Kunker pejabat
-(Sabtu, 5 September 2026)-
Terus terang, ada kalanya kunjungan pejabat justru terasa merepotkan. Bukan karena pejabat tidak perlu dihormati atau dilayani, tetapi karena dalam praktiknya penghormatan itu kadang berkembang menjadi rangkaian perlakuan khusus yang menyita waktu, tenaga, dan perhatian terlalu banyak orang.
Ada semacam mitos yang tumbuh di sekitar pejabat. Katanya, pejabat tertentu tidak suka menu ini, hanya menyukai makanan itu. Harus tersedia camilan tertentu. Harus menggunakan mobil tertentu. Pintu mobil mesti dibukakan. Tempat duduk harus disiapkan dengan posisi tertentu. Bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berhubungan dengan substansi pekerjaan ikut menjadi perhatian banyak orang hanya karena seorang pejabat akan datang.
Awalnya mungkin semua itu dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan. Namun, ketika dilakukan terus-menerus, penghormatan dapat berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan kemudian dianggap sebagai kewajiban, sampai akhirnya semua orang merasa harus mengikuti standar perlakuan khusus tersebut tanpa lagi bertanya apa sebenarnya manfaatnya.
Yang mengganggu bukan soal makanan, mobil, atau pintu yang dibukakan. Semua itu, jika dilakukan sesekali, tentu bukan persoalan besar. Yang terasa janggal adalah ketika urusan-urusan kecil tersebut membutuhkan energi banyak orang, sementara pekerjaan yang jauh lebih penting justru harus menunggu.
Sebuah agenda yang seharusnya sederhana bisa berubah menjadi pekerjaan tersendiri hanya karena ada pejabat yang hadir. Ada orang yang ditugaskan menyiapkan penyambutan, ada yang mengatur kendaraan, ada yang memastikan konsumsi, ada yang mengawal perjalanan, ada yang memeriksa ruangan, bahkan kadang ada yang harus memastikan semuanya tampak sempurna sebelum rombongan tiba.
Padahal, semua orang itu sebenarnya punya pekerjaan masing-masing.
Di sinilah persoalannya. Dalam birokrasi, waktu dan tenaga pegawai sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tersedia begitu saja. Ketika ada pejabat datang, banyak pekerjaan dapat ditunda demi memastikan kunjungan berlangsung lancar. Tidak ada yang merasa sedang membebani siapa pun karena semua dilakukan atas nama pelayanan dan penghormatan.
Namun, jika kebiasaan semacam ini terus dipelihara, kita bisa tanpa sadar membangun birokrasi yang lebih sibuk mengurus kenyamanan pejabat daripada menyelesaikan pekerjaan.
Semakin tinggi jabatan seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa setiap permintaan kecil dapat menghasilkan pekerjaan bagi banyak orang. Apa yang bagi pejabat mungkin hanya sebuah permintaan sederhana, bagi bawahannya bisa berarti pesan berantai, koordinasi, rapat kecil, perjalanan, administrasi, dan waktu kerja yang terpakai.
Karena itu, mungkin salah satu ukuran kepemimpinan yang baik justru adalah seberapa sedikit seorang pemimpin merepotkan orang-orang di sekitarnya.
Pejabat yang baik semestinya tidak merasa perlu diperlakukan istimewa hanya karena jabatannya. Ia tidak perlu memastikan makanan kesukaannya selalu tersedia, tidak perlu merasa harus menggunakan kendaraan tertentu, dan tidak perlu membuat banyak orang berdiri hanya untuk menyambut kedatangannya. Jika fasilitas memang diperlukan untuk menunjang pekerjaan, tentu harus disediakan. Tetapi jika hanya untuk membangun kesan bahwa seorang pejabat harus diperlakukan berbeda, rasanya perlu dipikirkan kembali.
Ada sesuatu yang lebih berharga daripada semua bentuk penghormatan seremonial itu: menghargai waktu orang lain.
Bayangkan jika seorang pejabat datang ke sebuah kantor, masuk tanpa banyak seremoni, kemudian langsung bekerja. Tidak ada pegawai yang harus meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menyambut. Tidak ada energi yang habis untuk memastikan segala sesuatu sesuai dengan selera pribadi. Tidak ada suasana tegang karena semua orang sibuk memastikan pejabat merasa nyaman.
Bukankah itu justru bentuk penghormatan yang lebih sehat terhadap organisasi?
Seorang pemimpin tidak menjadi kurang dihormati hanya karena pintu mobil tidak dibukakan. Tidak pula wibawanya berkurang hanya karena ia menikmati makanan yang sama dengan pegawai lainnya. Jabatan seharusnya memberikan kewenangan untuk mengambil keputusan, bukan menciptakan hak atas perlakuan yang berlebihan.
Barangkali birokrasi memang membutuhkan budaya baru dalam memaknai penghormatan kepada pejabat. Menghormati tidak harus berarti memanjakan. Melayani tidak harus berarti mengistimewakan. Dan menjaga wibawa tidak harus dilakukan dengan membuat orang lain sibuk mengurus hal-hal yang tidak substansial.
Pada akhirnya, pejabat juga hanya manusia yang kebetulan memegang jabatan dan tanggung jawab lebih besar. Justru karena tanggung jawabnya lebih besar, semestinya ia menjadi orang pertama yang menyadari bahwa waktu, tenaga, dan perhatian pegawai bukanlah sumber daya yang boleh digunakan tanpa batas.
Ada kepemimpinan yang terlihat dari kemampuan memberi perintah. Ada pula kepemimpinan yang terlihat dari kemampuan membuat pekerjaan menjadi lebih sederhana bagi orang lain.
Yang kedua mungkin tidak banyak terlihat, tetapi dampaknya jauh lebih panjang.
Sebab pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang mampu membuat orang lain bekerja untuknya. Pemimpin yang baik adalah mereka yang tahu kapan harus berkata: tidak perlu repot-repot, mari kita fokus pada pekerjaan.