Ilusi penting

-(Rabu, 25 Februari 2026)-

Itulah yang kerap terjadi ketika kita mulai percaya bahwa diri kita penting. Dari keyakinan itu tumbuh harapan-harapan yang diam-diam menuntut pemenuhan: duduk di kursi paling depan, diberi waktu menyampaikan sambutan, atau setidaknya disebut namanya dalam deretan terima kasih panitia. Ketika harapan itu tak terpenuhi, yang muncul bukan sekadar kecewa, melainkan rasa tersingkir—seolah keberadaan kita dihapus begitu saja.

Saya sering melihat bagaimana rasa “penting” itu bekerja dengan cara yang halus namun menentukan. Ia menyusup ke dalam pidato-pidato yang memanjang, hanya untuk menyebut satu per satu nama tokoh yang hadir. Daftar itu dibacakan dengan khidmat, bukan semata-mata sebagai bentuk penghormatan, melainkan sebagai pagar pengaman agar tak ada yang tersinggung. Karena ada keyakinan tak terucap: bila seseorang yang dianggap penting terlewat disapa, ia akan merasa direndahkan. Seolah-olah nilai dirinya bergantung pada seberapa lantang namanya disebut.

Barangkali kebiasaan itu lahir dari hidup yang terlalu lama dimanjakan previleg. Dari ruang-ruang yang selalu memberi tempat di depan, dari sistem yang terbiasa mengutamakan. Maka, mungkin sesekali orang semacam itu perlu berdiri di tengah kerumunan anonim—mengambil nomor antrean, menunggu giliran tanpa perlakuan istimewa, tanpa ada yang mengenali atau memedulikannya. Di sanalah ujian sebenarnya terjadi.

Ketika seseorang meyakini dirinya penting, situasi semacam itu akan terasa menyakitkan. Ia marah pada keadaan, gusar pada ketidakistimewaan, seolah dunia telah keliru memperlakukannya. Namun ketika ia mampu menanggalkan keyakinan itu—mengakui bahwa dirinya tidak lebih penting dari yang lain—tubuh dan batinnya akan menerima realitas dengan tenang. Antrean menjadi sekadar antrean. Kerumunan menjadi sekadar kumpulan manusia. Tidak ada yang perlu dilawan.

Di titik ini saya mulai bertanya: apa sebenarnya yang kita pertahankan mati-matian itu? Sebutan, pangkat, jabatan—semuanya hanyalah konstruksi sosial. Ia seperti kostum dalam sebuah pertunjukan; dikenakan agar peran mudah dikenali. Namun ketika lampu panggung padam, yang tersisa hanyalah tubuh yang sama-sama rapuh, sama-sama tersusun dari daging dan darah, dan satu kesadaran yang menumpang hidup di dalamnya.

Perbedaan derajat yang kita yakini sering kali berdiri di atas sesuatu yang amat tipis: selembar kertas keputusan. Sebuah tanda tangan. Sebuah stempel. Kita memperlakukannya seperti wahyu, padahal ia tak lebih dari simbol kesepakatan bersama—fiksi yang kita setujui untuk dipercayai. Dari sana lahir hierarki, jarak, bahkan rasa lebih tinggi dan lebih rendah.

Ironisnya, tidak semua orang menyadari bahwa itu hanyalah cerita yang disepakati. Banyak yang mengira cerita itu adalah kenyataan itu sendiri. Padahal, jika ditanggalkan segala atribut dan gelar, kita kembali pada titik yang sama: makhluk yang lahir tanpa pangkat dan akan mati tanpa membawa jabatan.

Maka mungkin yang perlu kita latih bukanlah cara agar nama kita selalu disebut, melainkan keberanian untuk tak disebut. Bukan upaya agar selalu duduk di depan, melainkan kesiapan untuk berdiri di belakang tanpa merasa berkurang. Sebab di sanalah kebebasan itu muncul—ketika kita tak lagi terikat pada ilusi penting, dan bisa menerima diri sebagai manusia biasa, yang nilainya tak bertambah oleh pujian dan tak berkurang oleh kelupaan.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN

Agar Regional Chief Economist Menghasilkan Rekomendasi yang "Handal"