Latihan karakter

-(Senin, 24 Agustus 2026)-

Mari kita buang sampah pada tempatnya. Kalimat itu begitu akrab di telinga kita. Para guru mengatakannya, para pemimpin mengulanginya, bahkan di banyak tempat kalimat semacam itu ditulis besar-besar agar mudah dilihat orang. Kita berharap orang membaca, memahami, lalu melakukannya.

Tetapi saya mulai berpikir, jangan-jangan di situlah persoalannya. Kita terlalu sering mengira bahwa perilaku manusia cukup dibentuk dengan nasihat.

Padahal, dari pembicaraan dengan seorang narasumber ahli neurosains, saya menangkap satu hal yang sederhana tetapi penting: perilaku tidak lahir hanya dari apa yang kita dengar, melainkan dari apa yang berulang kali kita lakukan. Otak manusia belajar melalui pengulangan. Sesuatu yang terus dilakukan akan menjadi pola, dan pola yang terus dipelihara pada akhirnya dapat menjadi kebiasaan.

Karena itu, ketika kita mengatakan kepada anak-anak, “Buanglah sampah pada tempatnya,” tetapi mereka tidak pernah benar-benar dilatih untuk melakukannya, pesan itu berpotensi berhenti sebagai kalimat. Ia menjadi slogan yang baik, tetapi tidak selalu menjadi perilaku yang baik.

Hal yang sama berlaku untuk antre. Kita ingin anak-anak belajar tertib, tetapi apakah mereka sungguh-sungguh dilatih untuk antre? Apakah mereka dibiasakan berdiri dalam barisan, menunggu giliran, dan menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang harus didahulukan sebelum dirinya? Atau kita hanya marah ketika mereka menyerobot?

Ada perbedaan besar antara mengatakan “jadilah disiplin” dan melatih seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan kecil yang membentuk disiplin.

Karakter, barangkali, tidak dibangun melalui satu nasihat besar. Ia dibentuk oleh latihan-latihan kecil yang dilakukan berulang kali.

Karena itu saya semakin percaya bahwa pembiasaan dan latihan jauh lebih penting daripada nasihat yang terlalu sering kita berikan. Nasihat memang diperlukan. Ia memberi arah. Tetapi latihanlah yang membuat arah itu menjadi kemampuan.

Kita bisa mengatakan kepada seorang anak bahwa kejujuran adalah nilai yang penting. Namun, ketika ia menemukan uang di halaman sekolah, apa yang kemudian ia lakukan? Di situlah nilai mulai diuji. Kita bisa mengajarkan pentingnya menghormati orang lain, tetapi ketika ia harus menunggu giliran, mengalah, atau bekerja bersama teman yang tidak ia sukai, di situlah karakter sebenarnya sedang dibentuk.

Karakter tidak selesai di ruang kelas. Ia tumbuh dalam praktik.

Maka ketika pemerintah berbicara tentang mencetak generasi berkualitas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, saya kira ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita ajukan: generasi seperti apa yang sebenarnya ingin kita bentuk, dan latihan apa yang kita berikan untuk mewujudkannya?

Sebab kita sering berbicara terlalu jauh tentang visi, tetapi lupa pada latihan yang sangat dekat.

Kita ingin generasi yang disiplin. Latih kedisiplinan.

Kita ingin generasi yang bersih. Latih kebiasaan menjaga kebersihan.

Kita ingin generasi yang mampu bekerja sama. Latih mereka berkolaborasi.

Kita ingin generasi yang tidak mudah pamer. Latih mereka untuk menghargai proses, bukan sekadar hasil dan pengakuan.

Dengan kata lain, kalau kita ingin menghasilkan karakter tertentu, karakter itu harus dilatih sejak awal. Tidak cukup dituliskan dalam kurikulum, spanduk, pidato, atau slogan.

Saya juga melihat hal ini dalam kebiasaan yang sekarang kerap disebut flexing. Mengapa seseorang begitu ingin menunjukkan apa yang dimilikinya kepada orang lain? Tentu penyebabnya bisa bermacam-macam. Tetapi jika perilaku semacam itu terus mendapatkan perhatian, penghargaan, bahkan dianggap sebagai ukuran keberhasilan, maka tanpa sadar kita sedang melatih manusia untuk mencari pengakuan melalui apa yang tampak.

Apa yang sering kita beri panggung, itulah yang berpotensi tumbuh.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah anak-anak kita sering diberi nasihat untuk tidak pamer. Yang lebih penting adalah lingkungan seperti apa yang kita bangun. Apa yang kita puji? Apa yang kita beri penghargaan? Apa yang kita jadikan ukuran keberhasilan?

Hal yang sama terjadi pada budaya kompetisi.

Kompetisi sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan manusia. Kita memiliki dorongan untuk menjadi lebih baik daripada orang lain. Tetapi ketika hampir semua ruang pendidikan, organisasi, dan masyarakat dipenuhi dengan lomba, peringkat, juara, dan penghargaan individual, kita jangan heran jika yang semakin terlatih adalah kemampuan untuk bersaing.

Kita sering bertanya mengapa kolaborasi sulit tumbuh. Padahal mungkin sejak kecil kita lebih banyak melatih anak untuk menjadi pemenang daripada menjadi rekan yang baik.

