Berburu Sunrise
-(Senin, 31 Agustus 2026)-
Setelah duduk beberapa saat seusai salat Subuh berjamaah di masjid, saya bergegas pulang ke rumah. Seperti biasa, ada rutinitas yang saya jalani setiap pagi: membaca Al-Qur’an dua halaman, lalu membaca terjemahan Al-Qur’an dua halaman pula. Tetapi pagi itu sedikit berbeda. Saya sengaja terburu-buru karena ingin mempersiapkan diri untuk gowes.
Biasanya, sebelum bersepeda saya melakukan pemanasan dengan beberapa gerakan sederhana. Pagi itu, pemanasan saya lewati. Ada satu tujuan yang membuat saya ingin segera berangkat: mengejar matahari terbit.
Saya menargetkan sebelum pukul 05.50 sudah tiba di sebuah tempat di pinggir laut yang saya tuju. Dari rumah, perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Setelah mengenakan perlengkapan yang diperlukan, saya segera keluar dan mengayuh sepeda.
Keinginan berburu sunrise itu sebenarnya muncul pada akhir pekan sebelumnya. Saat melewati tempat tersebut, saya melihat matahari sudah cukup tinggi, mungkin setinggi tombak. Langit ketika itu begitu cerah, hampir tanpa awan. Saya membayangkan, jika datang sedikit lebih pagi, mungkin saya bisa menyaksikan matahari muncul dari balik cakrawala.
Sejak saat itu saya berjanji kepada diri sendiri: suatu pagi saya harus kembali ke tempat ini, datang lebih awal, dan melihat sunrise dari sana.
Pagi itu saya menepati janji tersebut.
Hanya saja, alam rupanya tidak selalu bersedia mengikuti rencana manusia. Langit tidak secerah akhir pekan sebelumnya. Beberapa awan menggantung dan sedikit menghalangi pandangan ketika matahari mulai muncul. Tetapi justru di sela-sela awan itulah saya masih bisa melihatnya perlahan naik dari cakrawala, memancarkan warna jingga yang hangat.
Barangkali ini pertama kalinya saya benar-benar berburu sunrise. Bukan sekadar kebetulan melihat matahari terbit ketika sedang berada di luar rumah, melainkan sengaja datang untuk menyaksikannya.
Saya berdiri beberapa menit, memandangi sekaligus merekam pemandangan itu dengan telepon genggam. Setelah itu saya duduk. Matahari terus bergerak naik, perlahan tetapi pasti, seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun.Saya menyadari sesuatu yang sederhana: ternyata pemandangan seperti ini tidak harus dicari jauh-jauh.
Tak lama kemudian saya kembali bergegas meninggalkan tempat itu. Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat. Hari harus dilanjutkan. Ada pekerjaan yang menunggu, ada kewajiban yang tidak bisa ditunda. Sunrise yang baru saja saya nikmati pun segera menjadi bagian dari masa lalu.
Namun beberapa menit itu terasa cukup untuk membuat pagi saya berbeda.
Selama ini kita mungkin sering mengira bahwa untuk menikmati sesuatu yang indah, kita harus pergi jauh. Kita mencari pantai yang terkenal, tempat wisata yang ramai, atau lokasi yang masuk dalam daftar rekomendasi orang lain. Padahal, bisa jadi ada keindahan yang setiap hari berada tidak jauh dari tempat kita tinggal, hanya saja kita tidak pernah benar-benar mencarinya.
Tinggal di tepi laut, misalnya, sebenarnya adalah sebuah kemewahan. Kita memiliki kesempatan untuk menyaksikan matahari muncul dari cakrawala, mendengar suara ombak, atau sekadar duduk memandangi laut sebelum kesibukan hari dimulai. Tetapi sesuatu yang terlalu dekat sering kali justru kehilangan daya tariknya. Kita terbiasa melihatnya sehingga berhenti menyadarinya.
Mungkin begitulah cara manusia memperlakukan banyak hal dalam hidup. Kita baru menyadari nilainya setelah sesuatu itu jauh, hilang, atau tidak lagi tersedia.
Pagi itu saya juga belajar bahwa menikmati tempat tinggal bukan hanya soal memiliki waktu luang. Kadang-kadang kita hanya perlu sedikit rasa ingin tahu untuk menjelajahi lingkungan sendiri. Mengambil jalan yang berbeda ketika bersepeda. Berhenti di tempat yang sebelumnya hanya kita lewati. Atau bangun sedikit lebih pagi untuk melihat sesuatu yang selama ini hadir setiap hari tetapi tidak pernah benar-benar kita lihat.
Dan ada satu hal lain yang terasa penting: kita tidak selalu harus menunggu libur untuk menikmati hidup.
Pagi itu, sebelum pekerjaan dimulai, saya sempat mencuri beberapa menit untuk duduk di pinggir laut dan menyaksikan matahari terbit. Tidak ada perjalanan jauh, tidak ada biaya khusus, tidak ada agenda besar. Hanya sepeda, laut, langit, matahari, dan waktu yang terus bergerak.
Barangkali kemewahan hidup memang tidak selalu berbentuk sesuatu yang mahal. Kadang ia hadir sebagai kesempatan sederhana untuk benar-benar berada di tempat kita berada.
Menyaksikan matahari terbit membuat saya berpikir bahwa hidup juga berjalan seperti itu. Matahari tidak pernah tergesa-gesa, tetapi ia selalu sampai pada waktunya. Kita justru yang sering terburu-buru mengejar hari, sampai lupa melihat apa yang sebenarnya sedang berlangsung di hadapan kita.
Pagi itu saya beruntung sempat berhenti sejenak.
Bukan untuk menghentikan waktu—karena itu mustahil—melainkan untuk benar-benar menjalaninya.
