Mental miskin
-(Kamis, 1 Oktober 2026)-
Saya sering mendengar orang mengatakan, “Dia itu bermental miskin.” Setiap kali mendengarnya, saya justru penasaran: sebenarnya apa yang dimaksud dengan mental miskin? Apa cirinya? Siapa yang menetapkan ciri-ciri itu? Dan, yang paling mendasar, apa dasar pengetahuan yang membuat seseorang berhak menyebut orang lain bermental miskin?
Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa istilah itu problematis. Tidak ada ukuran yang benar-benar jelas. Tidak ada standar yang disepakati. Tidak ada instrumen yang bisa digunakan untuk mengukur kadar “mental miskin” seseorang. Pada akhirnya, istilah itu lebih sering menjadi penilaian subjektif yang disampaikan seolah-olah merupakan sebuah fakta.
Yang menarik, label tersebut kerap muncul justru ketika seseorang mengambil keputusan yang sebenarnya sangat rasional secara ekonomi.
Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, misalnya, istilah in this economy semakin sering digunakan untuk menggambarkan perlunya berhati-hati membelanjakan uang. Menunda membeli sesuatu yang tidak penting, mengurangi makan di luar, memilih barang yang lebih murah, atau menahan diri dari gaya hidup konsumtif semestinya dapat dipahami sebagai keputusan finansial.
Tetapi anehnya, pilihan semacam itu kadang justru dicap sebagai mental miskin.
Seorang ayah yang memilih tidak membeli sesuatu untuk dirinya sendiri karena ingin memastikan kebutuhan pendidikan anaknya terpenuhi, misalnya, bisa saja dianggap tidak mampu menikmati hidup. Orang yang memilih menggunakan barang sampai benar-benar rusak sebelum menggantinya bisa disebut terlalu perhitungan. Mereka yang tidak mengikuti tren konsumsi bahkan dapat dianggap tidak memiliki mindset orang kaya.
Di titik itu saya mulai bertanya: sejak kapan kemampuan menahan keinginan menjadi tanda kemiskinan?
Bukankah seseorang bisa saja memiliki uang tetapi tetap memilih hidup sederhana? Bukankah kemampuan mengatakan “tidak” kepada keinginan yang sebenarnya tidak perlu justru membutuhkan kendali diri? Dan bukankah keputusan finansial semestinya dinilai dari konteks, tujuan, serta kemampuan ekonomi seseorang, bukan dari selera orang lain?
Masalahnya mungkin terletak pada cara kita menggunakan kata “kaya” dan “miskin”. Keduanya tidak lagi digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonomi, tetapi berubah menjadi label moral.
Orang yang membeli dianggap punya mindset kaya. Orang yang menahan diri dianggap bermental miskin. Orang yang berani membelanjakan uang disebut menikmati hidup. Orang yang menyimpan uang untuk kebutuhan masa depan dianggap takut kekurangan.
Padahal, uang yang dibelanjakan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Sebaliknya, uang yang disimpan juga tidak otomatis menunjukkan ketakutan.
Di sinilah saya melihat sesuatu yang lebih serius. Label “mental miskin” dapat bekerja seperti alat persuasi. Ia membuat seseorang merasa tidak nyaman dengan pilihan hidupnya sendiri. Seseorang yang semula puas hidup sederhana mulai merasa kurang hanya karena ada orang lain yang mengatakan bahwa kesederhanaannya adalah tanda kemiskinan mental.
Jika kemudian ada kepentingan bisnis di belakangnya, persoalannya menjadi semakin menarik. Konsumsi dapat didorong bukan dengan mengatakan bahwa seseorang harus membeli, tetapi dengan membuatnya merasa bahwa tidak membeli adalah sesuatu yang memalukan.
Tentu, tidak setiap penggunaan istilah “mental miskin” pasti merupakan propaganda. Bisa saja orang menggunakannya secara sembarangan, mengikuti istilah yang sedang populer, atau sekadar mengungkapkan pandangan pribadi. Tetapi justru karena istilah itu kabur, kita perlu berhati-hati ketika menerimanya sebagai kebenaran.
Hal yang sama berlaku ketika istilah “mental kaya” digunakan untuk membenarkan perilaku tertentu. Kaya secara mental tidak semestinya diterjemahkan menjadi berani berutang, gemar mengonsumsi, selalu membeli yang mahal, atau tidak takut menghabiskan uang. Kalau ukuran kekayaan mental adalah kemampuan membelanjakan uang sebanyak mungkin, maka istilah itu sudah bergeser menjadi slogan konsumsi.
Bahkan saya curiga, di balik sebagian penggunaan istilah “mental kaya” dan “mental miskin”, terdapat kepentingan yang lebih jauh: mengarahkan cara orang memandang dirinya sendiri, uangnya, bahkan kewajibannya terhadap orang lain. Dalam konteks tertentu, bahasa semacam ini juga bisa dimanfaatkan untuk mendorong pemberian sumbangan atau bentuk pengeluaran lain dengan membangun rasa bersalah terhadap orang yang memilih tidak memberi.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti sejenak setiap kali mendengar seseorang disebut “bermental miskin”.
Bukan untuk membela kemiskinan, apalagi mengagungkan hidup serba kekurangan. Yang perlu dipertanyakan adalah dasar penilaiannya. Apa perilakunya? Apa konteksnya? Apa akibatnya? Dan yang paling penting: siapa yang diuntungkan ketika seseorang mulai percaya bahwa pilihan hidupnya menunjukkan bahwa ia “miskin secara mental”?
Saya kira kita tidak perlu menerima label hanya karena ia terdengar meyakinkan. Tidak semua orang yang hemat takut menjadi miskin. Tidak semua orang yang boros merasa kaya. Dan tidak semua pilihan hidup harus tunduk pada ukuran yang dibuat orang lain.
Sebab bisa jadi, yang sebenarnya miskin bukan mental seseorang, melainkan argumen yang digunakan untuk menilainya.