Retak lebaran

-(Jumat, 20 Maret 2026)-

Perbedaan dalam memulai Lebaran selalu kembali, tahun demi tahun, seolah menjadi pengingat sunyi bahwa persatuan nasional bukan perkara sederhana. Ia bukan sekadar soal kalender atau metode penentuan, melainkan cermin dari sesuatu yang lebih dalam: cara kita memandang kebenaran, otoritas, dan—barangkali—ego kita sendiri.

Di satu sisi, setiap kelompok berdiri di atas dalil dan argumentasi yang sama-sama diyakini sahih. Tidak ada yang merasa sedang keliru. Namun justru di situlah paradoksnya: ketika semua merasa benar, siapa yang bersedia melangkah setengah langkah ke belakang? Mengapa ada yang tergesa mengumumkan lebih awal, sementara yang lain memilih menunggu sidang panjang dan prosedural? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah benar-benar selesai dijawab, hanya berulang dalam bentuk yang sama, seperti ritus tahunan yang tak tertulis.

Padahal, jika ditarik lebih dalam, persoalan ini bukan semata perbedaan metode hisab dan rukyat. Ia menyentuh relasi antara umat dan pemimpinnya. Pada akhirnya, umat cenderung mengikuti otoritas yang mereka percayai. Maka jika para ulama dan pemimpin mampu duduk bersama, menahan ego, dan menyepakati satu langkah, besar kemungkinan perbedaan itu tidak akan muncul di permukaan. Di titik ini, narasi “perbedaan adalah rahmat” terasa ambigu—ia bisa menjadi kebijaksanaan, tetapi juga bisa menjadi selimut halus yang menutupi keengganan untuk bersepakat. Ada semacam kenikmatan laten dalam mempertahankan posisi, dalam merasakan pengaruh, dalam apa yang pernah disebut sebagai will to power.

Dari sini, implikasinya meluas. Perbedaan Lebaran seakan mengajarkan bahwa kesepakatan total dalam masyarakat adalah ilusi. Jika dalam perkara ibadah yang sakral saja tidak ada keseragaman, apalagi dalam kebijakan publik. Selalu akan ada yang memilih jalan berbeda. Bahkan, secara tak langsung, ini memberi pesan bahwa ketetapan pemerintah pun bukan sesuatu yang harus diikuti secara mutlak. Ada ruang—dan mungkin legitimasi—untuk berbeda.

Namun ada harga yang dibayar dari pola yang terus berulang ini. Energi umat terkuras dalam perdebatan yang sama setiap tahun. Ia seperti bara dalam sekam: tampak tenang di permukaan, tetapi menyimpan potensi gesekan yang sewaktu-waktu bisa membesar. Perbedaan memang tidak selalu berarti konflik, tetapi ia menciptakan jarak—halus, nyaris tak terlihat, namun nyata dalam rasa.

Pada akhirnya, upaya menyatukan awal Lebaran bukan sekadar soal teknis penanggalan, melainkan tentang membangun kesediaan untuk berbagi ruang kebenaran. Ia adalah ujian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar: kemampuan kita sebagai bangsa untuk merawat persatuan tanpa harus meniadakan perbedaan. Dan mungkin, justru di sanalah letak tantangan terbesarnya.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"