Lingkar ketakutan
-(Rabu, 10 Juni 2026)-
Pukul tiga pagi saya terbangun dan langsung melihat layar ponsel. Angka di sana menunjukkan pukul 03.00. Saya tidak segera beranjak dari tempat tidur, tetapi mata juga tak ingin kembali terpejam.
Seperti banyak orang yang terjaga pada jam-jam ganjil, saya membuka situs berita. Di sana berderet kabar tentang penangkapan sejumlah pejabat yang diduga terlibat tindak pidana korupsi. Ada yang terkait program makanan itu, ada pula yang berkaitan dengan izin imigrasi. Yang satu ditangani kejaksaan, yang lain oleh KPK. Dalam satu hari, publik seperti dipaksa menelan dua kenyataan pahit sekaligus: bahwa korupsi masih ada, dan bahwa kepercayaan selalu lebih mudah runtuh daripada dibangun.
Entah mengapa, setelah membaca berita-berita itu, mata saya terasa pedih dan berkaca-kaca. Bukan semata karena marah atau kesal, melainkan juga karena sedih. Ada perasaan lelah yang sulit dijelaskan ketika berulang kali menyaksikan cerita yang serupa datang dari orang-orang yang seharusnya menjaga amanah.
Di saat yang sama, nilai rupiah terus bergerak melemah terhadap dolar. IHSG pun ikut tertekan. Berbagai penjelasan bermunculan. Ada yang menyebut penyebabnya adalah kebijakan yang keliru. Ada yang menuding program-program tertentu sebagai biang masalah. Namun benarkah sesederhana itu?
Saya memiliki dugaan lain, meski tentu saja hanya sebatas hipotesis. Bisa jadi sebagian gejolak yang terjadi bukan semata-mata akibat kebijakan pemerintah, melainkan juga karena ada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap arah kekuasaan dan ekonomi. Dalam setiap perubahan besar, selalu ada yang diuntungkan dan ada yang merasa kehilangan. Ada yang memperoleh akses baru, ada pula yang tersingkir dari lingkaran yang selama ini memberi mereka pengaruh.
Ketika kepentingan bertabrakan, kekecewaan kadang berubah menjadi perlawanan. Dan di era pasar yang bergerak cepat, perlawanan tidak selalu dilakukan di ruang politik. Ia bisa muncul dalam bentuk sentimen, opini, spekulasi, atau narasi yang terus dipompa hingga menjadi ketakutan bersama. Pasar pada akhirnya bukan hanya soal angka, tetapi juga soal psikologi. Ketika rasa takut menyebar, grafik sering kali bergerak mengikuti arah emosi.
Media sosial kemudian menjadi pengeras suara yang sangat efektif. Ketakutan beredar lebih cepat daripada penjelasan. Potongan informasi lebih mudah viral daripada konteks yang utuh. Para kreator konten menemukan pasar yang selalu lapar akan kecemasan. Sebagian media arus utama pun terkadang ikut terseret dalam arus yang sama. Akibatnya, publik dibanjiri alarm dari segala arah, sementara kemampuan untuk membedakan antara fakta, analisis, dan spekulasi menjadi semakin tipis.
Lalu apa solusinya? Apakah pergantian menteri atau pejabat tinggi otomatis akan menyelesaikan persoalan?
Saya tidak yakin. Jika memang ada permainan spekulatif yang sengaja memanfaatkan kepanikan, maka yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian nama di kursi kekuasaan, melainkan kemampuan negara untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, menegakkan aturan secara adil, dan menjaga kepercayaan publik. Sebab ekonomi tidak hanya berdiri di atas kebijakan, tetapi juga di atas keyakinan bahwa sistem masih bekerja sebagaimana mestinya.
Sementara itu, kita akan terus menyaksikan kegelisahan, terutama dari kalangan menengah dan atas yang memiliki investasi di pasar keuangan. Ketika rupiah melemah dan saham turun, banyak orang merasa nilai kerja keras mereka perlahan terkikis. Perasaan kehilangan itu nyata. Dan seperti semua bentuk kehilangan, ia selalu mencari penjelasan, bahkan kadang mencari kambing hitam.
Di titik itulah semuanya berubah menjadi lingkaran yang sulit diputus. Angka yang melemah melahirkan ketakutan. Ketakutan melahirkan narasi. Narasi memperbesar kepanikan. Kepanikan kemudian kembali menekan angka. Seperti roda yang terus berputar tanpa ada yang benar-benar tahu siapa yang pertama kali mendorongnya.
Mungkin karena itulah saya merasa perlu menjauh sejenak dari topik ekonomi dalam tulisan-tulisan berikutnya. Bukan karena persoalan ini tidak penting, melainkan karena hidup ternyata lebih luas daripada grafik dan kurs mata uang.
Saya ingin kembali melihat hal-hal kecil di sekitar saya. Mendengarkan suara pagi ketika berjalan kaki. Memperhatikan orang-orang yang membuka warung sebelum matahari terbit. Mengamati percakapan sederhana yang tidak pernah masuk laporan ekonomi mana pun, tetapi justru membuat kehidupan tetap berjalan.
Sebab ada batas di mana manusia harus berhenti menghitung masa depan dan mulai hadir pada hari ini. Tidak semua hal bisa kita kendalikan. Tidak semua grafik bisa kita luruskan. Dan tidak semua kecemasan perlu dipelihara.
Meski demikian, ironi tetap ada.
Ketika saya mengangkat kepala dan melihat apa yang berada tepat di depan mata, yang muncul tetap saja nilai rupiah dan IHSG yang sedang melorot.
Barangkali memang hanya itu yang bisa dilakukan untuk sementara waktu: menerimanya sebagai bagian dari kenyataan, lalu menjalani hari seperti biasa.
Dan ya, menikmati semuanya semampu kita.