Ikan bakar
-(Jumat, 17 Juli 2026)-
Kali ini, keinginan kuatnya kembali datang dengan cara yang nyaris tak bisa ditunda. Bukan lagi tentang pantai, tempat wisata, atau lokasi-lokasi eksotis yang mengundang rasa penasaran. Kali ini hasratnya jauh lebih sederhana, tetapi justru terasa lebih nyata: menikmati ikan bakar di sebuah warung yang berdiri tepat di tepi laut.
Sebenarnya, di daerah ini tidak sulit menemukan rumah makan yang menyajikan ikan bakar. Pilihannya banyak, dari warung sederhana hingga restoran yang lebih besar. Namun, tempat yang ia inginkan memiliki daya tarik yang berbeda. Sebuah warung di pinggir teluk, dengan meja-meja yang menghadap langsung ke laut. Belakangan saya baru tahu, selain ikan bakar, warung itu juga menyajikan sayur rumahan yang hangat dan sederhana—pelengkap yang justru membuat pengalaman makan terasa lebih utuh.
Ia mengetahui keberadaan warung itu ketika kami melewatinya dalam perjalanan menuju pantai, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya. Sejak saat itu, barangkali ia menyimpan sebuah bayangan yang terus hidup di kepalanya: menikmati ikan bakar pada pagi atau siang hari, ditemani semilir angin laut, dengan kapal-kapal dan perahu nelayan yang beristirahat di teluk sebagai latar pandang. Barangkali bagi orang lain itu hanyalah pemandangan biasa. Namun, bagi kami, ada sesuatu yang membuatnya terasa istimewa—pengalaman sederhana yang menjanjikan ketenangan.
Meski sebenarnya kami sempat menemukan dan makan ikan bakar di rumah makan lainnya, keinginannya untuk datang ke warung di tepi laut itu tidak pernah benar-benar hilang. Ada kalanya sebuah tempat bukan sekadar soal makanan yang disajikan, melainkan tentang suasana yang ingin dihidupi. Dan rupanya, itulah yang terus ia tunggu.
Karena itulah, saya mulai menyusun rencana agar kami akhirnya bisa datang ke sana.
Pagi itu, setelah berjalan-jalan menikmati keramaian car free day di sekitar tugu religi, kami langsung menuju warung yang sejak lama ia impikan. Sesampainya di sana, ia memilih sendiri ikan yang akan dibakar. Awalnya hanya satu ekor. Namun saya memintanya menambah satu lagi. Rasanya, momen yang telah lama ditunggu ini layak dirayakan tanpa perhitungan yang terlalu ketat.
Sambil menunggu pesanan, kami menikmati pemandangan di hadapan. Laut teluk tampak tenang. Kapal-kapal dan perahu nelayan berbaris seolah sedang beristirahat setelah bekerja. Di kejauhan, masjid yang berdiri di tengah teluk menjadi penanda yang membuat lanskap itu terasa semakin khas. Warung yang berada di bawah rindangnya pohon besar, ditambah naungan tenda sederhana, membuat terik matahari pagi tak begitu terasa.
Tak lama kemudian, ikan bakar yang kami pesan tiba bersama nasi hangat, sambal, sayur rumahan, dan minuman. Kami pun mulai menyantapnya perlahan. Setiap suapan menghadirkan perpaduan yang sederhana namun begitu lengkap: daging ikan yang lembut, sambal yang menggugah selera, serta sayur rumahan yang memberi rasa akrab, seperti masakan di rumah sendiri. Sarapan pagi di tepi teluk itu terasa begitu utuh, bukan semata karena makanannya, tetapi karena seluruh suasana yang menyertainya.
Begitulah, keinginan kuatnya sekali lagi membawa kami pada sebuah pengalaman yang mungkin akan terus kami kenang. Saya kembali menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar atau mahal. Kadang, ia hanya membutuhkan sebuah warung sederhana di tepi laut, ikan bakar yang masih mengepul, dan seseorang yang dengan tekun menjaga keinginannya hingga akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.