Salah paham

-(Senin, 27 Juli 2026)-

Saya membuat satu kesalahan yang, setelah dipikir-pikir, terasa sangat bodoh. Akar masalahnya sederhana: saya tidak tahu. Tetapi justru dari ketidaktahuan itulah lahir sebuah tindakan yang berujung pada penyesalan.

Semua bermula dari sepeda. Dalam pikiran saya, semua komponen yang bergerak atau berputar semestinya diberi pelumas. Jika rantai membutuhkan oli agar tidak seret, saya mengira bagian lain pun demikian. Maka tanpa ragu saya mengucurkan pelumas bukan hanya pada rantai dan gear, tetapi juga pada rem depan dan belakang.

Kini saya tahu, itulah letak kesalahan saya.

Rem justru bekerja karena adanya gesekan. Ketika permukaan rem dilumasi, daya cengkeramnya berkurang. Saya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan fungsi rem itu sendiri. Akibatnya segera terasa. Rem sepeda saya mulai berdecit setiap kali digunakan. Yang lebih mengganggu bukanlah bunyinya, melainkan kesadaran bahwa rem mungkin tidak lagi bekerja sebaik sebelumnya. Pikiran saya langsung melayang pada jalan menurun yang curam. Bagaimana jika suatu hari rem itu benar-benar kehilangan daya cengkeramnya?

Saya merasa sedih sekaligus menertawakan diri sendiri. Betapa mudahnya seseorang melakukan kesalahan ketika merasa sudah memahami sesuatu, padahal pengetahuannya hanya berupa dugaan. Saya tidak sedang memperbaiki sepeda, melainkan sedang menguji asumsi saya sendiri—dan asumsi itu ternyata keliru.

Peristiwa kecil ini kembali mengingatkan saya bahwa ketidaktahuan bukanlah masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika ketidaktahuan dipadukan dengan rasa percaya diri yang berlebihan. Ada keadaan-keadaan tertentu ketika mencoba memang diperlukan. Banyak penemuan lahir dari keberanian bereksperimen. Namun ada pula hal-hal yang menuntut kita berhenti sejenak, mencari tahu, bertanya, atau membaca lebih dahulu. Sebab tidak semua kesalahan memberi harga yang murah.

Setelah menyadari kekeliruan itu, saya segera mencuci bagian rem untuk menghilangkan sisa pelumas. Hasilnya memang sedikit membaik. Bunyi decit sempat menghilang. Namun setelah rem mengering dan kembali terkena panas, suara itu muncul lagi. Barangkali masih ada sisa oli yang menempel pada kampas atau cakram. Saya belum benar-benar tahu cara mengatasinya. Mungkin saya harus membersihkannya lagi, atau bahkan mengganti bagian yang sudah terkontaminasi.

Sepeda itu akhirnya memberi saya pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar urusan mekanis. Dalam hidup, banyak kesalahan bukan lahir dari niat buruk, melainkan dari pengetahuan yang tidak utuh. Kita sering merasa cukup paham untuk bertindak, padahal sebenarnya baru memahami permukaannya saja.

Begitulah. Ketika kebodohan bertemu dengan keberanian yang tidak disertai pengetahuan, kerugian sering kali menjadi ongkos belajar yang harus dibayar. Untungnya, selama kita masih mau mengakui kesalahan, setiap penyesalan selalu menyisakan satu keuntungan: kita menjadi sedikit lebih bijaksana daripada hari sebelumnya.

Populer

Tiga dilupakan

Gergaji baru

Kue pocong

Senja teluk

Bokori

Piala dunia

Putri sejati

Kuasa algoritma

Gadung

Angkot sepi