Perpus sepi

-(Senin, 8 Juni 2026)-

Sebetulnya saya cukup antusias ketika memutuskan berkunjung ke perpustakaan regional di kota ini pada Sabtu itu. Dari kejauhan saja, gedungnya sudah menarik perhatian. Bangunannya megah, besar, dan menjulang tinggi. Kesan pertama yang muncul adalah bahwa gedung ini relatif baru—mungkin baru beroperasi tiga atau empat tahun terakhir. Sebuah bangunan yang tampak dibangun dengan keseriusan dan harapan besar terhadap masa depan literasi.

Saya tiba beberapa menit sebelum pukul delapan pagi. Karena perpustakaan belum buka, saya memanfaatkan waktu untuk membuat kartu anggota secara mandiri melalui komputer yang tersedia di lobi. Prosesnya cukup mudah dan tidak memakan waktu lama. Setelah itu, saya mengisi buku tamu melalui komputer lain yang memang disediakan untuk keperluan tersebut. Ketika nomor anggota yang baru saya peroleh berhasil terdaftar, saya mendapati diri sebagai pengunjung pertama hari itu.

Pukul delapan lewat beberapa menit. Namun, belum ada petugas yang berjaga di meja resepsionis. Saya sempat mencoba masuk ke area koleksi buku dan bertemu dengan petugas kebersihan. Mereka menjelaskan bahwa belum ada petugas perpustakaan yang hadir, sehingga mereka tidak berwenang mengizinkan saya masuk dan mulai melihat-lihat koleksi. Saya memahami posisi mereka. Tanggung jawab menjaga operasional perpustakaan tentu bukan berada di pundak para petugas kebersihan.

Karena petugas resmi belum juga datang, saya diminta menunggu di luar gedung dan tidak berada lagi di area lobi. Saya pun keluar dan menunggu.

Beberapa saat saya mencoba bersabar. Namun waktu terus berjalan. Jam sudah lewat lebih dari lima belas menit dari jadwal layanan yang tercantum. Pada titik itu saya mulai berpikir bahwa waktu saya terlalu berharga untuk dihabiskan dalam penantian yang tidak jelas ujungnya. Akhirnya saya memutuskan pulang. Mungkin saya akan kembali Sabtu depan, atau di kesempatan lain. Mudah-mudahan pengalaman pertama ini tidak menjadi alasan bagi saya untuk enggan datang lagi.

Dalam perjalanan meninggalkan perpustakaan, pikiran saya terus bekerja. Saya berusaha berprasangka baik. Bisa saja hari itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sehingga petugas terlambat hadir. Saya berharap itu adalah sebuah pengecualian, bukan gambaran keseharian layanan perpustakaan tersebut.

Namun, seperti lazimnya manusia, pikiran negatif sesekali mencoba menyelinap. Jangan-jangan keterlambatan itu dianggap bukan masalah karena memang hampir tidak ada pengunjung yang datang pada pagi hari. Jangan-jangan saya justru terlalu pagi. Lagi pula, selama berada di sana, saya memang tidak melihat seorang pun selain diri saya sendiri.

Tetapi justru di situlah muncul pertanyaan yang lebih besar. Mengapa perpustakaan yang begitu megah tampak begitu sepi? Apakah minat masyarakat terhadap perpustakaan memang terus menurun? Apakah buku perlahan kehilangan daya tariknya di tengah banjir informasi yang tersedia dalam genggaman?

Bisa jadi dugaan itu keliru. Satu pagi yang sepi tentu tidak cukup untuk menarik kesimpulan tentang kondisi literasi sebuah kota. Namun pengalaman kecil itu tetap meninggalkan kegelisahan. Sebab perpustakaan bukan sekadar gedung yang menyimpan buku. Ia adalah ruang perjumpaan antara rasa ingin tahu dan pengetahuan, antara pertanyaan dan kemungkinan jawaban. Gedung yang megah hanya akan menjadi bangunan kosong jika tidak dihidupkan oleh para pembacanya.

Karena itu, jika memang kunjungan ke perpustakaan semakin menurun, persoalannya tidak berhenti pada disiplin jam layanan atau jumlah pengunjung semata. Kita perlu memikirkan kembali bagaimana menjadikan perpustakaan relevan bagi masyarakat, terutama bagi anak-anak muda. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya ramai atau sepinya sebuah gedung, melainkan keberlangsungan budaya membaca itu sendiri.

Dan saya berharap, ketika nanti kembali datang, yang saya temukan bukan hanya pintu yang sudah terbuka tepat waktu, tetapi juga tanda-tanda bahwa perpustakaan masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Populer

Waktu, Alam, Manusia

Defisit Kalori

Rel alternatif

Haus validasi

Filsafat Kebahagiaan

Perbendaharaan Go Green

Karya kreatif

Mesin birokrasi

Irigasi listrik

Kipas mubazir