Lebaran usai

-(Selasa, 24 Maret 2026)-

Barangkali beginilah wajah Lebaran bagi kebanyakan orang. Pagi dimulai dengan baju baru, langkah beriring menuju masjid untuk menunaikan salat Idulfitri. Setelah itu, halal bi halal di halaman masjid—saling berjabat tangan, berpelukan, menukar maaf yang sering kali terasa hangat namun singkat. Lalu pulang, berkumpul di rumah orang tua atau di satu tempat yang disepakati, kembali bersalaman, lalu makan bersama.

Dan Lebaran pun, tanpa kita sadari, seperti selesai sebelum tengah hari.

Setelah itu, hidup segera mencari bentuknya yang lain. Kafe mulai ramai, cangkir kopi jadi teman, dan unggahan di media sosial menjadi cara baru merayakan. Hari berikutnya, agenda bergeser: piknik, perjalanan ke pantai, kebun binatang, atau pegunungan. Libur berubah menjadi pelarian kecil dari rutinitas—atau mungkin dari keheningan yang seharusnya kita hadapi.

Di tengah semua itu, ada hal yang sering luput. Ketika mestinya momen ini menjadi ruang untuk benar-benar bersilaturahmi dengan mereka yang dekat secara darah dan jarak, kita justru lebih dulu sibuk mengirim ucapan ke grup WhatsApp, ke rekan kerja, atau atasan. Mungkin karena merekalah yang kita temui setiap hari, sementara keluarga hanya hadir setahun sekali. Prioritas kita, diam-diam, bergeser tanpa kita sadari.

Di titik inilah Lebaran sebenarnya menguji kita—tentang ingatan dan penghargaan. Tentang sejauh mana kita mengingat kebaikan orang lain dalam hidup kita.

Saya sendiri mencoba mengingat para mantan atasan saya, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Jika masih memiliki nomor kontak mereka, saya kirimkan ucapan Idulfitri, permintaan maaf, dan doa. Sebuah gestur sederhana, tetapi bagi saya penting. Namun di saat yang sama, saya menyadari sesuatu yang mengusik: saya juga mengingat anggota tim saya—orang-orang yang selama ini membantu dan meringankan pekerjaan saya. Seharusnya mereka juga menerima hal yang sama. Tapi entah mengapa, saya sering terjebak dalam batasan struktural yang tak kasat mata. Ada jarak yang saya biarkan tetap ada.

Dan karena itu, mungkin saya perlu meminta maaf—bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Begitulah Lebaran. Ia datang dengan gegap gempita, lalu pergi dengan cepat, meninggalkan kita kembali pada kehidupan yang berjalan seperti biasa. Kita bergerak dari satu Lebaran ke Lebaran berikutnya, seolah hanya berpindah titik tanpa benar-benar berubah arah.

Di antara dua Lebaran itu, kita sering kali berjalan seperti keledai dalam peribahasa—jatuh di lubang yang sama, berulang kali. Kita melewati Ramadan dan Idulfitri tanpa sungguh-sungguh belajar darinya. Padahal, di sanalah mestinya kita ditempa: untuk menjadi lebih ingat, lebih sadar, dan lebih manusia.


Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"