Konflik egois
(Selasa, 10 Maret 2026)-
Mengapa tiba-tiba banyak sekali orang yang diklaim sebagai pengamat Timur Tengah dan berkomentar tentang apa yang terjadi di sana? Konflik Israel–Amerika dengan Iran memang menjadi sorotan dan membuat media laris ditonton. Karena itulah media merasa perlu menghadirkan orang-orang yang dianggap layak untuk berbicara, menyampaikan analisis dan pendapatnya.
Bahkan mereka yang sebenarnya secara keilmuan tak relevan, tampak begitu lancar dan meyakinkan ketika berbicara tentang konflik itu. Sebagian bahkan sudah meramalkan pihak mana yang akan keluar sebagai pemenang.
Dan nampaknya media kita tahu pihak mana yang banyak didukung oleh masyarakat. Karena itu, analisis atau opini yang berpihak dan menyenangkan masyarakat lebih banyak bermunculan. Tak apa, barangkali itu juga bentuk dukungan bagi satu pihak yang memang secara kasat mata telah terdzolimi.
Kenyataannya, konflik itu juga menghadirkan kembali perdebatan lama soal aliran ini dan aliran itu. Anda sudah tahu maksudnya—perdebatan yang berkutat pada hal yang itu-itu saja. Dan sungguh, perdebatan semacam itu terasa tak bermutu.
Mengapa kita tak mencoba berpikir dengan rasa kemanusiaan? Apa yang sebenarnya salah dengan manusia ini?
Meski peradaban yang katanya telah maju dan modern, faktanya manusia tetaplah sama—hari ini dan di masa kuno. Seolah manusia tak pernah benar-benar mengambil pelajaran dari sejarahnya sendiri tentang bagaimana perang dan konflik selalu membawa petaka serta bencana kemanusiaan.
Begitulah. Dan realitas hari ini semakin memperkuat stigma lama: bahwa manusia memang makhluk yang egois.