Naluri senja
-(Selasa, 24 Februari 2026)-
Nampaknya perilaku sebagai pemburu-pengumpul tak pernah benar-benar hilang dari diri manusia modern. Barangkali naluri itu diwariskan dalam gen, atau setidaknya tertanam kuat dalam memori panjang manusia. Bagaimana tidak?
Lihatlah apa yang terjadi setiap sore—bahkan mungkin sejak siang hari—di bulan Ramadan. Banyak orang keluar rumah untuk berburu takjil atau makanan berbuka. Dalam arti yang paling sederhana, mereka memang sedang berburu: mencari panganan yang ingin mereka makan. Mereka menyusuri lapak-lapak, memilih dengan cermat, menimbang selera dan harga. Lalu hasil “buruan” itu dikumpulkan di atas meja makan, ditata dan disiapkan untuk dihidangkan. Selepas azan Maghrib berkumandang, mereka pun menikmati hasil buruannya.
Barangkali manusia purba melakukan hal yang sama. Hanya saja mereka berburu di hutan atau alam sekitarnya. Mereka memang tidak membeli dengan uang seperti manusia modern, tetapi mereka menukarnya dengan tenaga, keterampilan, peralatan, bahkan risiko. Semua itu, dalam arti esensial, adalah mata uang. Setelah mendapatkan daging, ikan, atau buah-buahan, mereka membawanya pulang untuk dimakan bersama keluarga.
Jika kedua gambaran itu diletakkan berdampingan, tampak bahwa pada dasarnya pola yang dilakukan manusia tetap sama. Mencari, mendapatkan, mengumpulkan, lalu makan bersama. Pola itu nyaris tak berubah meski telah berlangsung ribuan, bahkan mungkin jutaan tahun. Modernitas hanya mengubah medium dan cara, bukan naluri dasarnya.
Tentu saja aktivitas ini tidak hanya terjadi di bulan puasa. Di bulan-bulan lain manusia tetap melakukan hal yang sama karena itu adalah kebutuhan hidup. Namun di bulan Ramadan, fenomena ini terlihat jauh lebih jelas. Hampir semua orang makan pada jam yang sama, yaitu saat berbuka. Maka menjelang Maghrib, ruang-ruang publik berubah menjadi arena berburu yang serempak.
Dan justru di saat itulah orang berpuasa diuji. Apakah sore itu ia akan melakukan semacam “balas dendam” setelah seharian menahan lapar dan haus? Ataukah ia masih mampu mengendalikan diri, karena di situlah sesungguhnya esensi puasa berada?
Tidak jarang muncul keinginan untuk memakan semua jenis makanan. Apalagi kenyataannya, beragam olahan justru bermunculan di bulan Ramadan—semuanya tampak menggoda. Ini tentu bukan terjadi secara alamiah. Nampaknya kapitalisme memahami betul bagaimana mengambil keuntungan dari momentum Ramadan. Ia juga paham tentang hasrat dasar manusia: tentang lapar, tentang keinginan, tentang godaan.
Di sinilah ironi dan paradoks itu tampak di mana-mana. Bulan yang dimaksudkan sebagai latihan pengendalian diri kerap berubah menjadi pesta konsumsi. Setiap tahun peristiwa ini berulang. Sayup-sayup terdengar para dai mengingatkan agar kita mampu menahan diri, namun di sisi lain godaan justru semakin diperbanyak.
Maka mungkin benar: manusia modern tetap membawa naluri purbanya. Bedanya, hari ini hutan telah berganti pasar, tombak telah berganti uang, dan perburuan tidak lagi soal bertahan hidup semata, melainkan juga soal hasrat. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita yang mengendalikan naluri itu, atau justru naluri itulah yang diam-diam mengendalikan kita?