Puasa Dawud
-(Sabtu, 6 Juni 2026)-
Dua bulan terakhir saya menjalani salah satu puasa sunnah yang dikenal sebagai puasa Dawud: satu hari berpuasa, satu hari tidak, berlangsung secara berselang-seling. Secara teori, pola ini tampak sederhana. Namun dalam praktiknya, ia tidak bisa disebut mudah. Menahan diri dari godaan makan, betapapun terbiasanya kita, tetaplah sebuah latihan yang menuntut kesungguhan.
Saat memulainya, ada dua niat yang saya bawa. Pertama, tentu sebagai bentuk ibadah, mengikuti anjuran Nabi. Kedua, sebagai ikhtiar menjaga kesehatan. Logikanya sederhana: dengan berpuasa secara rutin, saya menciptakan defisit kalori yang semestinya membantu mengendalikan berat badan. Syukur-syukur, berat badan bisa bergerak menuju angka yang lebih ideal.
Namun pengalaman mengajarkan bahwa teori tidak selalu berjalan lurus dengan kenyataan. Saya teringat bulan Ramadhan lalu. Selama sebulan penuh berpuasa, berat badan saya ternyata tidak berkurang. Mungkin justru bertambah. Di situlah saya menyadari bahwa puasa, dengan sendirinya, tidak otomatis menghasilkan defisit kalori. Ada faktor lain yang ikut bermain, terutama perilaku makan di luar waktu puasa.
Karena itulah, dalam menjalani puasa Dawud saya berusaha menjaga satu hal yang sering luput diperhatikan: jangan sampai hari tidak berpuasa berubah menjadi ajang balas dendam. Sebab sangat mungkin seseorang menahan lapar hari ini, lalu menggantinya dengan porsi yang lebih besar keesokan harinya. Jika itu yang terjadi, manfaat yang diharapkan bisa lenyap begitu saja.
Alhamdulillah, sejauh ini puasa Dawud mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berat badan saya relatif stabil. Memang belum mencapai angka yang saya inginkan, tetapi saya merasakan perubahan kecil yang cukup berarti. Perut terlihat lebih rata dan tubuh terasa lebih terjaga. Mungkin bagi orang lain itu hal sepele, tetapi bagi saya, perubahan kecil sering kali menjadi tanda bahwa proses sedang berjalan ke arah yang benar.
Sebelumnya saya sudah mencoba berbagai metode diet. Mulai dari intermittent fasting hingga beberapa pendekatan lain. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa tidak ada satu pola yang cocok untuk semua orang. Tubuh memiliki bahasanya masing-masing. Apa yang berhasil bagi seseorang belum tentu berhasil bagi orang lain. Dan sejauh ini, saya merasa lebih cocok dengan puasa Dawud. Barangkali karena di dalamnya ada perpaduan antara disiplin fisik dan makna spiritual. Ada tujuan kesehatan yang berjalan beriringan dengan tujuan ibadah. Mungkin itulah yang membuatnya lebih mudah saya jalani dalam jangka panjang.
Meski demikian, puasa Dawud memiliki tantangan yang khas. Karena jadwalnya terus bergantian, hari puasa dalam setiap pekan selalu berpindah. Kadang ia jatuh pada hari-hari yang kurang ideal. Salah satunya ketika bertepatan dengan Jumat Krida. Pada hari seperti itu saya tetap harus berolahraga dalam keadaan berpuasa. Tidak selalu nyaman, tetapi sejauh ini bisa saya lalui dengan baik. Saya tetap bergerak, tetap beraktivitas, dan tetap mempertahankan ritme puasa yang sudah saya pilih. Bahkan di luar hari Jumat, dan meski dalam kondisi puasa, saya tetap menjalani aktivitas rutin jalan pagi.
Tantangan serupa juga hadir saat akhir pekan. Dua hari libur yang biasanya identik dengan suasana santai dan berbagai godaan kuliner, selalu menyisakan satu hari untuk berpuasa. Minggu ini mungkin hari Sabtu, minggu berikutnya bergeser ke hari Minggu, lalu terus bergantian tanpa kompromi. Justru pada hari-hari libur itulah godaan terasa lebih besar. Tidak ada kesibukan yang mengalihkan perhatian, tidak ada rutinitas kerja yang membantu mengatur waktu. Yang tersisa adalah kemampuan mengendalikan diri. Dan alhamdulillah, sampai hari ini saya masih bisa melewatinya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar puasa Dawud bukanlah rasa lapar. Lapar hanya tamu yang datang dan pergi. Tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Sebab setiap pilihan hidup yang baik tidak ditentukan oleh seberapa bersemangat kita saat memulainya, melainkan oleh kemampuan untuk terus menjaganya ketika semangat itu mulai biasa-biasa saja. Di titik itulah puasa Dawud mengajarkan pelajaran yang lebih dalam: bahwa disiplin bukanlah perkara menahan makan sehari, melainkan kesediaan untuk terus kembali pada pilihan yang sama, hari demi hari, secara bergantian namun tetap setia.