Ego sunyi
-(Sabtu, 28 Maret 2026)-
Dalam percakapan, sering kali ada sesuatu yang pelan-pelan merayap tanpa kita sadari—ego yang tiba-tiba ingin berdiri paling depan. Barangkali inilah yang pernah disinggung Nietzsche sebagai will to power: dorongan halus namun kuat untuk menguasai, untuk menang, untuk menjadi lebih dari yang lain.
Saya mengalaminya sendiri dalam sebuah diskusi tentang perjalanan haji. Awalnya sederhana—sekadar membicarakan satu istilah yang menurut saya keliru dipahami. Namun, seperti bara yang disulut angin, perbedaan kecil itu perlahan membesar. Dua orang di hadapan saya tetap bersikukuh dengan penjelasan pembimbing mereka. Saya pun tak kalah kukuh dengan keyakinan saya.
Di titik tertentu, saya merasakan perubahan dalam diri: nada suara meninggi, ritme bicara menajam, dan emosi mulai mengambil alih. Seolah ada arus tak terlihat yang mendorong saya untuk terus membuktikan bahwa saya benar. Namun justru di detik itulah kesadaran muncul—seperti seseorang yang tiba-tiba tersadar dari mimpi.
Saya bertanya pada diri sendiri: ini perdebatan macam apa? Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?
Kesadaran itu datang seperti rem mendadak. Saya melihat percakapan itu dari kejauhan—dan tampak jelas betapa remehnya pokok persoalan yang diperdebatkan. Tak ada yang benar-benar dipertaruhkan, tak ada manfaat nyata yang bisa dipetik. Hanya ada ego yang saling beradu, seperti dua bayangan yang berebut bentuk di bawah cahaya yang sama.
Akhirnya, saya memilih berhenti. Mengganti topik. Membiarkan perdebatan itu reda dengan sendirinya. Sebab saya sadar, tidak semua hal layak diperjuangkan, apalagi jika yang dipertahankan hanyalah rasa ingin menang.
Pengalaman itu membuat saya melihat pola yang lebih luas. Banyak percakapan yang memanas bukan karena persoalan besar, melainkan karena hal-hal kecil: perbedaan istilah, perbedaan informasi, atau sekadar perbedaan cara memahami dunia. Namun di balik itu semua, ada benang merah yang sama—ego yang ingin diakui, ingin unggul, ingin berkuasa dalam ruang percakapan.
Mungkin di situlah letak ironi manusia. Kita berbicara untuk saling memahami, tetapi sering kali justru terjebak dalam dorongan untuk saling mengalahkan.
Jika ditarik lebih jauh, pola yang sama tampak dalam skala yang lebih besar. Konflik-konflik di dunia—termasuk yang terjadi di Timur Tengah—sering kali tampak berlapis-lapis alasan: politik, sejarah, ideologi. Namun di kedalaman tertentu, ada kemungkinan bahwa dorongan yang sama sedang bekerja: kehendak untuk berkuasa, untuk tidak tunduk, untuk menjadi yang paling menentukan arah.
Di titik ini, gagasan Nietzsche terasa menemukan gaungnya. Will to power bukan sekadar konsep abstrak, melainkan sesuatu yang hidup dalam diri manusia—dari percakapan kecil hingga konflik besar.
Namun barangkali yang luput kita sadari adalah ini: ego tidak selalu datang dengan suara keras. Ia sering hadir dengan bisikan yang meyakinkan, membuat kita merasa sedang memperjuangkan kebenaran, padahal yang sebenarnya kita jaga adalah diri kita sendiri.
Dan mungkin, di sanalah latihan paling sunyi itu dimulai—mengenali kapan kita sedang mencari kebenaran, dan kapan kita hanya sedang ingin menang.