Krisis listrik
-(Sabtu, 27 Juni 2026)-
Istri saya berkata, “Listrik sering mati sekarang.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup untuk menangkap kegelisahan yang mulai akrab belakangan ini. Biasanya pemadaman terjadi saat petang—waktu ketika rumah-rumah mulai menyalakan lampu, kipas angin, televisi, dan segala perangkat yang membantu manusia modern menjalani rutinitasnya.
Ketika membuka Facebook, saya menemukan sebuah unggahan yang mengeluhkan keadaan ini. Ada satu kalimat satir yang terasa lucu sekaligus getir: sekarang bukan giliran pemadaman listrik, melainkan giliran listrik menyala. Sebuah olok-olok yang lahir dari kejengkelan, tetapi justru terasa sangat tepat menggambarkan keadaan.
Tak lama kemudian, saya membaca berita di media bahwa PLN meminta maaf atas pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa. Penyebabnya disebut karena kendala pasokan batu bara.
Bagi saya yang pernah tinggal di pedalaman Kalimantan—wilayah yang akrab dengan tambang batu bara—penjelasan itu memunculkan pertanyaan yang menggelitik: bagaimana mungkin negeri yang menggali batu bara dari perut buminya sendiri justru mengalami krisis pasokan untuk pembangkit listrik? Pertanyaan itu tentu tidak sesederhana jawaban teknis tentang distribusi atau rantai pasok. Ada lapisan persoalan yang mungkin lebih dalam.
Namun saya sadar, pemerintah tentu mengetahui persoalan ini dan barangkali sedang berusaha mencari jalan keluarnya. Saya tidak sedang hendak menggurui bagaimana negara mengelola energi. Yang menarik bagi saya justru adalah apa yang disingkap oleh peristiwa ini tentang cara hidup kita hari ini.
Listrik, dalam kehidupan modern, tidak lagi sekadar fasilitas tambahan. Ia telah menjelma menjadi kebutuhan pokok. Dulu kita mengenal kebutuhan primer sebagai pangan, sandang, dan papan. Kini rasanya daftar itu perlu diperluas. Sebab manusia modern tidak cukup hidup hanya dengan makan, berpakaian, dan memiliki tempat tinggal. Rumah tanpa listrik hari ini hampir seperti tubuh tanpa aliran darah—masih berdiri, tetapi kehilangan daya hidup.
Ketergantungan itu terlihat jelas ketika listrik padam. Yang pertama terdampak bukan hanya kenyamanan, melainkan penghidupan. Para pelaku UMKM misalnya. Saya membaca keluhan seorang penjual jus di media sosial. Ia tak bisa menyalakan blender karena listrik mati. Akibatnya sederhana, tetapi menyakitkan: ia tak bisa berjualan, dan hari itu penghasilannya hilang.
Belum lagi kehidupan masyarakat kota. Rumah-rumah berdempetan, ruang hidup makin sempit, sirkulasi udara tak selalu baik. Banyak keluarga bergantung pada AC atau kipas angin untuk sekadar membuat udara bisa ditoleransi. Saat listrik padam, rumah berubah menjadi ruang pengap yang memerangkap panas. Dalam kondisi seperti itu, pemadaman bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan pengalaman yang melelahkan secara fisik dan mental.
Peristiwa seperti ini juga mengingatkan kita pada satu hal penting: terlalu bergantung pada satu sumber energi selalu mengandung risiko. Batu bara memang selama ini menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional. Tetapi ketergantungan yang berlebihan pada satu komoditas membuat sistem menjadi rapuh. Begitu pasokan terganggu, dampaknya menjalar ke mana-mana.
Padahal negeri ini memiliki banyak sumber energi lain yang belum dimanfaatkan secara optimal. Matahari bersinar hampir sepanjang tahun. Angin, gelombang laut, bahkan sampah memiliki potensi sebagai sumber energi alternatif. Semua itu tersedia di sekitar kita, menunggu untuk dikelola dengan keseriusan dan visi jangka panjang.
Kadang saya membayangkan bagaimana kehidupan manusia tanpa listrik. Secara historis, manusia tentu pernah hidup tanpa itu. Peradaban tidak runtuh hanya karena belum ada sakelar atau kabel. Tetapi generasi hari ini lahir di dunia yang hampir seluruh denyutnya digerakkan listrik. Sejak bangun tidur hingga kembali terlelap, nyaris semua aktivitas bersandar pada energi ini.
Karena itu, hidup tanpa listrik bagi generasi sekarang bukan sekadar soal kembali ke masa lalu. Itu hampir seperti meminta ikan membayangkan hidup tanpa air.
Mungkin di situlah letak pelajaran dari pemadaman-pemadaman ini. Listrik bukan sekadar soal lampu yang menyala atau perangkat yang berfungsi. Ia adalah fondasi sunyi yang menopang peradaban modern. Dan justru karena perannya begitu mendasar, kita tak bisa terus bergantung pada sumber energi yang sama tanpa memikirkan masa depan.
Barangkali sudah saatnya kita memandang krisis listrik bukan sekadar gangguan sementara, melainkan alarm yang mengingatkan bahwa sistem energi kita perlu dibenahi. Sebab pertanyaan sesungguhnya bukan lagi bagaimana menyalakan listrik hari ini, melainkan bagaimana memastikan cahaya itu tetap ada untuk esok.