Fasilitas publik

-(Rabu, 15 Juli 2026)-

Setiap kali mengunjungi daerah-daerah, saya hampir selalu menyempatkan diri mengamati fasilitas publik yang ada di sana. Bukan hanya bangunannya, tetapi juga bagaimana fasilitas itu diperlakukan setelah diresmikan dan digunakan. Dari pengamatan yang berulang itu, saya sampai pada sebuah kesimpulan yang terus mengganggu pikiran: tampaknya kita, baik sebagai masyarakat maupun pemerintah, belum memiliki budaya merawat apa yang telah kita bangun.

Cobalah melihat stadion, taman kota, atau kawasan wisata. Hal pertama yang sering kali mencuri perhatian justru bukan kemegahan bangunannya, melainkan tanda-tanda pengabaian yang pelan-pelan menggerogoti nilainya. Kamar mandi dan toilet kotor, banyak yang rusak, air tidak mengalir, sementara sampah berserakan tanpa ada yang benar-benar peduli. Fasilitas yang seharusnya menjadi wajah pelayanan publik perlahan berubah menjadi potret ketidakpedulian.

Saya pernah berkunjung ke sebuah pantai yang tampak dibangun melalui investasi yang tidak kecil. Jejak keseriusan itu masih terlihat dari deretan bangunan, jalur pejalan kaki, hingga berbagai fasilitas penunjang yang pernah dirancang dengan baik. Namun kini suasananya berbeda. Beberapa bangunan kosong dan nyaris roboh. Cat mengelupas, pagar berkarat, dan ruang-ruang yang dahulu mungkin dipenuhi pengunjung kini hanya menjadi saksi bisu bahwa sebuah tempat pernah begitu diperhatikan, lalu perlahan dilupakan.

Pemandangan seperti itu ternyata bukan kasus yang berdiri sendiri. Di banyak daerah, saya melihat pola yang serupa. Fasilitas publik yang menjadi kebanggaan pada masa seorang kepala daerah menjabat sering kali kehilangan perhatian ketika kepemimpinan berganti. Seolah-olah yang diwariskan bukanlah aset publik yang harus dijaga bersama, melainkan sekadar proyek yang masa hidupnya berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa jabatan pembangunnya.

Dari situlah muncul pertanyaan yang terus mengusik saya. Apakah memang seperti ini watak kita dalam memperlakukan ruang publik? Apakah kita lebih bersemangat membangun daripada memelihara? Kita tampaknya begitu antusias meresmikan sesuatu, tetapi kurang sabar merawatnya. Padahal sebuah bangunan tidak benar-benar menunjukkan nilainya pada hari peresmian. Nilai sesungguhnya justru terlihat bertahun-tahun kemudian, ketika bangunan itu tetap bersih, berfungsi, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Saya memahami bahwa pemeliharaan membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Tidak ada fasilitas publik yang dapat bertahan tanpa biaya perawatan. Namun membiarkan aset bernilai miliaran rupiah rusak begitu saja juga bukan pilihan yang bijak. Bahkan jika dihitung secara ekonomi, biaya memperbaiki kerusakan yang dibiarkan menumpuk sering kali jauh lebih mahal daripada biaya merawatnya secara rutin. Yang lebih disayangkan lagi, setiap fasilitas yang terbengkalai sesungguhnya adalah investasi publik yang kehilangan manfaatnya sedikit demi sedikit.

Barangkali persoalannya bukan semata-mata kekurangan anggaran. Bisa jadi yang lebih mendasar adalah cara pandang. Kita masih terlalu sering menganggap pembangunan sebagai garis akhir, padahal sesungguhnya ia hanyalah titik awal. Membangun itu seperti menanam pohon. Peresmian hanyalah saat benih ditanam, sedangkan manfaatnya baru akan dirasakan jika pohon itu terus disiram, dirawat, dan dijaga. Tanpa itu semua, yang tersisa hanyalah batang yang perlahan mengering.

Karena itu, saya sampai pada pertanyaan yang lebih kritis. Apakah memang begini nasib hampir semua fasilitas umum yang dikelola pemerintah? Ataukah sebenarnya ada persoalan tata kelola yang belum berhasil kita benahi? Jika pola ini terus berulang, mungkin sudah saatnya kita membuka ruang untuk memikirkan model pengelolaan yang berbeda. Bukan berarti seluruh fasilitas publik harus diserahkan kepada swasta, tetapi setidaknya kita perlu berani mengevaluasi apakah ada skema yang mampu menjamin keberlanjutan perawatan, tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat.

Saya menuliskan semua ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Justru karena saya percaya fasilitas publik adalah cermin peradaban. Cara sebuah bangsa memperlakukan ruang bersama sering kali berbicara lebih jujur daripada pidato-pidato tentang kemajuan. Dan setiap kali melihat bangunan yang perlahan runtuh karena diabaikan, saya tidak hanya melihat tembok yang retak atau atap yang bocor. Saya melihat sebuah kesempatan yang dibiarkan hilang, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kita menganggap kerusakan sebagai sesuatu yang lumrah.

Populer

Toronipa pensiun

Bokori

Lansia muda

Kaos seragam

Pantun integritas

Romantisasi lampau

Layanan "Kelas Jauh"

Pergaulan global

Teknokratis

Optimisme