Mimbar sosial
-(Selasa, 3 Maret 2026)-
Dibandingkan pihak pemerintah, yang lebih banyak dan lebih rutin berbicara kepada masyarakat pada kenyataannya adalah para pemuka agama. Hampir setiap minggu mereka berdiri di mimbar, menyampaikan khutbah, tausiyah, dan nasihat kepada umatnya. Ini mestinya disadari sebagai sarana yang sangat efektif untuk mendidik masyarakat—bahkan mungkin lebih efektif daripada berbagai kanal komunikasi resmi pemerintah yang sering terasa jauh dan formal.
Pada kecenderungannya, masyarakat justru lebih mudah menerima pemahaman dari pemuka agama dibandingkan dari pihak pemerintah. Ada faktor kedekatan, ada faktor kepercayaan, ada pula faktor legitimasi moral. Karena itu, menurut saya, strategi komunikasi publik yang perlu dibangun adalah bagaimana para pemuka agama ini dapat turut menyampaikan program-program yang perlu diketahui dan didukung oleh masyarakat.
Khutbah setiap minggu semestinya tidak hanya diisi oleh ajaran agama yang bersifat ukhrawi. Tentu nilai-nilai akhirat tetap penting, bahkan fundamental. Namun agama juga berbicara tentang kehidupan dunia. Karena itu, perlu ada materi atau pesan-pesan yang lebih membumi dan membawa kemanfaatan langsung bagi kehidupan masyarakat: soal kebersihan, kedisiplinan dalam membuang sampah, pola makan sehat, etika bermasyarakat, adab di jalan raya, budaya antre, hingga sikap saling menghormati dalam ruang publik. Hal-hal ini tampak sederhana, tetapi justru menentukan kualitas peradaban kita.
Saya membayangkan ada pertemuan rutin setiap bulan antara pihak pemerintah dan para pemuka agama. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah dapat memberikan pembaruan terkait program-program yang sedang berjalan, sekaligus menyampaikan pesan-pesan yang perlu dijalankan masyarakat demi ketertiban umum, keamanan, dan kenyamanan bersama. Dengan demikian, informasi tidak berhenti di meja birokrasi, tetapi mengalir sampai ke ruang-ruang ibadah dan hati umat.
Bahkan, barangkali dapat ditetapkan satu waktu tertentu setiap bulan ketika para pemuka agama secara seragam menyampaikan pesan publik tertentu. Tentu ini bukan dalam arti pemerintah memanfaatkan pemuka agama sebagai corong kekuasaan. Hubungan yang dibangun harus bersifat timbal balik, mutualisme. Dalam forum yang sama, para pemuka agama juga diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi umatnya kepada pemerintah. Saya kira ini akan menjadi saluran yang efektif bagi suara-suara dari bawah agar bisa ditampung dan diakomodasi oleh para pemimpinnya.
Sebenarnya gagasan ini bukan hal baru. Bahkan mungkin sudah terdengar usang. Namun hingga kini saya hampir tidak pernah mendengar khutbah yang secara khusus berisi pesan-pesan tentang hidup bersih, hidup sehat, atau disiplin sosial secara konkret. Khutbah dan tausiyah memang banyak, tetapi sebagian besar di antaranya lebih menekankan pada bagaimana menyiapkan kehidupan akhirat.
Pertanyaannya, apakah kita tidak bisa menyeimbangkan keduanya? Bukankah kehidupan dunia yang tertib, sehat, dan beradab juga bagian dari pengamalan nilai agama itu sendiri? Saya kira, di sinilah mimbar memiliki peran strategis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan—sebagai jembatan antara nilai-nilai spiritual dan kebutuhan sosial yang nyata.