Safari ramadan
-(Rabu, 4 Maret 2026)-
Sampai hari ini sudah 14 masjid atau mushola yang saya datangi untuk sholat tarawih. Artinya, saya masih konsisten untuk berganti-ganti tempat sholat. Bukan sekadar berpindah ruang, tetapi seperti menelusuri denyut Ramadan dari sudut yang berbeda-beda. Barangkali ini semacam safari ramadan bagi saya.
Di antara 14 itu, ada yang sama, ada pula tradisi yang berbeda. Ada yang 20 rakaat, ada pula yang 8. Perbedaan itu terasa wajar, bahkan memperkaya pengalaman. Namun satu hal yang patut diapresiasi adalah semangat para jamaahnya untuk meraih pahala di bulan Ramadan. Di mana pun tempatnya, semangat itu tetap menyala—seperti api kecil yang dijaga bersama agar tidak padam.
Satu keunggulan yang menurut saya patut dicontoh adalah kualitas imam tarawih. Semua masjid dan mushola yang saya kunjungi dipimpin oleh imam dengan bacaan Al-Qur’an yang fasih, dengan irama atau lagu yang enak didengar jamaah. Ini bukan sekadar soal estetika suara, tetapi tentang kesungguhan menjaga kemuliaan ayat-ayat suci. Artinya, barangkali di daerah ini memang terdapat pendidikan agama yang baik bagi masyarakatnya. Dengan kata lain, tidak kesulitan untuk mencari imam dengan bacaan yang berkualitas.
Masih nyambung dengan tulisan saya sebelumnya, para imam ini sejatinya bisa membantu pemerintah dalam mendukung program-programnya. Terutama terkait program dasar seperti kebersihan, kesehatan, pendidikan, serta keamanan dan ketertiban. Saya melihat mimbar bukan hanya sebagai tempat menyampaikan pesan spiritual, tetapi juga sebagai ruang membangun kesadaran sosial.
Barangkali justru saluran para imam masjid ini menjadi salah satu yang efektif. Mereka adalah figur yang didengar dan dipercaya. Tentu, karena mereka mengemban amanah yang turut bersentuhan dengan kepentingan publik, perlu ada imbal balik yang jelas. Mungkin semacam insentif, sebagai bentuk penghargaan atas peran sosial yang mereka jalankan.
Kenyataannya, jumlah tempat ibadah itu sangatlah banyak. Jaringannya luas, menjangkau hingga ke lingkungan paling kecil. Sudah saatnya pemerintah melakukan upaya sinergitas dengan tempat-tempat ibadah tersebut untuk lebih mengarahkan masyarakat agar menjadi lebih bersih, lebih sehat, lebih tertib, dan lebih berpendidikan. Potensi itu ada, tinggal bagaimana kemauan untuk merajutnya.
Dari mana mesti memulainya? Dari arahan pimpinan daerah atau inisiatif birokrasi. Dan ini bukanlah hal yang sulit, karena yang dibutuhkan hanyalah langkah awal untuk memulainya. Seperti memulai tarawih dengan takbir pertama—sederhana, tetapi menentukan arah rangkaian berikutnya.