Di sekolah ada lomba. Di kantor ada kompetisi. Di masyarakat ada penghargaan untuk yang terbaik. Semua itu tidak salah. Kompetisi dapat mendorong seseorang untuk berkembang. Tetapi jika kompetisi menjadi satu-satunya bahasa keberhasilan, maka kita sedang mengabaikan kemampuan lain yang sama pentingnya: berbagi, mendengar, membantu, mengalah, dan bekerja bersama.

Padahal kehidupan tidak selalu berupa perlombaan.

Ada banyak persoalan yang justru tidak bisa diselesaikan oleh seorang pemenang sendirian. Perubahan organisasi, pembangunan masyarakat, pelayanan publik, bahkan kehidupan keluarga membutuhkan kemampuan untuk duduk bersama dan menyatukan kepentingan.

Kolaborasi pun harus dilatih.

Anak-anak perlu mengalami bagaimana rasanya menyelesaikan sesuatu bersama-sama. Mereka perlu belajar bahwa keberhasilan kelompok tidak selalu berarti namanya paling terlihat. Mereka perlu memahami bahwa membantu orang lain juga merupakan bentuk keberhasilan.

Kalau tidak pernah dilatih, bagaimana kita berharap ketika dewasa mereka tiba-tiba menjadi manusia yang gemar berkolaborasi?

Di sinilah saya kira rumus membentuk generasi sebenarnya tidak terlalu rumit: latihan dan latihan.

Kita tidak bisa menginginkan karakter tertentu tetapi memberikan latihan yang berlawanan dengan karakter tersebut. Tidak mungkin kita menginginkan generasi yang tertib tetapi membiarkan ketidaktertiban menjadi kebiasaan. Tidak mungkin kita ingin generasi yang mampu bekerja sama tetapi sejak kecil terus-menerus mengajarkan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh seberapa jauh ia mengalahkan orang lain.

Generasi tidak dibentuk hanya oleh apa yang kita katakan kepada mereka. Generasi dibentuk oleh apa yang setiap hari mereka alami.

Kalau kita ingin generasi yang disiplin, ciptakan kehidupan yang melatih disiplin. Kalau ingin generasi yang bersih, ciptakan lingkungan yang membiasakan kebersihan. Kalau ingin generasi yang kolaboratif, berikan ruang yang membuat mereka harus bekerja bersama. Kalau ingin generasi yang rendah hati, jangan hanya menasihati mereka agar tidak sombong; bangun lingkungan yang tidak menjadikan pamer sebagai ukuran keberhasilan.

Mungkin kita terlalu sering mencari metode pendidikan yang rumit untuk menghasilkan manusia yang berkualitas. Padahal sebagian jawabannya justru sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari: ulangilah perilaku yang ingin kita jadikan karakter.

Seperti seorang pemain olahraga yang tidak menjadi hebat hanya karena membaca buku tentang teknik permainan. Ia menjadi terampil karena berlatih. Berkali-kali. Gerakan yang semula terasa asing akhirnya menjadi otomatis. Tubuh mengingat apa yang terus dilatih.

Barangkali karakter manusia pun demikian.

Apa yang ingin kita lihat pada generasi mendatang harus mulai kita latihkan hari ini.

Jika kita ingin generasi yang tertib, latih ketertiban. Jika ingin generasi yang peduli, latih kepedulian. Jika ingin generasi yang mampu bekerja sama, latih kolaborasi. Jika ingin generasi yang tidak mudah terjebak dalam kebutuhan untuk selalu terlihat, latih mereka menikmati proses tanpa harus selalu mencari tepuk tangan.

Karena pada akhirnya, kita tidak sedang membentuk generasi melalui kata-kata. Kita sedang membentuknya melalui kebiasaan.

Dan kebiasaan tidak lahir dari himbauan.

Kebiasaan lahir dari latihan.

Latihan yang dilakukan hari ini, mungkin baru akan terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian. Tetapi justru itulah pekerjaan paling penting dalam membentuk sebuah generasi: menanam sesuatu yang hasilnya belum tentu kita nikmati sendiri.

Jika kita ingin suatu hari melihat generasi yang memiliki karakter seperti yang kita bayangkan, maka kita harus mulai bertanya bukan hanya, “Apa yang ingin kita katakan kepada mereka?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang setiap hari kita latihkan kepada mereka?”

Sebab tidak mungkin kita menginginkan generasi bergaya Jepang tetapi melatih mereka dengan cara yang sama sekali berbeda. Karakter bukanlah pakaian yang bisa dikenakan ketika diperlukan. Ia adalah hasil dari kebiasaan yang terus menerus dilatih.

Maka, jika kita sungguh-sungguh ingin mencetak generasi emas, mungkin pekerjaan kita bukan memperbanyak slogan tentang generasi emas.

Pekerjaan kita adalah mulai melatihnya.

Hari ini.

Dan mengulanginya lagi besok.

Begitu seterusnya.

Karena generasi yang kita inginkan pada masa depan sesungguhnya sedang dibentuk oleh latihan-latihan kecil yang kita berikan kepada mereka hari ini.

Populer

Tasyakuran haji

Sarangan - Cemoro Sewu - Tawangmangu

Belajar ikhlas

Kebiasaan malam

Tembok besar

Sangu halal bihalal

Pembiayaan SBSN Pada Proyek Infrastruktur

Mengejar Target Realisasi Belanja Triwulan II

Percepatan Penyaluran Dana Desa Untuk BLT Desa

Penggunaan Dana Desa untuk Pencegahan Stunting di Masa Pandemi