Ramadan hilang
-(Kamis, 26 Maret 2026)-
Kehidupan sudah kembali seperti semula. Ramadan yang sebulan penuh hadir, telah memudar, seolah tak meninggalkan bekas apa pun. Bukan karena ia gagal mendidik atau melatih manusia, melainkan karena manusianya yang kembali larut dalam arus dunia—arus yang tak pernah benar-benar berhenti.
Rutinitas pun mengambil alih. Orang-orang kembali disibukkan oleh pekerjaan, oleh tuntutan hidup yang terasa tak bisa ditawar. Para ASN kembali duduk dalam rapat-rapat yang silih berganti, atau mengisi layanan yang berjalan seperti biasa. Sebagian mungkin justru dihantui kebingungan: apa yang harus dikerjakan ketika anggaran dipangkas, ketika ritme kerja tak lagi jelas, bahkan ketika diminta bekerja dari rumah yang justru mempertegas kekosongan itu. Di kantor bingung, di rumah pun tak jauh berbeda.
Para pekerja swasta menjalani nasib yang serupa, meski dalam bentuk yang lain. Jam kerja yang teratur, tugas yang berulang, ritme yang nyaris mekanis—semuanya membentuk pola hidup yang rapi, tetapi kerap mengikis makna. Hari demi hari berjalan seperti program yang diulang, meninggalkan perasaan hampa yang sulit dijelaskan. Bahkan para profesional, dengan segala capaian dan tanggung jawabnya, tak sepenuhnya luput dari lingkaran yang sama: rutinitas yang menggerus kesadaran, pelan-pelan.
Pada titik tertentu, kehidupan terasa seperti kisah Sisifus—mendorong batu ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya kembali menggelinding ke bawah. Lalu diulang lagi. Dan lagi. Sebuah siklus yang tak selesai, yang dalam mitologi menjadi hukuman, tetapi dalam kehidupan modern terasa seperti kenyataan yang diam-diam diterima.
Ramadan dan Idul Fitri, dalam konteks ini, menjadi jeda. Sebuah ruang bernapas di tengah tekanan yang tak kasatmata: tuntutan keluarga, beban jabatan, atau bahkan ketakutan personal akan kehilangan—akan merasa tidak cukup jika berhenti bergerak. Namun jeda itu sering kali terlalu singkat, atau mungkin kita yang tak benar-benar memanfaatkannya untuk berhenti sejenak dan bertanya: ke mana semua ini berjalan?
Ironisnya, ketika sampai di ujung Ramadan, kita justru kerap disibukkan oleh hal lain—perbedaan yang berulang, yang terasa ganjil namun selalu hadir. Penetapan hari raya yang tak seragam, yang pada akhirnya merembes ke ranah yang lebih personal: keputusan mudik, kebersamaan keluarga, bahkan rasa tenteram itu sendiri.
Di situlah kegelisahan mulai tumbuh. Bagaimana mungkin sesuatu yang semestinya menjadi momen persatuan justru diwarnai oleh perbedaan yang sulit dipahami? Bukankah ada otoritas yang seharusnya mampu menjadi rujukan bersama, melampaui sekat-sekat organisasi?
Pertanyaan ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi tetap layak diajukan: apakah perbedaan-perbedaan itu, yang terus berulang, perlahan membuat kita kehilangan sensitivitas terhadap makna Ramadan itu sendiri? Seolah-olah yang tertinggal bukanlah kesadaran spiritual, melainkan riuh rendah perdebatan teknis di ujungnya.
Dan jika itu yang terjadi, mungkin masalahnya bukan pada Ramadan yang berlalu, melainkan pada kita yang tak pernah benar-benar tinggal—bahkan sejenak—untuk membiarkan ia meninggalkan jejak.