Magnet ekonomi

-(Selasa, 24 Juni 2025)-

Kenyataannya, pelaksanaan haji dan umrah telah membawa berkah ekonomi yang luar biasa bagi Arab Saudi. Lihat saja di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—dua pusat ibadah utama umat Islam—berdiri ratusan, bahkan mungkin ribuan hotel yang siap menampung para jamaah dari seluruh dunia. Belum lagi mall-mall dan pusat perbelanjaan yang menyediakan berbagai macam barang, baik yang menjadi kebutuhan maupun keinginan para jamaah haji dan umrah.

Dua masjid suci tersebut telah benar-benar menjadi magnet spiritual sekaligus magnet ekonomi. Lingkungan sekitarnya berkembang menjadi pusat bisnis yang sangat hidup. Ketika jamaah ingin mencari dan membeli barang apa saja, sepertinya semua telah tersedia. Mulai dari perhiasan, pakaian, makanan khas, obat-obatan, hingga oleh-oleh khas Timur Tengah. Aktivitas ekonomi ini menjadi denyut tambahan yang menyertai ibadah para jamaah.

Saya kira, kondisi ini telah disadari sejak lama oleh pemerintah Arab Saudi. Maka tidak mengherankan bila mereka memiliki satu kementerian khusus yang menangani urusan haji dan umrah. Kementerian ini tampaknya tidak hanya fokus pada pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga terintegrasi dengan otoritas yang mengelola infrastruktur, pelayanan publik, hingga sektor bisnis dan ekonomi yang terkait.

Oleh karena itu, saya melihat pengelolaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dilakukan secara sangat profesional, dengan manajemen yang rapi dan terkoordinasi. Jika disederhanakan, yang tampak adalah kedua masjid ini dikelilingi oleh pasar—dalam arti mall dan pertokoan modern. Ini justru mengingatkan saya pada kondisi di beberapa daerah di Indonesia. Di sana, ketika terdapat masjid raya, di sekitarnya biasanya juga berdiri pasar. Misalnya di Kota Solo, ada Masjid Raya, dan tidak jauh dari situ berdiri Pasar Klewer. Namun, memang, semakin ke sini, pola itu mulai bergeser. Beberapa daerah tidak lagi mengembangkan kawasan religius dan ekonomi secara berdampingan.

Saya berpikir bahwa menjadikan pusat-pusat aktivitas religi dan ziarah sebagai kawasan ekonomi sebenarnya adalah peluang yang bisa dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia. Banyak daerah memiliki tradisi keagamaan tahunan, atau kegiatan ziarah yang menarik kerumunan orang. Ketika banyak orang berkumpul, aktivitas ekonomi dan perdagangan hampir selalu mengikuti. Prinsip dasarnya sederhana: ada gula, ada semut.

Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa sebuah masjid besar yang dikelola dengan baik—tempat di mana sholat lima waktu dijalankan dengan konsisten dan berkualitas, dengan imam dan muazin yang baik pula—bisa menjadi sumber keberkahan, termasuk dalam aspek ekonomi. Meskipun masjid itu tidak memiliki keutamaan pahala seperti Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, tetapi jika mampu memberikan pengalaman religius yang menyentuh, ia akan selalu dirindukan oleh jamaah. Ketika banyak orang datang, di situlah pusat ekonomi bisa dikembangkan. Tentu, semua ini bisa terjadi bila kita mampu melihat potensi tersebut sebagai peluang.

Populer

The Last Kasi Bank dan Manajemen Stakeholder

DAK Fisik dan Dana Desa, Mengapa Dialihkan Penyalurannya?

Menggagas Jabatan AR di KPPN

Setelah Full MPN G2, What Next KPPN?

Perbendaharaan Go Green

Everything you can imagine is real - Pablo Picasso

Pengembangan Organisasi

"Penajaman" Treasury Pada KPPN