Rumor ketakutan
-(Minggu, 9 Agustus 2026)-
Belakangan ini media sosial diramaikan oleh rumor bahwa sejumlah mal mulai memasang pagar yang lebih tinggi. Alasannya, konon sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya kerusuhan dan penjarahan. Entah benar atau tidak, kabar semacam ini segera memancing banyak pertanyaan di kepala saya. Apakah para pengelola mal memang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui publik sehingga merasa perlu mengambil langkah pengamanan seperti itu? Ataukah justru pagar itu hanyalah kebetulan yang kemudian diberi makna berlebihan oleh ruang digital yang gemar merangkai spekulasi?
Saya cenderung memilih kemungkinan yang kedua. Di era media sosial, sebuah fakta sering kali tidak berjalan sendirian. Ia segera ditemani asumsi, lalu dibungkus narasi yang semakin jauh dari kenyataan. Pagar yang mungkin dibangun karena alasan keamanan, renovasi, atau pertimbangan teknis lainnya, bisa berubah menjadi "bukti" bahwa situasi genting sedang menunggu di depan mata. Dari satu unggahan lahirlah ribuan tafsir, dan dari ribuan tafsir itu tumbuh rasa takut yang perlahan menyebar tanpa perlu ada kejadian apa pun.
Di situlah saya merasa kita perlu lebih berhati-hati. Jangan sampai perhatian kita justru tersedot untuk menyalahkan pemilik mal yang melakukan pemagaran. Bagaimanapun, itu adalah hak mereka sebagai pengelola properti, selama tidak melanggar aturan yang berlaku. Yang lebih layak dipertanyakan justru mereka yang pertama kali menggiring opini bahwa pagar tersebut merupakan pertanda akan terjadinya kerusuhan. Apa yang sebenarnya ingin mereka capai? Apakah sekadar mengejar perhatian, membangun sensasi, atau memang sengaja menanamkan kecemasan di tengah masyarakat?
Rumor bekerja seperti percikan api di musim kemarau. Yang berbahaya bukan hanya apinya, melainkan juga angin yang membuatnya menjalar ke mana-mana. Dalam ruang digital, angin itu bernama tombol share, forward, dan algoritma yang lebih menyukai informasi mengejutkan daripada informasi yang akurat. Akibatnya, sesuatu yang belum tentu benar dapat menjelma seolah-olah menjadi kenyataan hanya karena terus-menerus diulang.
Saya sering merasa heran melihat ada begitu banyak orang yang seolah tidak pernah lelah menghembuskan rumor dan opini yang menggiring publik untuk selalu curiga terhadap suatu keadaan, kelompok tertentu, bahkan pemerintah. Padahal, masyarakat membutuhkan informasi yang jernih, bukan kecemasan yang diproduksi setiap hari. Tentu, sikap kritis adalah fondasi penting dalam kehidupan demokrasi. Kritik yang berbasis data, fakta, dan argumentasi justru menjadi penyeimbang kekuasaan sekaligus pengingat agar setiap pihak tetap berada di jalur yang benar.
Namun, ketika kritik dibangun di atas informasi yang belum terverifikasi, dipenuhi prasangka, atau sengaja memelintir fakta demi membangun ketakutan, maka ia telah bergeser dari kritik menjadi provokasi. Di titik itulah kebebasan berekspresi kehilangan nilai moralnya, karena tidak lagi bertujuan mencari kebenaran, melainkan menciptakan kegaduhan.
Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan juga kedewasaan untuk menyaring setiap informasi sebelum mempercayainya. Tidak semua yang viral adalah kenyataan, sebagaimana tidak setiap pagar adalah pertanda datangnya kerusuhan. Terkadang, yang lebih berbahaya daripada sebuah pagar adalah tembok ketakutan yang dibangun oleh rumor. Sebab ketika rasa takut berhasil menguasai pikiran banyak orang, tujuan para penyebar provokasi sesungguhnya sudah tercapai.