Gowes pesisir

-(Selasa, 15 September 2026)-

Pagi di akhir pekan itu saya sudah menentukan tujuan gowes: melampaui titik yang saya capai pada minggu sebelumnya. Artinya, kali ini saya ingin mengayuh pedal sedikit lebih lama, menempuh jarak sedikit lebih jauh. Namun, arahnya tetap sama: kawasan pesisir.

Saya sudah punya pengalaman dari gowes sebelumnya. Di kawasan itu kendaraan yang lalu-lalang tidak terlalu banyak. Udara terasa lebih bersih karena jauh dari kepulan asap kendaraan. Di sana saya juga bisa mengejar matahari pagi yang baru saja terbit, sekaligus menikmati laut pada saat airnya mungkin sedang pasang.

Dan benar saja, semua yang saya harapkan saya dapatkan pagi itu.

Jalanan relatif sepi. Matahari baru saja muncul dari ufuk. Air laut sedang pasang hingga mencapai batas jalan. Ada semacam suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota: jalan yang lengang, udara yang lapang, dan laut yang terbentang tanpa tergesa-gesa.

Tentu saja perjalanan tidak sepenuhnya mudah. Ada beberapa tanjakan yang memaksa saya memindahkan gear belakang ke angka terkecil. Sepeda pun melaju sangat pelan. Pada titik-titik tertentu, saya hanya bisa mengayuh sambil mengatur napas, memastikan satu hal: jangan sampai harus turun dan menuntun sepeda.

Untungnya, saya berhasil melewati semuanya.

Mungkin tidak ada pencapaian besar dari sekadar berhasil menaklukkan beberapa tanjakan. Tetapi bagi saya, gowes memang bukan semata-mata soal seberapa jauh jarak yang ditempuh atau seberapa tinggi tanjakan yang berhasil dilewati. Ada kepuasan kecil ketika tubuh yang mulai lelah tetap diajak bergerak sedikit lebih jauh dari batas sebelumnya.

Barangkali kaki saya akan terasa pegal dan linu setelahnya. Tetapi mungkin justru dari rasa pegal itulah kaki menjadi sedikit lebih kuat.

Perjalanan kemudian membawa saya tiba di sebuah jembatan panjang. Dari atas jembatan, saya melihat sebuah perkampungan yang berdiri di atas air.

Rumah-rumah penduduk sebagian besar masih menggunakan papan kayu. Rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga yang sebagian terbuat dari kayu, sementara sebagian lainnya sudah menggunakan beton. Namun unsur kayu tetap menjadi bagian dari wajah perkampungan itu. Atap rumah-rumahnya bukan genteng. Mungkin seng atau bahan lain yang saya tidak tahu persis namanya.

Yang menarik perhatian saya justru warna rumah-rumah itu. Sebagian besar dicat biru.

Dari atas jembatan, perpaduan rumah panggung, air laut, kayu, dan warna biru itu menciptakan pemandangan yang menurut saya cukup eksotik. Saya menebak, ini adalah sebuah perkampungan nelayan.

Di bagian lain yang lebih dekat ke laut, saya melihat beberapa vila yang berdiri di atas air. Bangunannya juga didominasi kayu, dengan jalan setapak yang memanjang dari daratan menuju vila.

Saya tentu saja langsung membayangkan bagaimana rasanya tinggal di sana.

Bangun pagi, membuka pintu, lalu mendapati laut terbentang di depan mata. Tidak perlu pergi ke pantai untuk melihat air laut karena laut itu sendiri sudah menjadi halaman rumah.

Entah kapan keinginan itu bisa terwujud. Tetapi mungkin memang begitulah awal dari banyak keinginan: mula-mula hanya sebuah bayangan yang muncul ketika kita melihat sesuatu yang menarik. Setelah itu, tinggal bagaimana kita mencari jalan untuk merealisasikannya.

Namun ada satu hal lain yang membuat tangan saya spontan meraih ponsel untuk mengabadikan pemandangan.

Di bawah jembatan panjang itu, tepat di pinggir laut, berdiri bangunan Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes Merah Putih.

Bukan hanya satu.

Ada tiga bangunan Kopdes Merah Putih yang sudah selesai dibangun dan tampaknya tinggal menunggu operasional. Letaknya tidak terlalu berjauhan. Dua di antaranya bahkan hanya berjarak sekitar 200–300 meter. Sementara satu lainnya terpisah oleh sebuah celah atau aliran sungai.

Saya pun mulai bertanya-tanya: mengapa di satu kawasan yang relatif berdekatan terdapat tiga Kopdes Merah Putih?

Barangkali jawabannya sederhana. Di bawah jembatan itu mungkin memang terdapat tiga desa yang berbeda. Jika masing-masing desa memiliki kebutuhan untuk membangun Kopdes, mungkin lokasi yang tersedia memang berada di kawasan yang sama. Bisa jadi pula, tidak banyak pilihan tempat yang dianggap layak untuk membangun fasilitas tersebut.

Saya tentu tidak mengetahui persis alasan di balik penentuan lokasinya. Dan saya tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa sesuatu yang terlihat berdekatan pasti tidak efisien.

Toh, dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering melihat dua minimarket dengan merek yang sama-sama besar berdiri hanya beberapa ratus meter satu sama lain. Bahkan tidak jarang keduanya berada hampir berhadap-hadapan. Mereka tetap dibangun karena masing-masing memiliki perhitungan pasar dan pertimbangan bisnisnya sendiri.

Mungkin Kopdes juga demikian.

Yang membedakan, Kopdes bukan sekadar bangunan yang menunggu pembeli datang. Ia membawa harapan yang lebih besar: menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat desa.

Karena itu, tiga bangunan yang berdiri berdekatan tadi justru membuat saya berpikir lebih jauh. Persoalannya mungkin bukan semata-mata soal jarak antarbangunan, melainkan tentang apa yang kelak terjadi setelah bangunan itu mulai digunakan.

Apakah ketiganya akan hidup? Apakah masing-masing akan menemukan fungsi dan pasar yang sesuai dengan kebutuhan warganya? Apakah aktivitas ekonominya benar-benar tumbuh, atau bangunan-bangunan itu pada akhirnya hanya menjadi bagian dari pemandangan pesisir?

Saya tidak tahu jawabannya.

Pagi itu saya hanya seorang pesepeda yang kebetulan melewati tempat tersebut. Saya datang untuk mencari jarak yang lebih jauh dari minggu sebelumnya, tetapi justru pulang membawa pertanyaan yang lebih jauh.

Begitulah kadang-kadang perjalanan bekerja.

Kita berangkat dengan tujuan tertentu, tetapi jalan memberi kita sesuatu yang tidak pernah masuk dalam rencana. Saya berangkat untuk melatih kaki agar lebih kuat. Namun di bawah sebuah jembatan panjang di tepi laut, saya justru menemukan sesuatu yang membuat pikiran ikut bersepeda: tentang desa, rumah-rumah di atas air, vila yang ingin saya tinggali suatu hari nanti, dan tiga Kopdes Merah Putih yang sedang menunggu kehidupan dimulai.

Mungkin itulah salah satu alasan saya menyukai gowes.

Bukan hanya karena pedal membawa tubuh ke tempat yang lebih jauh, tetapi karena setiap kayuhan kadang membawa pikiran menemukan pertanyaan-pertanyaan baru.

Populer

Mutasi (lagi)??

Duren & Pilpres

Materi kebersihan

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Berburu Sunrise

Merdeka

Rebahaner

Masjid Quba

Defisit Kalori

Enggan adaptasi