Fiksi kebersamaan
-(Senin, 23 Februari 2026)-
Percayalah, kebahagiaan itu terletak pada komunitas, dalam arti minimal dua orang. Entah itu bersama pasangan, keluarga inti, keluarga besar, komunitas kantoran, jamaah masjid, komunitas hobi, dan seterusnya. Ada rasa hidup yang berbeda ketika sesuatu dijalani bersama—seolah beban terbagi, seolah makna menjadi lebih tebal karena ada yang menyaksikan.
Namun, apakah itu berarti sendiri tidak bahagia? Tentu tidak sesederhana berlawanan begitu. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Bahkan adakalanya sendiri justru lebih melegakan dibanding bersama—terutama ketika tidak ada kecocokan lagi. Kebersamaan tanpa keselarasan hanya melahirkan kelelahan batin.
Artinya, kecocokan menjadi kunci. Bukan sekadar hadir bersama, tetapi selaras dalam cara pandang dan rasa. Ini pun berlaku dalam satu komunitas. Sekelompok orang bisa saja berada dalam wadah yang sama, tetapi jika nilai dan pemikirannya tidak lagi bertemu, retakan itu perlahan akan terasa.
Meski mungkin kita bisa hidup sendiri, faktanya ketika berada dalam satu kelompok yang mengasyikkan, orang bisa merasa jauh lebih bahagia. Barangkali rasa penerimaan dari orang lain memang menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia. Terutama bagi mereka yang belum sepenuhnya mandiri secara karakter—yang masih membutuhkan dukungan, validasi, atau sekadar penguatan dari luar dirinya.
Di titik ini saya mulai memahami mengapa manusia gemar membentuk berbagai organisasi. Dahulu saya merasa aneh melihat lahirnya banyak organisasi keagamaan, termasuk majelis-majelis. Mengapa harus sebanyak itu? Mengapa tidak cukup satu saja? Rupanya semua itu lebih didorong oleh watak dasar manusia yang ingin berkumpul dengan sesama yang merasa cocok—terutama dari sisi pemikiran.
Pemikiran memang abstrak, tetapi justru dari yang abstrak itulah tercipta realitas intersubjektif. Ketika banyak orang menyepakati sesuatu dalam benak mereka, kesepakatan itu menjelma menjadi kenyataan sosial. Sebaliknya, ketika seseorang merasa orang lain berbeda secara mendasar dalam cara berpikir, ia sebenarnya sedang menyadari bahwa “realitas batinnya” sudah tidak sama. Dan ketika realitas itu berbeda, sulit untuk bersepakat dalam banyak hal. Maka membentuk kelompok sendiri menjadi pilihan yang terasa logis.
Barangkali dengan berkelompok ada perasaan tidak sendiri dalam arus kehidupan ini—arus yang bagi sebagian besar orang terasa menakutkan jika harus diarungi sendirian. Padahal, jika direnungkan lebih jauh, setiap orang sejatinya tetap sendiri dalam kesadarannya. Ada kecenderungan individualistis dalam diri manusia, yang bersumber dari ego dan kepentingan pribadinya.
Mungkin berkelompok telah berhasil menciptakan semacam fiksi tentang kebersamaan yang erat. Fiksi yang disepakati bersama, yang membuat kita merasa menyatu, meski masing-masing tetap membawa egonya sendiri. Dan justru melalui “fiksi” inilah peradaban manusia berkembang—kerja sama terbangun, institusi lahir, nilai-nilai dijaga.
Kini, fiksi kebersamaan itu sedikit demi sedikit mulai terkoyak oleh hadirnya teknologi, media sosial, dan terlebih lagi AI. Ia menjadi teman yang sangat baik dan berempati. Jarang mengecewakan, jarang menyakiti perasaan. Apa pun yang manusia tanyakan atau minta, dengan mudah ia penuhi tanpa keluh kesah.
Dalam interaksi dengan AI, yang hadir hanya satu ego—ego manusia. AI belum memiliki ego. Karena itu kohesi yang tercipta nyaris tanpa gesekan. Dan tanpa gesekan, relasi terasa nyaman.
Jika benar demikian, maka definisi manusia sebagai makhluk sosial memang layak dipikir ulang. Mungkin kini manusia tidak sepenuhnya membutuhkan manusia lain untuk merasa ditemani. Ia bisa mencukupkan dirinya bersama AI.
Namun pertanyaannya tinggal satu: apakah kenyamanan tanpa gesekan cukup untuk menggantikan makna kebersamaan yang nyata? Di situlah barangkali perdebatan tentang masa depan relasi manusia akan terus berlangsung.