Pelangi bulan Juni
-(Senin, 22 Juni 2026)-
Sore itu saya melihat pelangi membentang di langit. Seketika sebuah ingatan lama muncul begitu saja: konon para bidadari turun dari langit bersamaan dengan hadirnya pelangi. Saya tidak tahu dari mana asal cerita itu. Entah siapa yang pertama kali menanamkannya di kepala saya. Namun hingga hari ini, setiap kali melihat pelangi, mitos itu selalu datang lebih dulu daripada penjelasan ilmiah apa pun.
Barangkali itulah yang membuat pelangi selalu terasa istimewa. Ia bukan sekadar peristiwa alam, melainkan pintu yang membuka kembali ruang-ruang kenangan yang lama tersimpan.
Saat itu saya sedang berada di sebuah bandara. Langit sore tampak muram, diselimuti mendung dan gerimis tipis. Namun di balik awan yang menggantung, masih tersisa cahaya matahari yang cukup untuk membiaskan warna-warna ke langit. Saya tidak benar-benar memahami bagaimana proses itu terjadi. Mungkin penjelasannya mudah ditemukan di internet. Tetapi pada saat itu, saya lebih tertarik pada keajaiban yang tampak di depan mata daripada rumus yang menjelaskannya.
Warna-warna pelangi terlihat begitu nyata. Seolah seseorang sedang menggoreskan kuas raksasa di langit yang kelabu. Saya buru-buru mengabadikannya dengan smartphone, khawatir lengkungan warna itu menghilang sebelum sempat saya simpan.
Hari itu cuaca di kota tersebut memang berubah-ubah seperti suasana hati yang sulit ditebak. Pagi sempat gerimis, lalu matahari bersinar terik. Menjelang siang hujan kembali turun, sebelum akhirnya langit terang lagi. Semua itu terjadi pada bulan Juni, bulan yang dalam bayangan saya seharusnya lebih akrab dengan kemarau daripada hujan.
Karena itulah gerimis sore itu mengingatkan saya pada sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni. Ada satu larik yang selalu tinggal dalam ingatan saya: tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Setiap kali kalender memasuki bulan ini, puisi itu hampir selalu datang kembali, seolah memiliki jalannya sendiri menuju ingatan.
Mungkin setiap orang memiliki kalimat-kalimat tertentu yang menempel lebih lama daripada yang lain. Kalimat yang bukan hanya dibaca, tetapi diam-diam menjadi bagian dari pengalaman hidupnya. Bagi saya, puisi itu adalah salah satunya.
Dan sore itu, hujan bulan Juni benar-benar turun. Bukan sebagai metafora, melainkan sebagai kenyataan yang menyentuh landasan bandara, membasahi jalan, dan menemani langkah saya untuk pulang. Pelangi yang muncul sesudahnya seakan menjadi penanda bahwa setiap perjalanan, sejauh apa pun, selalu menyisakan sesuatu untuk dikenang.
Di bandara itu, di antara gerimis yang singkat dan pelangi yang perlahan memudar, saya merasa sedang menyaksikan pertemuan antara kenangan, puisi, dan kehidupan yang nyata. Semuanya hadir dalam satu sore yang sederhana. Dan seperti hujan bulan Juni yang diam-diam tetap turun meski tidak semestinya, perasaan kepada kekasih hati rupanya juga menetap dengan caranya sendiri: tenang, tabah, dan tak banyak meminta untuk dipahami.