Menunggu pesawat
-(Minggu, 21 Juni 2026)-
Tulisan ini saya buat di dalam pesawat. Yang sebelum berangkat, saya sempat membayangkan kenaikan harga tiket akibat mahalnya avtur akan membuat kursi-kursi pesawat lebih banyak kosong. Namun kenyataannya tidak demikian. Pesawat yang saya tumpangi tetap dipenuhi penumpang.
Mungkin karena pada akhirnya banyak perjalanan yang tidak bisa ditunda. Orang tetap harus pulang, bekerja, menghadiri pertemuan, atau menemui orang yang mereka sayangi. Ketika kebutuhan untuk bepergian lebih besar daripada keberatan terhadap harga, tiket tetap akan dibeli. Bahkan mungkin sebagian orang harus mengambilnya dari tabungan yang mereka simpan untuk keperluan lain.
Namun tulisan ini bukan tentang harga tiket atau industri penerbangan. Yang menarik perhatian saya justru adalah sesuatu yang lebih sederhana: bagaimana manusia menghadapi waktu tunggu.
Di dalam pesawat, kita sedang menunggu. Menunggu pesawat lepas landas, menunggu awan bergeser di balik jendela, menunggu roda menyentuh landasan tujuan. Pada penerbangan yang panjang, menunggu bahkan menjadi aktivitas utama yang tidak bisa dihindari. Dan rupanya, menunggu bukan perkara yang mudah.
Manusia tampaknya tidak terlalu kesulitan bekerja keras, tetapi sering kali kesulitan ketika tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Kebosanan perlahan muncul seperti kabut tipis. Mula-mula hampir tak terasa, lalu menebal dan memenuhi ruang batin.
Barangkali karena itu manusia selalu mencari sesuatu untuk mengisi jeda. Bukan hanya jeda beberapa jam dalam penerbangan, melainkan juga jeda-jeda yang lebih besar dalam hidup: menunggu pekerjaan yang diharapkan datang, menunggu keadaan membaik, menunggu masa depan yang bentuknya belum jelas.
Tidak semua orang mampu berdamai dengan ruang tunggu semacam itu. Sebagian berusaha melarikan diri dari rasa hampa yang muncul. Dalam bentuk yang ekstrem, pelarian itu bahkan bisa menyeret seseorang pada hal-hal yang merusak dirinya sendiri—alkohol, obat-obatan, atau berbagai bentuk pelarian lain yang perlahan menggerogoti jiwa dan raganya.
Di pesawat, bentuk pelariannya tentu lebih sederhana. Hampir semua orang segera meraih handphone begitu duduk di kursinya. Ada yang menonton film, bermain gim, mendengarkan musik, atau menelusuri media sosial tanpa tujuan yang benar-benar jelas. Perangkat kecil itu menjadi alat yang efektif untuk mengalihkan perhatian dari kenyataan bahwa kita sedang menunggu.
Menariknya, yang kita cari sering kali bukan cara menikmati penerbangan, melainkan cara melupakan bahwa kita sedang berada di dalamnya.
Dan saya pun tidak berbeda. Saya memang tidak menghabiskan waktu untuk menonton atau bermain gim. Sebagai gantinya, saya menulis. Namun jika saya jujur, aktivitas ini pun mungkin tidak jauh berbeda. Tulisan yang sedang Anda baca lahir dari usaha yang sama: mendistraksi diri dari kebosanan selama perjalanan.
Di situlah saya menyadari sebuah ironi. Saya sering mengatakan bahwa saya ingin hadir sepenuhnya pada saat ini. Ingin menikmati perjalanan sebagaimana adanya. Ingin benar-benar merasakan pengalaman terbang tanpa tergesa-gesa menuju tujuan. Namun pikiran tampaknya memiliki agenda sendiri. Ia terus bergerak, melompat ke masa lalu, lalu berlari ke masa depan. Seolah tidak pernah betah tinggal di tempat yang sama terlalu lama.
Mungkin memang begitulah cara kerja pikiran manusia. Ia diciptakan untuk mengembara. Karena itu, semakin saya mencoba menghentikannya, semakin riuh pula ia berbicara. Barangkali yang dibutuhkan bukanlah perlawanan, melainkan penerimaan. Bukan memaksa pikiran untuk diam, tetapi mengambil jarak yang cukup untuk mengamatinya.
Dan mungkin, justru ketika kita berhenti sibuk mengendalikan pikiran, kita menemukan jeda yang selama ini dicari. Sebuah keheningan yang tidak lahir karena pikiran berhenti bergerak, melainkan karena kita tidak lagi harus mengikuti ke mana pun ia pergi.