Mimpi absurd
-(Minggu, 1 Maret 2026)-
Mengapa saya kesulitan menggambarkan kembali dengan kata-kata apa yang saya alami dalam mimpi saya?
Dalam mimpi itu saya merasa melihat sesuatu, tetapi setiap kali mencoba menjelaskannya, bahasa seperti kehilangan bentuknya. Saya tahu saya melihat, saya tahu saya mengalami, namun untuk merangkainya menjadi kalimat yang utuh terasa begitu sulit. Benar-benar absurd—bahkan untuk mendefinisikannya atau sekadar menciptakan istilah yang mendekatinya pun saya tidak sanggup. Seolah-olah mimpi memiliki bahasanya sendiri, sementara saya dipaksa menerjemahkannya ke dalam bahasa yang terlalu kaku.
Pengalaman ini mengingatkan saya pada mimpi yang saya alami semasa kecil. Saya terus mengingatnya, tetapi tidak pernah benar-benar yakin kapan tepatnya itu terjadi. Dalam ingatan tersebut, saya sedang terbaring—mungkin sedang sakit panas. Saya melihat lingkaran-lingkaran yang terus berputar, bergerak perlahan hingga mencapai sudut atap rumah. Namun sampai sekarang saya tidak yakin apa sebenarnya yang saya lihat. Apakah itu mimpi? Halusinasi karena demam? Atau sekadar fragmen ingatan yang telah berubah bentuk seiring waktu?
Ketika mencoba mengingatnya lebih jauh, saya merasa ibu saya duduk di samping saya. Bahkan lebih aneh lagi, saya seolah melihat diri saya sendiri sedang berbaring, sementara ibu duduk di sebelah saya. Gambaran itu bertahan dalam benak saya, tetapi saya juga meragukan keasliannya. Apakah itu benar-benar rekaman yang utuh, atau sudah berkali-kali disunting oleh ingatan saya sendiri? Saya menyadari bahwa memori bukanlah arsip yang diam dan setia; ia bisa berubah, bergeser, bahkan tanpa saya sadari.
Ada pula mimpi lain yang terasa seperti berulang beberapa kali. Namun lagi-lagi saya tidak yakin: apakah ia benar-benar berulang, atau hanya terekam begitu kuat sehingga terasa demikian? Dalam mimpi itu saya merasa bisa terbang. Benar-benar terbang. Dalam posisi tengkurap melayang, kaki saya menjejak ke belakang, dan dengan cara itu saya melesat. Aneh, tentu saja. Tetapi dalam mimpi, keanehan tidak pernah dipertanyakan. Saya hanya mengalami.
Dari situ saya mulai bertanya: apa sebenarnya yang terjadi di dalam otak saya? Apakah mimpi adalah sisa-sisa keinginan atau harapan yang belum tercapai, lalu mencari jalan keluarnya sendiri saat saya tidur? Ataukah ia hanya bunga tidur—aktivitas acak yang tak perlu dimaknai terlalu dalam? Pertanyaan itu terus berputar, seperti lingkaran-lingkaran yang dulu saya lihat di sudut atap.
Pertanyaan lain yang juga mengganjal adalah tentang kesadaran. Apakah dalam mimpi kita memiliki kesadaran? Saya merasa mengalami kebahagiaan, kesenangan, juga ketakutan dan kegelisahan. Namun saya tidak yakin apakah perasaan itu sungguh terjadi di dalam mimpi, atau justru muncul setelah saya terbangun dan mengingatnya kembali. Di mana batas antara pengalaman dan ingatan tentang pengalaman?
Barangkali semua ini bukan hanya terjadi pada diri saya. Mungkin orang lain pun pernah merasakan hal serupa—kesulitan menjelaskan mimpi, meragukan ingatan masa kecil, atau bertanya-tanya tentang kesadaran dalam tidur. Dan mungkin pula, pada akhirnya, mimpi memang bukan untuk dijelaskan sepenuhnya. Ia hadir, dialami, lalu menyisakan jejak samar dalam ingatan.
Begitulah. Mungkin malam-malam berikutnya saya masih akan bertemu dengan mimpi-mimpi lainnya—aneh, tak terdefinisi, dan sulit diterjemahkan. Tetapi setidaknya kini saya tahu, kebingungan itu sendiri adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia.