin memang tidak ada yang salah dengan orang yang berpindah kubu. Tidak pula selalu salah bagi mereka yang memilih bersuara setelah berpisah. Yang patut kita waspadai adalah ketika kekecewaan pribadi berubah menjadi sumber kebenaran publik tanpa pernah diuji oleh konteks yang utuh. Sebab sejak saat itu, yang dipertaruhkan bukan lagi hubungan antarindividu, melainkan cara masyarakat memahami kenyataan.

Dan di zaman algoritma seperti sekarang, kenyataan sering kali bukan lagi sesuatu yang kita temukan. Ia adalah sesuatu yang setiap hari disusun ulang oleh apa yang paling sering kita lihat, kita dengar, dan akhirnya kita percayai.

Populer

Tiga mazhab & Berebut Roti

Membaca pikiran

Pesisir Vs Pedalaman

Sunyi berdua

Eksperimen ketakutan

Perbendaharaan Go Green

Kontes administrasi

Kesenangan musiman

Salah paham

ASN AI