Jangan mengejar
-(Kamis, 17 September 2026)-
Ada hal-hal dalam hidup yang sebaiknya tidak dikejar. Bukan karena kita tidak peduli, bukan pula karena kita sudah tidak menginginkannya. Tetapi karena ada sesuatu yang memang selesai, pergi, atau tidak lagi menjadi bagian dari perjalanan kita.
Orang yang memilih pergi dari kita, misalnya. Cinta yang sudah berakhir. Penilaian orang lain tentang siapa kita. Bahkan uang yang pernah kita miliki, tetapi kemudian hilang dan tidak mungkin diputar kembali menjadi seperti semula.
Namun, ada satu hal yang menurut saya justru paling tidak boleh dikejar dengan cara apa pun: diri kita yang dulu.
Barangkali kita pernah mengalaminya.
Kita mengingat suatu masa ketika hidup terasa lebih ringan. Saat itu kita bahagia. Lebih dicintai. Lebih muda. Mungkin punya lebih banyak uang. Punya lebih banyak teman. Punya pekerjaan yang lebih menyenangkan. Atau sekadar merasa bahwa hidup sedang berpihak kepada kita.
Lalu suatu hari semuanya berubah.
Kita mulai membandingkan hidup yang sekarang dengan hidup yang dulu. Dalam diam kita berkata, “Andai saya bisa kembali seperti dulu.”
Saya kira, hampir semua orang pernah berada di titik itu.
Masalahnya, masa lalu bukan sebuah tempat yang bisa kita datangi kembali dengan membawa diri kita yang sekarang. Ia hanya bisa kita kunjungi melalui ingatan. Kita boleh mengenangnya, tetapi tidak mungkin tinggal di sana.
Karena itu, ada perbedaan antara mengingat masa lalu dan mengejar masa lalu.
Mengingat membuat kita belajar. Mengejar membuat kita kehilangan waktu.
Kita sering tidak sadar bahwa yang sebenarnya ingin kita dapatkan kembali bukanlah masa lalu itu sendiri, melainkan perasaan yang pernah kita rasakan di dalamnya. Kita ingin kembali bahagia seperti dulu, kembali dicintai seperti dulu, kembali merasa cukup seperti dulu.
Padahal, hidup tidak bekerja dengan cara demikian.
Keberuntungan tidak mengalir ke belakang.
Apa yang pernah membuat kita bahagia belum tentu mampu membahagiakan kita dengan cara yang sama hari ini. Orang yang dulu mencintai kita mungkin sudah berubah. Kita sendiri juga sudah berubah. Bahkan kehidupan yang kita rindukan itu sebenarnya sudah tidak ada dalam bentuk yang sama.
Sebab waktu bukan hanya mengubah keadaan. Waktu juga mengubah manusia yang menjalaninya.
Orang yang pergi mungkin memang memiliki alasan untuk pergi. Cinta yang berakhir mungkin memang telah menyelesaikan perannya. Hal-hal yang hilang pun kadang mempunyai waktunya sendiri untuk meninggalkan hidup kita.
Tidak semuanya harus dikembalikan.
Ada kehilangan yang tidak perlu diperbaiki. Ada perpisahan yang tidak perlu dibatalkan. Ada pintu yang memang lebih baik dibiarkan tertutup.
Kita sering menganggap ruang kosong sebagai sesuatu yang harus segera diisi. Begitu seseorang pergi, kita ingin mengejarnya. Begitu sebuah hubungan berakhir, kita ingin menghidupkannya kembali. Begitu sesuatu yang kita miliki hilang, kita sibuk mencarinya kembali.
Padahal, mungkin ruang kosong itu sedang disiapkan untuk sesuatu yang baru.
Jika kita terus memaksakan diri mengambil kembali apa yang telah pergi, kita mungkin tidak menyadari bahwa tangan kita sedang terlalu penuh untuk menerima sesuatu yang akan datang.
Hidup terkadang memang seperti aliran air. Ada saat ketika sesuatu datang kepada kita, ada saat ketika sesuatu pergi. Kita tidak selalu memahami mengapa perubahan itu terjadi. Tetapi perubahan tidak selalu berarti kemunduran.
Bisa jadi, sesuatu yang pergi justru sedang memberi jalan.
Karena itu, ketika hidup terasa berbeda dari sebelumnya, jangan hanya melihat apa yang telah hilang. Lihat juga siapa diri kita setelah kehilangan itu.
Mungkin kita memang tidak lagi sebahagia dulu. Tetapi bisa jadi kita sekarang lebih matang.
Mungkin kita tidak lagi memiliki sebanyak dulu. Tetapi mungkin kita sudah belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Mungkin ada orang yang tidak lagi mencintai kita. Tetapi mungkin kita sedang belajar bahwa harga diri tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang memilih tinggal.
Dan mungkin, yang paling penting, kita tidak perlu menjadi diri kita yang dulu untuk kembali merasa berharga.
Kita hanya perlu menjadi diri kita yang sekarang—dengan segala kehilangan, pengalaman, luka, kesalahan, dan pelajaran yang sudah dibawa sampai sejauh ini.
Sebab hidup bukan perjalanan untuk kembali menjadi orang yang pernah kita kenal. Hidup adalah proses menerima bahwa kita telah berubah, lalu belajar menjadi seseorang yang lebih siap menghadapi apa yang belum kita kenal.
Jadi, jangan terlalu sibuk mengambil kembali sesuatu yang sudah pergi.
Jangan habiskan hidup untuk mengejar orang yang sudah memilih jalan lain. Jangan memaksa cinta yang sudah selesai untuk kembali pada bentuk semula. Jangan pula menghabiskan tenaga untuk mendapatkan kembali diri kita yang dulu.
Barangkali yang perlu kita lakukan bukan kembali.
Melainkan melangkah.
Sebab mungkin, ketika kita berhenti mengejar apa yang telah berlalu, kita akhirnya punya cukup ruang untuk menerima apa yang sedang menuju kepada kita.
Dan pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi: apa yang harus saya kejar?
Melainkan: apa yang memang sudah waktunya saya lepaskan?