Mata uang
-(Kamis, 26 Februari 2026)-
Mata uang di masa depan, dalam bayangan saya, adalah energi. Itu bisa terjadi ketika AI dan robot humanoid telah diproduksi massal dan bekerja sepenuhnya untuk manusia. Pada titik itu, peradaban memasuki fase baru: mesin menjadi pelaku utama produksi, manusia bergeser peran menjadi pengarah—atau bahkan sekadar penikmat hasilnya.
Bayangkan jika seluruh barang dan jasa diproduksi oleh AI dan robot humanoid. Artinya, penawaran akan melimpah secara ekstrem. Hukum ekonomi sederhana mengajarkan bahwa ketika penawaran jauh melampaui permintaan, harga akan jatuh. Deflasi bukan lagi risiko, melainkan konsekuensi logis. Barang dan jasa menjadi sangat murah—bahkan mungkin tak lagi memiliki harga. Gratis. Jika itu terjadi, uang kehilangan fungsinya sebagai alat tukar. Ia menjadi simbol yang usang, seperti tiket di dunia yang tak lagi mengenal pintu masuk.
Namun di balik kelimpahan itu, ada satu fondasi yang tak berubah: energi.
Teknologi, secerdas apa pun, tetap membutuhkan daya untuk hidup. AI, robot humanoid, pusat data, sistem logistik otomatis—semuanya berdiri di atas pasokan energi. Tanpa energi, seluruh kecerdasan itu hanyalah potensi yang tak menyala. Maka pada zaman tersebut, kebutuhan utama bukan lagi barang, melainkan energi untuk menghidupkan teknologi yang memproduksi barang itu sendiri. Bahkan mungkin sumber energi tidak ada yang mau menjualnya, karena setiap pihak memerlukannya untuk menopang sistemnya sendiri.
Di sinilah peluang besar terbuka: pengembangan teknologi untuk mencari dan mengelola sumber energi murah. Energi, dalam pengertian luas, termasuk makanan sebagai sumber kalori. Walau robot mengolah sawah dan ladang, manusia tetap memerlukan asupan energi biologis. Lahan pertanian tetap dibutuhkan—hanya saja yang bekerja adalah robot AI, bukan lagi tenaga manusia. Tanah tetap menjadi panggung kehidupan, meski aktornya berganti.
Sumber listrik paling murah secara alamiah adalah matahari. Ia hadir setiap hari tanpa kontrak dan tanpa negosiasi. Karena itu, tantangan utama bukan sekadar menangkap sinarnya, melainkan menyimpannya. Bagaimana panas dan cahaya matahari dapat diubah dan disimpan dalam baterai—kecil maupun besar—sebagai cadangan energi? Pertanyaannya bukan lagi “apakah ada energi?”, melainkan “bagaimana kita mengelolanya secara efisien dan berkelanjutan?”
Dalam skenario ini, membayangkan manusia tak perlu lagi bekerja bukanlah hal mustahil. Bekerja menjadi opsional—sebuah pilihan, mungkin bahkan hobi. Bukan lagi kewajiban ekonomi atau tanggung jawab untuk bertahan hidup, karena seluruh kebutuhan material telah dikerjakan oleh robot AI. Manusia terbebas dari tekanan produksi, tetapi sekaligus dihadapkan pada ruang kosong yang luas: kebebasan.
Apakah itu kemajuan bagi peradaban manusia? Secara material, mungkin iya. Kelimpahan menggantikan kelangkaan. Efisiensi menggantikan kerja keras fisik. Namun secara eksistensial, pertanyaannya lebih dalam. Selama ribuan tahun, kerja bukan hanya cara bertahan hidup, tetapi juga sumber identitas dan makna. Jika kerja tak lagi wajib, di mana manusia akan menemukan arti dirinya?
Bisa jadi kita memasuki era kematangan peradaban, di mana manusia fokus pada kreativitas, refleksi, dan pengembangan diri. Tetapi bisa juga kita menghadapi kebingungan eksistensial—seperti pelaut yang tiba-tiba kehilangan arah karena lautan terlalu tenang.
Saya tidak menawarkan jawaban pasti. Saya hanya membayangkan kemungkinan itu.
Mari kita tunggu datangnya zaman tersebut—zaman ketika energi menjadi mata uang, mesin menjadi pekerja, dan manusia kembali bertanya tentang makna hidupnya sendiri.