Belokan bebas

-(Jumat, 24 Juli 2026)-

Saya kerap bertanya: benarkah kita memiliki kehendak bebas?

Pertanyaan itu sering muncul justru ketika saya sedang mengayuh sepeda. Setiap pagi sebelum bekerja, saya hampir tak pernah menentukan tujuan. Saya tidak memutuskan akan ke mana atau berapa kilometer yang akan ditempuh. Satu-satunya keputusan yang saya buat hanyalah jam berapa perjalanan harus berakhir, karena setelah itu saya mesti kembali menjalani rutinitas kerja.

Selebihnya, saya membiarkan perjalanan mengambil bentuknya sendiri.

Maka setiap kali berada di persimpangan, saya sering merasa seolah-olah arah perjalanan tidak sepenuhnya saya tentukan. Ada dorongan yang sulit saya beri nama. Apakah itu pikiran, keinginan, intuisi, kebiasaan, atau sesuatu yang bekerja jauh di bawah kesadaran? Saya hanya tahu, tangan saya membelokkan setang, kaki terus mengayuh, dan beberapa saat kemudian saya telah berada di jalan yang sebelumnya bahkan tidak saya rencanakan.

Pagi tadi pengalaman itu kembali terjadi.

Semula saya membayangkan akan mengambil rute yang biasa. Namun di sebuah belokan, tanpa pertimbangan yang benar-benar saya sadari, saya memilih jalan lain. Pilihan kecil itu ternyata membawa saya memutari teluk—rute yang jauh lebih panjang daripada kebiasaan saya di hari kerja. Dulu saya pernah melakukannya, tetapi pada hari libur, ketika waktu terasa longgar dan saya tak perlu terburu-buru. Kali ini berbeda. Saya tetap harus mengawasi jam, menghitung waktu, dan memastikan bisa kembali sebelum pekerjaan menunggu.

Anehnya, semua itu tetap terasa mungkin.

Hadiah dari belokan yang tak direncanakan itu bukan hanya tambahan jarak. Saya juga menemukan kembali kejutan-kejutan yang membuat sebuah perjalanan terasa hidup. Ada sebuah pantai kecil di Lapulu yang sebelumnya luput dari perhatian saya. Ada pula sebuah kawasan tepi air yang tenang, tempat saya dapat memandang bukit di seberang teluk—bukit tempat rumah saya berada. Dari sana, perahu-perahu tampak bergerak perlahan, sementara Jembatan Teluk menghadirkan wajah yang sama sekali berbeda ketika dilihat dari sudut yang tak biasa.

Barangkali memang begitu cara sebuah perjalanan memperlihatkan dirinya: bukan dengan membawa kita ke tempat yang sama, melainkan dengan mengubah cara kita memandang tempat itu.

Pengalaman seperti ini selalu membawa saya kembali pada pertanyaan semula. Siapa sebenarnya yang memutuskan saya mengambil belokan itu? Apakah saya sungguh memilihnya? Ataukah keputusan itu sesungguhnya telah dibuat oleh otak saya beberapa saat sebelum saya menyadarinya?

Ilmu saraf modern memang menunjukkan bahwa aktivitas otak sering kali mendahului kesadaran kita ketika mengambil keputusan. Jika demikian, mungkinkah apa yang saya sebut sebagai "kehendak" hanyalah narasi yang muncul belakangan untuk menjelaskan pilihan yang sebenarnya telah diputuskan oleh jaringan saraf di dalam kepala saya?

Saya tidak memiliki jawabannya.

Mungkin kehendak bebas memang tidak sesederhana memilih kanan atau kiri di sebuah persimpangan. Mungkin ia bukan tentang menjadi penguasa mutlak atas setiap keputusan, melainkan tentang kesediaan berdialog dengan dorongan-dorongan yang membentuk diri kita—ingatan, kebiasaan, rasa ingin tahu, bahkan intuisi yang bekerja tanpa suara.

Yang saya tahu, pagi tadi saya pulang dengan perasaan yang sulit disangkal: bersemangat.

Saya menemukan tempat-tempat baru tanpa pernah berniat mencarinya. Saya mengambil jalan yang tidak saya rencanakan, tetapi justru jalan itulah yang memberi makna pada perjalanan pagi itu.

Dan mungkin, suatu hari nanti, saya akan kembali ke sana. Bukan semata-mata untuk mengulang rutenya, melainkan untuk kembali merasakan bagaimana sebuah belokan kecil dapat membuka pertanyaan besar tentang siapa sesungguhnya yang sedang mengayuh sepeda ini.

Populer

Tiga dilupakan

Gergaji baru

Kue pocong

Jejak abadi

Bokori

Anak harapan

Produsen isu

Alergi AI

Senja teluk

Wedangan kelas menengah