Gaya imam

-(Sabtu, 12 September 2026)-

Barangkali, salah satu alasan mengapa kita kadang malas pergi salat berjamaah di masjid adalah karena imam di lingkungan kita terbiasa membaca surat terlalu panjang, bahkan memperlama hampir setiap gerakan salat.

Saya kadang bertanya-tanya, apakah mereka tidak pernah mendengar sabda Rasulullah saw. agar seorang imam tidak memperpanjang salat, karena di antara makmum bisa saja ada orang tua, orang yang sedang sakit, atau anak-anak? Saya memahami bahwa niat mereka mungkin baik. Mereka ingin salat dengan khusyuk, tenang, dan sempurna. Tetapi niat yang baik tidak selalu melahirkan cara yang tepat.

Sebab, ketika salat berjamaah dibuat terlalu panjang, yang terjadi justru bisa sebaliknya. Orang-orang yang sebenarnya ingin datang ke masjid perlahan merasa enggan. Bukan karena mereka tidak ingin beribadah, melainkan karena mereka sudah membayangkan harus berdiri lama, membaca bacaan yang panjang, dan mengikuti setiap gerakan yang seolah-olah sengaja diperlambat.

Di titik tertentu, kekhusyukan yang ingin ditampilkan malah berubah menjadi beban bagi orang lain.

Ada pula kesan lain yang kadang muncul. Salat berjamaah seolah menjadi panggung untuk menunjukkan hafalan. Surat yang panjang dibaca ketika sebenarnya ada banyak surat pendek yang juga bisa dipilih. Bacaan diperpanjang, gerakan diperlama, seolah-olah semakin lama seseorang berdiri dalam salat, semakin tinggi pula kualitas ibadahnya.

Padahal, saya kira, ada perbedaan antara khusyuk dan memperlihatkan kekhusyukan.

Khusyuk adalah keadaan batin. Ia tidak selalu membutuhkan durasi yang panjang untuk membuktikan dirinya. Bahkan, ketika seseorang benar-benar memahami bahwa di belakangnya ada banyak manusia dengan keadaan yang berbeda-beda, mungkin justru di situlah letak kekhusyukan seorang imam: ia mampu menahan dirinya sendiri.

Imam bukan hanya orang yang berdiri paling depan. Ia membawa keadaan seluruh jamaah di belakangnya.

Di sana ada orang tua yang lututnya mulai lemah. Ada pekerja yang sejak pagi berdiri dan mungkin baru sempat beristirahat ketika azan berkumandang. Ada anak kecil yang sedang belajar mencintai masjid. Ada orang yang sedang sakit tetapi tetap memaksakan diri datang. Ada pula orang biasa seperti saya, yang mungkin sedang berjuang mempertahankan kebiasaan salat berjamaah.

Mereka semua datang dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Karena itu, imam semestinya bukan hanya memikirkan bagaimana ia ingin beribadah, tetapi juga bagaimana jamaah dapat beribadah bersamanya.

Saya kadang berpikir, jangan-jangan dalam beberapa keadaan kita keliru memahami hubungan antara kualitas ibadah dan lamanya ibadah. Kita mengira bahwa yang lebih panjang pasti lebih baik, yang lebih banyak pasti lebih utama, dan yang lebih berat pasti lebih bernilai.

Padahal agama juga mengajarkan keseimbangan. Tidak semua yang mampu kita lakukan harus kita lakukan ketika kita sedang memimpin orang lain.

Justru kemampuan menahan diri bisa menjadi bentuk kedewasaan dalam beragama.

Saya tahu, mungkin para imam itu tidak bermaksud pamer. Mungkin mereka memang hafal banyak surat. Mungkin mereka memang menikmati salat yang panjang. Mungkin mereka merasa semakin lama berdiri, semakin dalam pula penghayatan mereka terhadap ibadah.

Tetapi ketika seseorang menjadi imam, persoalannya tidak lagi hanya tentang dirinya.

Ia tidak sedang salat sendirian.

Di belakangnya ada jamaah.

Dan karena itu, sesuatu yang mungkin terasa nikmat bagi dirinya belum tentu terasa demikian bagi orang lain.

Di sinilah saya kadang merasa ada yang keliru dalam proses mengaji kita. Kita belajar banyak tentang bacaan, hafalan, hukum-hukum salat, dan berbagai keutamaan ibadah. Tetapi mungkin kita belum cukup belajar tentang bagaimana memahami keadaan orang lain. Kita sibuk memperindah ibadah kita sendiri, tetapi lupa bahwa menjadi imam juga berarti belajar mengelola ego.

Niat berdakwah melalui contoh salat yang kita tunjukkan bisa saja akhirnya menghadirkan pesan yang berbeda. Alih-alih membuat orang semakin mencintai masjid, orang justru merasa berat untuk kembali.

Dan bagi saya, itu bukan persoalan kecil.

Masjid seharusnya menjadi tempat orang merasa ingin kembali. Bukan tempat yang membuat orang menghitung-hitung berapa lama lagi salat akan selesai.

Mungkin karena itulah saya kadang menyesal kenapa tidak saya saja yang menjadi imam. Bukan karena merasa bacaan saya paling baik atau hafalan saya paling banyak. Justru sebaliknya. Saya hanya merasa ingin mewakili jamaah yang mungkin membutuhkan sesuatu yang sederhana: salat yang tenang, khusyuk, tetapi tetap proporsional.

Secukupnya.

Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak berlebihan. Tidak mengurangi kekhusyukan, tetapi juga tidak menjadikan kekhusyukan sebagai pertunjukan. Tidak mengejar kesan bahwa kita sedang melakukan ibadah yang luar biasa, tetapi cukup memastikan bahwa orang-orang yang berada di belakang kita dapat menjalankan ibadah dengan baik.

Sebab pada akhirnya, menjadi imam bukan tentang seberapa lama kita mampu berdiri di depan.

Mungkin justru tentang seberapa baik kita mampu memahami mereka yang berdiri di belakang kita.

Populer

Mutasi (lagi)??

Materi kebersihan

Tepian Samudra Berenergi Hijau

Belum berhasil

2020 MDPL

Pergaulan global

Jejak ombak

Berburu Sunrise

Bulan menyapa

Pantun integritas