Jejak abadi

-(Senin, 2 Maret 2026)-

Bayangkan Anda adalah orang paling berkuasa di dunia. Segala sumber daya berada dalam genggaman: harta yang tak terhitung, pasukan yang setia, pengaruh yang menembus batas negara. Namun usia terus berjalan. Tubuh perlahan menua. Dan pada satu titik, Anda menyadari bahwa tak ada satu pun kekuatan yang mampu menahan datangnya kematian.

Di situlah paradoks itu muncul. Kekuasaan yang selama ini tampak absolut, mendadak terasa rapuh. Anda mungkin merasa khawatir, cemas, bahkan marah—terutama jika menolak menerima kenyataan bahwa setiap manusia pasti akan mati. Seolah seluruh perjuangan, ambisi, dan pencapaian yang Anda bangun selama ini, pada akhirnya harus ditinggalkan begitu saja. Lalu pertanyaan itu pun mengendap: apa makna hidup, jika ujungnya adalah kepergian?

Kesadaran akan kematian memang kerap melahirkan kegelisahan. Sebagian orang mungkin meresponsnya dengan perlawanan. Jika hidup terbatas, maka batas itu harus ditembus. Dari sinilah obsesi pada keabadian lahir. Kita melihatnya dalam mitos, legenda, hingga film-film modern yang mengisahkan manusia yang ingin hidup selamanya—bahkan dengan mengorbankan orang lain, atau memindahkan kesadaran ke dalam mesin, seperti digambarkan dalam Transcendence. Teknologi hari ini pun seakan memberi ruang pada imajinasi itu: tentang memori yang diunggah, otak yang direplikasi, kesadaran yang dipindahkan ke perangkat mekanis.

Apakah arah peradaban manusia benar-benar menuju ke sana? Mungkin. Atau mungkin tidak. Hanya waktu yang dapat membuktikannya. Namun yang jelas, dorongan untuk melampaui kematian menunjukkan satu hal: manusia sulit berdamai dengan kefanaan.

Barangkali di situlah sumber penderitaan itu. Bukan semata karena manusia akan mati, tetapi karena ia sadar bahwa ia akan mati. Kesadaran itu seperti bayangan yang selalu mengikuti—tak terlihat, namun tak pernah benar-benar pergi. Dan untuk mengatasi kegelisahan itu, manusia memilih memberi makna pada kematian. Jika waktu terbatas, maka setiap detik menjadi bernilai. Jika hidup memiliki akhir, maka hidup harus diisi sebaik mungkin—untuk kemanusiaan, bukan hanya untuk diri sendiri.

Meski belum mampu menjadi abadi secara biologis, manusia menemukan cara lain untuk bertahan. Setidaknya namanya akan terus dikenang, diingat, dan disebut oleh generasi setelahnya. Memiliki keturunan menjadi salah satu jalan. Memberikan warisan ilmu, membangun karya, bahkan meninggalkan benda-benda monumental, menjadi upaya agar keberadaannya tak sepenuhnya hilang.

Pada akhirnya, ketika seseorang merasa telah selesai dengan dirinya—dengan ambisi personal dan pencapaian materi—yang ia cari bukan lagi kekuasaan, melainkan keberlanjutan makna. Ia ingin tetap hidup dalam ingatan kolektif. Inilah yang kerap terjadi pada para pemimpin: bukan sekadar ingin berkuasa, tetapi ingin dikenang.

Mungkin dari sini kita bisa memahami bahwa yang sesungguhnya dikejar manusia bukanlah keabadian raga, melainkan keabadian makna. Dan justru karena hidup memiliki batas, ia menjadi berharga. Tanpa kematian, mungkin tak ada urgensi untuk memberi arti. Tanpa akhir, mungkin tak ada dorongan untuk meninggalkan jejak.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"