Alergi AI
-(Kamis, 9 Juli 2026)-
Di tengah laju perkembangan AI yang begitu cepat, saya kerap heran melihat masih banyak orang atau institusi yang bersikap denial terhadap pemanfaatannya. Kegelisahan ini muncul setiap kali saya membaca alasan penolakan sebuah naskah yang dianggap “tidak akademik” hanya karena terindikasi AI generated—sering kali bahkan disertai angka yang terdengar meyakinkan: 80%, 70%, atau persentase lainnya.
Pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya sederhana: memangnya apa masalahnya jika sebuah karya terindikasi dibuat dengan bantuan AI?
AI tidak mungkin menghasilkan sebuah karya dari ruang hampa. Ia tidak bekerja seperti sihir yang tiba-tiba melahirkan gagasan tanpa campur tangan manusia. Selalu ada seseorang di belakang layar yang memberi perintah, menyusun konteks, menentukan arah, memperbaiki hasil, lalu memutuskan mana yang layak digunakan. Dengan kata lain, AI tetap bekerja dalam horizon pikiran manusia.
Bahkan ketika AI mampu menghasilkan karya yang sangat baik, bukankah orang yang memberikan instruksi—yang merancang prompt, mengarahkan proses, dan menilai hasil—juga layak diapresiasi? Kemampuan memberi perintah yang tepat sesungguhnya bukan hal remeh. Ada nalar, intuisi, pengetahuan, dan ketajaman berpikir di sana.
Saya teringat pada situasi yang sangat lazim di dunia kerja, termasuk di birokrasi pemerintahan. Seorang atasan memberi arahan dan instruksi kepada bawahannya. Sang bawahan lalu mengerjakan naskah, laporan, atau dokumen sesuai arahan tersebut. Setelah selesai, dokumen itu diserahkan dan sering kali yang tercantum sebagai nama utama justru si atasan. Ini bukan hal asing. Dalam banyak pekerjaan, yang terlihat di permukaan adalah nama atasan, padahal yang mengerjakan secara teknis adalah bawahan.
Namun kita jarang mempermasalahkan itu.
Mengapa? Karena kita memahami bahwa hasil kerja bawahan tidak sepenuhnya lahir tanpa arahan. Ada visi, keputusan, dan struktur berpikir dari atasan yang menjadi kerangka kerja. Bawahan mengeksekusi, tetapi arah tetap datang dari pihak yang memberi instruksi.
Bagi saya, relasi manusia dengan AI tidak jauh berbeda. Hanya saja, kali ini “bawahan” itu bukan manusia, melainkan mesin yang sangat canggih. AI adalah alat kerja yang kita beri konteks, perintah, batasan, dan koreksi. Ia mengeksekusi apa yang kita minta, lalu mengembalikan hasil yang bisa kita revisi, poles, atau bahkan tolak.
Jika demikian, mengapa ketika “bawahan” itu bernama AI, kita mendadak alergi?
Saya melihat ada semacam ketakutan yang belum sepenuhnya diakui. Sebagian orang masih memandang AI sebagai sesuatu yang tabu—seolah penggunaan AI otomatis meniadakan kapasitas berpikir manusia. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. AI bukan pengganti pikiran, melainkan perluasan daya pikir. Ia mempercepat, memperluas, dan dalam banyak kasus, mempertajam apa yang sebelumnya terbatas oleh kemampuan manusia.
Ironisnya, kita hidup di masa ketika alat yang kita ciptakan justru sering dianggap lebih mencurigakan daripada cara kerja lama yang tak pernah benar-benar kita pertanyakan.
Barangkali problem utamanya bukan pada AI, melainkan pada cara kita memahami otoritas, kreativitas, dan kepemilikan karya. Kita masih terjebak pada bayangan lama bahwa karya yang “murni” adalah karya yang sepenuhnya dikerjakan oleh tangan manusia, seakan proses berpikir selalu identik dengan kerja manual.
Padahal sejarah manusia adalah sejarah penggunaan alat. Pena menggantikan hafalan. Kalkulator membantu hitungan. Komputer mempercepat analisis. AI hanyalah kelanjutan dari rantai itu—bukan penyimpangan darinya.
Di titik itulah saya merasa sedih.
Bukan karena AI terlalu maju, melainkan karena sebagian dari kita masih sibuk memusuhi alat yang bisa memperluas potensi manusia. Kita seolah lebih takut pada perubahan daripada tertarik memahami kemungkinan-kemungkinan baru yang dibawanya.
Mungkin masalah terbesar kita bukan AI.
Melainkan ketidaksiapan untuk menerima bahwa cara manusia berkarya sedang berubah.