Pisang epek
-(Sabtu, 25 Juli 2026)-
Pisang epek. Di Jawa saya tak pernah menemukannya. Di Kalimantan pun tidak. Padahal, jika dilihat dari cara membuatnya, panganan ini terbilang sederhana. Pisang yang masih mengkal dikupas, lalu dipanggang hingga matang tanpa harus gosong. Setelah itu, pisang ditekan dengan alat menyerupai setrika atau benda datar lainnya hingga menjadi pipih. Di atasnya disiram saus gula merah, kemudian diberi taburan sesuai selera—kacang, meses, keju, atau pelengkap lain.
Sesederhana itu.
Namun, justru dalam kesederhanaan itulah letak keistimewaannya. Terlebih jika menikmatinya pada sore hari di tepi laut, ditemani angin yang membawa aroma asin dan suara ombak yang berulang-ulang memecah pantai. Saat itu, besar kemungkinan Anda sedang berada di Sulawesi. Dan di sanalah saya berkenalan dengan salah satu kuliner khas daerah ini: pisang epek.
Pasangan yang hampir tak pernah terpisahkan dari pisang epek adalah saraba. Saya juga baru mengenal minuman ini di Sulawesi. Selama tinggal di Jawa maupun Kalimantan, saya belum pernah menjumpainya. Mungkin sebenarnya ada minuman yang serupa dengan nama berbeda, tetapi rasa dan pengalaman yang menyertainya tentu tidak persis sama.
Ada semacam kesepakatan yang tak pernah tertulis. Pisang epek dan saraba hampir selalu hadir mulai sore hingga malam hari. Saya tidak tahu siapa yang pertama kali menetapkan waktu itu. Mengapa bukan pagi, atau siang? Barangkali memang ada makanan yang, entah bagaimana, menemukan takdirnya sendiri.
Pecel, misalnya, lebih akrab sebagai menu sarapan daripada makan siang. Nasi kuning di banyak daerah Kalimantan dan Sulawesi juga lebih mudah dijumpai pada pagi hari. Sulit menjelaskan mengapa demikian. Tidak ada aturan resmi yang mengaturnya, tetapi kebiasaan masyarakat perlahan membentuk semacam kesepakatan bersama. Lama-kelamaan, waktu menjadi bagian dari identitas sebuah makanan.
Saya pun membayangkan, siapa yang pertama kali memulai semuanya? Siapa yang mula-mula menjual nasi kuning sebagai sarapan, atau menyajikan pecel sejak matahari belum tinggi? Mungkin bermula dari seorang pedagang yang mencoba menawarkan sesuatu pada jam tertentu, lalu ternyata disukai pembeli. Bisa juga berawal dari kebiasaan sebuah kampung yang kemudian ditiru kampung lain. Apa pun asal-usulnya, sebuah tradisi sering kali lahir bukan dari perencanaan besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang terus diulang.
Begitu pula dengan pisang epek. Saya membayangkan, mungkin pada suatu masa ada seseorang yang tanpa sengaja memanggang pisang di dekat bara yang digunakan untuk membakar ikan. Setelah matang, pisang itu ditekan agar lebih mudah dimakan. Rasanya ternyata lebih nikmat daripada sekadar direbus atau digoreng. Lalu, pada kesempatan berikutnya, seseorang mencoba menyiraminya dengan gula merah cair. Orang lain menambahkan kacang. Ada pula yang menaburkan keju atau meses. Sedikit demi sedikit, sebuah percobaan sederhana berubah menjadi kuliner yang kini dikenal banyak orang.
Tentu saja semua itu hanya dugaan saya. Namun, sejarah banyak makanan memang tampaknya lahir dari keberanian untuk mencoba. Dari rasa penasaran yang sederhana. Dari pertanyaan, "Bagaimana kalau begini?" yang kemudian dijawab oleh lidah.
Mungkin di situlah letak salah satu keistimewaan manusia. Kita memiliki kemampuan untuk berkreasi dari hal-hal yang tampak biasa. Pisang yang semula hanya dipanggang bisa berubah menjadi sajian yang memiliki cerita, suasana, bahkan identitas sebuah daerah. Kreativitas membuat sesuatu yang sederhana menjadi memiliki nilai yang lebih besar daripada bahan-bahannya.
Sayangnya, kemampuan itu bersifat netral. Daya cipta yang sama dapat melahirkan makanan yang menghangatkan perjumpaan, tetapi juga dapat digunakan untuk menciptakan cara-cara yang semakin rumit dalam mengakali aturan. Kreativitas yang seharusnya menghasilkan manfaat, kadang justru dipakai untuk menyusun skema korupsi yang semakin sulit dilacak.
Barangkali, yang membedakan bukanlah kecerdasan atau kemampuan berkreasi, melainkan arah ke mana kreativitas itu digunakan. Sebab pada akhirnya, pisang epek dan korupsi sama-sama lahir dari daya cipta manusia. Yang satu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi kenikmatan yang bisa dinikmati bersama. Yang lain mengubah kecerdasan menjadi jalan untuk merugikan banyak orang.
Dan setiap kali saya menikmati sepiring pisang epek hangat bersama segelas saraba di sore hari, saya kembali diingatkan bahwa kreativitas selalu memiliki dua kemungkinan. Ia bisa menjadi berkah yang memperkaya kebudayaan, atau sebaliknya, menjadi alat yang memperdalam kerusakan. Pilihannya, sejak awal, memang selalu berada di tangan manusia.